Thursday, December 24, 2009

Surat yang tak terkirim



Hai,teman. Salam hangat selalu, sahabat. Apa kabarmu di sana? Sudah lama kita tak bersua. Rindu aku tuk bertemu denganmu. Hmm,ironis sekali ya. Dulu, dikala kita masih bersama, menghabiskan waktu seharian penuh dengan hal-hal gila kesukaan kita, aku tak pernah akan berani berujar seperti ini. Tentu saja malu sekali rasanya untuk mengutarakan perasaanku padamu, kau pun pasti begitu kan. Ahahaha. Tampaknya aku masih temanmu yang paling mengerti dirimu.
Jadi bagaimanakah keadaanmu di sana? Banyak sebenarnya yang ingin kutanyakan kepadamu, sebanyak putaran jarum jam yang telah terlewati semenjak terakhir kali kita bertemu. Kali ini, banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu. Tampaknya kita butuh begadang semalam suntuk dengan ditemani entah berapa gelas kopi dan berapa batang rokok seperti yang biasa kita lakukan dulu. Winamp mu harus kamu hidupkan dengan ratusan lagu di playlistnya agar kita bisa bersenandung sesekali di sela-sela obrolan kita.  Dan tawamu teman, aku masih ingat suara tawamu, dan aku adalah orang yang paling ahli dalam membuatmu tertawa. Aku masih ingat bagaimana raut wajahmu ketika menahan tawa karena tidak mau kalah dengan guyonanku. Aku tahu, teman, dulu aku paling suka memberimu semacam teka-teki yang kamu anggap jayuz dan lebay namun tetap juga bisa membuatmu tersenyum. Tanpa sepengetahuanmu untuk itu semua terkadang aku harus mencuri-curi baca majalah Bobo untuk mendapatkan teka-teki yang seru untuk kujadikan bahan tawamu. Hmm, aku terlalu malu untuk membelinya di depan orang-orang yang banyak berseliweran di kios buku. Aku suka melihatmu tertawa meskipun aku harus berbuat hal-hal konyol yang kamu anggap tak dewasa sama sekali.
Sekarang keadaannya sudah banyak berubah, teman. Kau sudah jauh di sana, ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya dari tempatku saat ini. Aku tak dapat menjumpaimu kecuali dari situs-situs pertemanan yang begitu marak akhir-akhir ini. Hmm, Kau tahu kan teman, aku tak hobi dengan hal-hal seperti ini. Aku orangnya memang terlalu kuno untuk membuat akun di situs pertemanan, bagiku bahkan lebih asyik jika kutulis sebuah surat kertas dan kukirimkan kepadamu. Walaupun suratku akan sampai kepadamu begitu lama, namun aku menikmatinya. Menunggu-nunggu kabar darimu, temanku tersayang. Seringkali setiap ku pulang ke rumah dengan buru-buru kulihat ke bawah pintu depan rumahku, apakah ada surat yang diselipkan tukang pos buatku, surat darimu kuharap. Yah, walaupun kadang kebanyakan kecewanya karena tak ada juga kabar darimu.


Di sini, di atas kertas ini, aku bisa berekspresi dengan bebas, aku bisa memilih kata-kata dengan lugas untuk kusampaikan kepadamu. Kau tahu sendirilah, aku tak pandai berkata-kata jika langsung berbicara denganmu. Aku pernah bercerita padamu kan, teman, bahwa aku seringkali membuat konsep dulu di secarik kertas jika ingin menelepon gadis pujaanku. Dan kau sering menertawakanku akan hal ini. Yah, kamu memang teman terbaikku.
Namun akhirnya aku juga ikutan menjadi korban dalam membuat akun di sebuah situs pertemanan atas anjuranmu, teman. Aku terlalu rindu dengan kalian semua, jadi kuceraikan sepi dan kucoba tinggalkan ia jauh di belakangku. Amboi, aku menemukanmu di sana, teman. Walaupun Cuma fotomu yang terpampang di sana. Kubaca berulang-ulang profilmu, tentang dirimu, buku dan musik kesukaanmu, hobimu, segala hal tentang dirimu yang kau tulis di sana. Kutemukan diriku masih mengenal dekat dengan dirimu. Yah, itu kamu. Senyummu masih sama di foto itu dengan senyummu yang kulihat beberapa tahun silam saat terakhir kali kita bertemu. Dan kulihat saat ini kehidupanmu pun telah jauh beda dari yang kuingat. Aku terkejut dengan begitu banyaknya teman yang kamu miliki di daftar temanmu. Aku sampai harus berkali-kali membalik halaman ini untuk melihat semua teman yang kau miliki. Hanya beberapa saja yang kukenal, selebihnya adalah wajah yang begitu asing bagiku. Aku bangga denganmu, begitu banyak orang-orang disekelilingmu. Dan kuperhatikan setiap kau buat status baru, setidaknya belasan temanmu akan langsung memberikan comment tentangmu. Aku? Hmm, aku tak seberuntung dirimu teman. Hingga saat ini hanya beberapa saja teman yang kumiliki. Tapi aku tetap bahagia, setidaknya ada kamu yang kumiliki di daftar temanku.


Tapi kulihat belakangan ini ada yang berbeda dengan dirimu, teman. Kau kehilangan keceriaanmu sebagaimana dirimu biasanya. Ku baca keputusasaan dan kegundahan selalu yang kau tulis untuk statusmu. Ada apa denganmu teman? Hal ini sungguh membuatku sedih. Adakah benar seperti itu keadaanmu di sana. Sungguh  begitu ingin diriku berlari ke tempatmu, menemuimu, dan bertanya langsung perihal keadaanmu. Tak enak hatiku melihat dirimu dirundung sedih, teman. Tapi kau jauh di sana saat ini, tak dapat lagi kujangkau. Keadaanku pun kini sudah benar-benar mengenaskan. Andaikan ada sedikit saja semangat berlebih yang kupunya, rela tentunya diriku memberikannya kepadamu sekedar membuatmu jadi sedikit bersemangat menghilangkan gundah gulanamu. Tapi ku tidak punya semangat sebanyak itu, teman. Semangat hidupku hanya tersisa untukku bertahan hidup hingga sore nanti, dan ketika sore tiba aku harus membentuk semangat baru lagi untuk bertahan hingga esok paginya. Begitu seterusnya berulang dalam keseharianku. Dan tak jarang kutemukan diriku tak punya semangat hidup sama sekali.


Kumohon teman, berusahalah untuk mengatasi semuanya. Aku tahu kamu punya potensi untuk bisa mengatasi semua itu. Tak rela rasanya diriku untuk melihatmu bersedih. Andaikan ku bisa, akan kulakukan semua hal untuk membuatmu tersenyum kembali. Akan ku carikan lagu-lagu baru dari penyanyi favoritmu, ku copykan buatmu film-film tipikal kesukaanmu. Kubelikan bunga kesukaanmu dengan sisa-sisa uang bulananku. Ku pelajari kunci lagu kesayanganmu untuk kugenjreng dengan gitar di hadapanmu. Untuk membuatmu tersenyum, teman, aku rela menurunkan derajat diriku hingga dianggap konyol oleh kebanyakan orang dan juga dirimu terkadang. Namun sayangnya aku tak lagi bisa melakukan itu semua. Di samping jarak kita yang sudah terpisah jutaan panah, aku benar-benar tak punya kelebihan semangat hidup seperti dulu diriku yang kamu kenal. Untuk menulis ini saja harus kugunakan sisa-sisa semangat hidupku  dan kukumpulkan semuanya dalam untaian kata, jadi janganlah kecewa jika kau lihat tulisanku agak pesimistis kelihatannya. Ingin rasanya kuberdoa kepada yang di atas sana demi kebahagiaanmu selalu. Namun untuk ini pun aku sudah tak tahu lagi apakah ada doaku yang bisa terkabulkan, khawatir hanya akan mengecewakanmu saja.


Ayolah teman, bangkit dan kuatkan dirimu. Kamu tidak cocok dengan kesedihan. Wajahmu tidak sesuai dengan kemurungan. Senyummu indah, teman. Bahkan rembulan pun akan malu tampil malam ini, kalah oleh senyumanmu. Aku rela tuhan pindahkan kesedihanmu untukku dan digantikan dengan kebahagiaanku untukmu. Bagiku tak apa demikian, karena sudah cukup bersahabat akrab diriku dengan kesedihan dan kesepian itu, jangan pula kiranya dirimu sampai harus merasakannya.
Aku memang tak tahu apa yang membuatmu gundah dan larut dalam kesedihan di sana. Jika ini masalah cinta, aku bersedia membantumu tuk mencarikan yang terbaik bagimu untuk menggantikan dia yang telah menyakiti hatimu. Jika ini masalah pekerjaanmu, aku akan bantu kamu menyelesaikannya, kalau perlu kita begadang lagi seperti dahulu. Setidaknya awalilah dengan optimisme yang tinggi teman, bahwa kamu bisa melalui semua ini. Kamu sadar kan, bahwa sebelum dirimu mendapatkan masalah itu kamu bisa hidup dengan wajar, bisa tertawa, bisa bahagia, lalu kenapa sekarang semuanya itu terhambat hanya karena sekelumit masalah ini teman. Kamu harus belajar untuk merelakan, akan lebih baik bagimu untuk kehilangan di saat kenangan bersamanya masih sedikit ketimbang saat dirimu telah bersamanya begitu lama dan berujung perpisahan. Toh, kalaupun dia memang jodohmu, dia pasti akan kembali lagi padamu. Biarkan tuhan yang bekerja untuk itu semua, teman. Cukupkan usahamu jika memang telah maksimal, jangan kau permalukan dirimu lebih dari ini. Percalah teman, semuanya akan indah pada waktunya.


Ku harap setelah membaca ini, kamu akan sedikit lega dan kembali bersemangat dalam menjalani hidupmu. Kau tahu, aku begitu bahagia jika membaca statusmu yang berisi optimisme, membaca canda-candaanmu dengan temanmu yang lainnya. Ada semangat hidup yang mengalir dari sana kepadaku. Begitu banyak orang yang peduli denganmu, teman, jangan kecewakan mereka. Jika kamu memiliki cinta yang begitu besar kepada seseorang yang mengecewakanmu, mengapa kamu tidak bisa memberikan sedikit saja cintamu itu kepada orang-orang yang begitu peduli kepadamu selama ini.
Bye Then..

No comments:

Post a Comment