Wednesday, November 3, 2010

Road to the last chapter, huh?

Sudah awal bulan lagi. Sementara beberapa kalangan di luar sana tengah berbahagia menikmati hasil kerja bulanan mereka, di sini masih juga dengan serba berbagai hal dalam hal berlawanan tentunya. Kali ini betul-betul harus belajar bagaimana caranya bertahan hidup dengan apa pun yang ada. Bermanfaat juga sih keadaan seperti ini, jadi lebih menghargai setiap yang ada. Sekarang gak pernah lagi menyia-nyiakan apa yang dimiliki walau pun itu kelihatan tak layak oleh sebagian besar orang.

There is no way home

It trully happen on me. Benar-benar gak punya yang namanya rumah, tempat untuk pulang. Mungkin itu sebabnya hati ini gak pernah merasa tenang. Bawaannya selalu saja gelisah, sama sekali gak ada rasa nyaman dan tenang. Mungkin untuk beberapa waktu saja kutemukan ketentraman itu, di rumahNYA. Selain dari itu saya merasa bagaikan musafir yang tak jelas arah tujuan, perjalanan yang begitu panjang sementara jiwa dan raga ini sudah pula menjerit karena terjerat kelelahan yang semakin mencapai kulminasi.

Ujung dari semua ini ?

Hm, Saya semakin pesimis apa ada akhir dari semua ini. Suatu tempat dimana saya bisa menetap, merebahkan tubuh lelah ini tanpa ada rasa was was dan cemas. Dulu, sebelum memulai semua ini, perjalanan panjang ini sempat saya berfikir dan merencanakan tujuan akhir yang kan saya capai. Saya tuliskan semua dalam ingatan harapan agar terangkat semangat setiap patah arang jiwa. Namun seiring semakin jauhnya perjalanan dan semakin banyaknya rintangan semua itu terlupakan karena sibuk menghadapi segala permasalahan ini.
Sekarang hendak ke mana? Andaikan ada jawaban dari semua ini tentu kan mudah perjalanan ini. Tak ada rambu yang mengingatkan di tengah perjalanan. Sementara teman sesama musafir telah pula banyak menemukan jalan lain masing-masing, semakin dekat ke arah tujuannya. Sementara saya?
Kesepian.

No comments:

Post a Comment