Saturday, April 17, 2010

Learning to Live ( Bunga untuk si tukang bunga)


Dan dia memacu sepeda motor empat taknya dengan teramat kencang menembus embun pagi yang baru saja bermanja dengan malam. Saat itu pukul tiga lewat empat puluh dini hari menjelang subuh, di Yogyakarta. Setelah berkonfrontasi dan mengajukan argumen sedikit merayu kepada teman kuliyahnya dahulu yang saat ini tempat dia menumpang hidup, akhirnya dapatlah ia pinjaman motor itu yang tragisnya harus menemaninya mendaki gunung lewati lembah menuju suatu daerah di sana. Ambarawa.
Dua hari sebelumnya sebenarnya telah pula ia lakukan perjalanan ini ke daerah yang sama. Teringat hasil tanya jawabnya dengan penjual bunga di Jalan Ahmad Jazuli sana yang menceritakan padanya bahwa konon pula katanya semua bunga yang ada di sepanjang jalan ini adalah kiriman dari Ambarawa. Ia catat info ini dengan sebaik-baiknya dalam buku saku kecil hadiah dari beli novel Eragon seri ketiga dulu, di Pekanbaru. Adapun dalam buku catatan itu jika kamu tahu isinya adalah semua informasi yang dia orang anggap penting mulai dari nomor telepon yang tak tercatat di handphone karena memory yang sudah full, daftar nama perusahaan yang telah pernah ia masukkan lamaran kerja yang entah kenapa banyak garis coretannya, gambar karikatur aneh yang bahkan kalau dijual pun gak bakalan bisa buat beli ikan teri seekor, kalkulasi keuangan yang terdiri dari bilangan yang jumlah angkanya kecil atau sama dengan lima digit (hanya), Pena Pilot BP-TP yang selalu terselip di halaman tengah, serta foto sesosok makhluk yang ia sangka bidadari. Perlengkapan ini selalu ada di dalam tas selempangnya yang ia dapat pinjam dari teman juga. Maka jika Koperasi simpan pinjam berwujud manusia, pria ini lah kandidat utamanya.
Ke Ambarawa lah haluan dituju dua hari yang lalu. Berbekal semangat yang ia peroleh setelah mendengarkan suara sang bidadari malam sebelumnya, ia langkahkan kaki ke parkiran motor lalu bermotor ria membelah pulau jawa. Tak lupa sebelumnya ngaso sebentar sambil sarapan dan plus makan siang dengan segelas coffemix panas (hanya). Uang yang ada di dalam dompetnya saat itu hanyalah selembar duapuluh ribuan, berharap-harap cemas janganlah ada kiranya gangguan di jalan nantinya yang mengharuskan ia mengeluarkan biaya reparasi sejumlah melebihi kuantitas yang tersebut di atas.
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh ketika ia melewati kota Magelang. Sepanjang perjalanan baru kali ini ia rasakan perasaan lepas tanpa beban seolah-olah semua permasalahan tertinggal jauh di sana, di Yogyakarta. Angin pagi yang berhembus sepoi-sepoi seakan membelainya menuju alam mimpi yang hampir saja membuat ia celaka kalau saja ia tak lupa menginjak rem karena ada truk besar di depannya yang menyalip dari arah berlawanan. Semalaman ia memang tidak bisa tidur, walaupun badan dibawa berbaring. Namun pikirannya tak bisa berhenti berpikir, bagaimana kiranya bisa bertahan hidup untuk beberapa hari ke depan. Kerja serabutan apa yang bisa dilakukan, kepada siapa lagi kiranya dia dapat pinjaman. Dan ini semua nyata tanpa dramatisir sekalipun. Seringkali teman-temannya mengatakan bahwa ia terlalu mendramatisir suasana. Mereka saja yang tidak tahu bahwa pria itu memang sedang menjalani kehidupan dramatis yang kalau Raam Punjabi tahu mungkin bakal dijadikan sinetron kejar tayang juga agaknya ( dengan tokoh utamanya diperanin oleh christian sugiono, red.)
Angin semilir dari pegunungan terus berhembus yang terkadang membawa wangi pepohonan nan sejuk dan tak jarang debu dan pasir dari kendaraan lain yang berseliweran. Sesekali ia senandungkan lagu dengan suaranya yang kata teman tempat dia nginap tadi lumayan bagus, tak tahu apakah bermaksud menghibur atau bukan. Sayangnya gak punya mp3 player ni orang. HP nya cuma punya memori yang kalau diisi dengan lagunya Michael Buble 2 biji saja langsung penuh. HP bersejarah, dia bilang. Ada memori di sana yang mungkin akan menjadi bagian cerita lain di episode yang lain pula.
Motornya masih bermain dengan marka jalan, seolah-olah sedang berpacuan dengan Valentino Rossi yang lagi naik Jupiter bareng Komeng. Sesekali menginjak rem tiba-tiba akibat ulah bus-bus antarkota yang seenak udelnya saja motong jalan. Lama duduk di atas motor ternyata bikin pantatnya panas juga, disamping cuaca yang juga mulai panas seiring dengan semakin tingginya sang surya mengangkasa. Barulah ketika jam telah menunjukkan pukul delapan lebih sedikit akhirnya ia mencapai kota Ambarawa. Tapi permasalahan belum selesai sampai di sini saja ternyata.
Bandungan. Itulah nama daerah penghasil bunga terbaik di Ambarawa yang selanjutnya harus ia temukan. Jujur ia tidak tahu apa-apa tentang kota ini, lebih-lebih nama daerah yang hampir mirip dengan ibukota Jawa Barat itu. Akhirnya setelah teringat dengan nasihat kakeknya dahulu yang menyebutkan bahwa ‘malu adalah sebagian dari iman’ , maka ia pun jadi ingat akan nasehat Bu Nursalmi, Guru Bahasa Indonesianya dulu sewaktu kelas satu di SD yang pernah mengatakan bahwa ‘Malu bertanya Sesat di jalan’ ketika pada suatu hari ia tersesat di dalam toilet karena susah membuka grendel pintu toilet yang sudah uzur tersebut.
Adapun keuntungan dari ingatnya ia tersebut adalah dengan adanya motivasi bagi dirinya untuk bertanya kepada seorang pemuda penjual pulsa di salah satu kios di tepi jalan Ambarawa-Semarang tersebut. Dengan pura-pura membeli pulsa mentari (sebenarnya sudah tahu bahwa di kios itu tidak menyediakan pulsa mentari soalnya itu kios khusus Simpati, red.) ia bertanya jalan. Dan ia dapatkan info bahwa sang penjaga kios tak tahu juga rupanya di mana gerangan daerah itu berada. Untung saja ada sesosok bapak tua berjanggut yang sedang membeli beras di kios sebelah yang dengan sukacita memberikan jawaban yang diinginkannya. Sang bapak sukacita karena si pria itu akhirnya juga dimintai tolong sama sang bapak buat ngangkutin karung berasnya menuju motor si Bapak. Hubungan simbiosis komensalisme layaknya ikan remora dengan hiu agaknya.
Dan akhirnya ia temukan jalan menuju Bandungan atas titah sang bapak tadi. Jalannya mendaki curam, mengingatkannya akan alamat rumah bidadari yang ia kenal di Jogja sana. Persis sama, hanya saja di sini lebih banyak daerah pertaniannya saja. ( I wish you were there). Ada razia polisi rupanya ketika ia baru memasuki seperempat jalan menuju pasar Bandungan. Dengan menunjukkan surat-surat yang diperlukan kepada sang polisi akhirnya ia diperbolehkan melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya dicerca berbagai macam pertanyaan layaknya sesi tanya jawab Susno Duaji dengan DPR. Perjalanan yang menanjak tajam yang semakin membuat motor ngos-ngosan ini akhirnya mencapai garis finishnya. Pasar bandungan. Lengang. Sepi. 

“Wo alah, wes bubar e mas. Telat jenengan..” Ujar Ibu penjual gorwengan di tepi jalan yang mash setia mencari pelanggan buat menghabiskan dagangannya. Dibelinya pisang goreng tiga ribu perak dari sang Ibu buat makan siangnya hari itu. Sambil mengisi kekosongan waktu dan mencari kegiatan yang bermanfaat, maka diputarinya sekitar daerah tersebut, berbekal kamera olympus 7.1 Megapixel ynag juga dapat minjam dari teman dari teman tempat dia nginap tersebut di atas. Maka mulailah ia menjepret-jepret objek yang ia anggap layak untuk dijepret. Mulai dari si ibu penjual gorengan tadi tentunya.

Arus putaran sepeda motornya menghendakinya berjalan hingga sampai pula ke daerah paling puncak dari Bandungan ini, yang tentu saja untuk sampai ke sini adalah perjuangan yang teramat besar baginya terutama sepeda motornya. Bayangkan saja, untuk sampai ke atas saja ia harus menempuh jalan yang teramat curam hingga membentuk sudut kecuraman arcus cosinus 0,5 pada kuadran pertama. Sebenarnya besar harapnya untuk dapat menemukan ladang mawar sejauh mata memandang di atas sana. Dan tak ayal, memang itulah yang ditemukannya. Sejauh mata memandang di atas puncaknya adalah ladang mawar semua, hanya saja yang ia temukan adalah mawar khusus untuk upacara duka, bukan mawar hias. Beberapa gambar berhasil ia abadikan dari atas puncak sana. Di sana tenang, damai, jauh dari hiruk pikuk perkotaan dasn arus kehidupan yang semerawut. Begitu nikmatnya hidup ini, tanpa beban dan pikiran yang aneh-aneh. Ini kedua kalinya ia merasa bebannya seakan di angkat oleh Gusti Allah dari pundaknya. Ingin rasanya ia berlama-lama di sini, menghabiskan sisa hari dengan bercengkerama dengan alam, sendirian. ( I wish you were there).


Namun tak boleh begitu. Ia anggap ini hanyalah sebuah hiburan pencuci mata, Oase bagi kepenatan hidupnya selama ini. Kehidupan nyata ada di bawah sana. Harus dihadapi, bukan untuk dihindari.  Maka turun gununglah ia sembari menyapa penduduk yang begitu ramah dengannya. Bukan Yogyakarta. Belum saatnya ia kembali ke sana. Waktu masih enunjukkan pukul 10.00 WIB. Ia putar haluan menuju Semarang, tak tahu sebenarnya apa yang  akan dicari di sana. Namun belum sampai Semarang, kepenatan dan kantuk menghendakinya untuk beristirahat sejenak dan singgah di sebuah masjid mungil di pinggir jalan. Tidur menunggu azan zuhur tiba, dengan pisang goreng masih tersangkut di motor.

...Bersambung ....