Monday, April 30, 2012

Berbicara pada langit
Entah terdengar entah tidak
Berpendar sendirian dalam hening penghujung malam
Sayup-sayup tetesan tangis malam meresap dalam embun yang basahi dedaunan
Penghujung waktu


Pada waktu
Berujar sepatah kata yang tlah lama terlupakan
Hendaklah berhenti barang sekejap duhai Tuan
Putih rambutku dan berkerut kulitku dikarenakan langkahmu
Jangankan berlari, berselangkah saja sudah begini

Oh permata dunia
Pada angkasa dengan tapak berisi bintang bercahaya
Oh mahligai surga
Andaikan kau bersedia dan tiada terasa hina
Maka hinggaplah sekejap pada jendela mata
Tampakkanlah yang tak tampak 
Yang hilang menjadi nihil  


















Sekali saja biar aku yang turunkan hujan
dan kau tanggung beban deraku
Mungkin kau kan bahagia mungkin aku kan jadi gila

Pujangga-pujangga berkumpullah
Jadikan buatku syair pelepas haru yang tak satu gibran pun pernah meradu
Petikkan dawai tua pengganti keringat airmata 
Oh malam, perangilah matahari dan menanglah
Agar terlelap ini dunia barang sehari saja

Agar bisa ku bercinta dengan kesenduan yang berusaha ku lupa





Sekali saja biar aku yang turunkan hujan
dan kau tanggung beban deraku
Mungkin kau kan bahagia mungkin aku kan jadi gila