Tuesday, October 26, 2010

Menjadi Majnun

You...., Lost and lonely
You...., Strangest angel
Dancing in the deepest ocean
Twisting in the water
You're just like a dream

Hanya wajahmu juga yang tergambar dalam pikiran ini. Mana bisa saya merasakan begitu banyak kebahagiaan itu sementara dirimu masih gundah gulana di tepian sana?
Sudah begitu banyak jalan yang harus saya hindari, bukan karena jalan itu pahit malahan jalan kebahagiaan yang telah banyak diimpikan oleh banyak orang. Mudah saja bagiku tuk menapak di sana andaikan hati ini egois. Tapi tidak bagiku. separuh jiwaku sedang meringis, merintih, nun di tepian sana yang dapat kulihat namun sulit ku rengkuh. Mana bisa aku melangkahkan diri ini ke jalan cahaya itu sementara dirimu kulihat terus tersiksa dan tersakiti kerana yang olehmu  namakan sebagai cinta?

Maka biarlah ku pilih jalan ini, berhenti sejenak atau berputar ke arah yang terjal. Yang sayap-sayapnya menyembunyikan pedang yang siap menyayatku. Aku siap, sudah kumantapkan hati ini. Tuk menjadi majnun, merana demi kebahagiaan Laila. Untuk menjadi Gibran yang dirundung sepi hingga akhir usia dan berteman dengan jutaan rangkaian kata mesra yang menjadi pujian jutaan orang, tumbuh dari kesedihannya. Untuk menjadi Pranacitra yang meregang nyawa untuk memperjuangkan Roro mendut. Untuk menjadi Romeo yang harus mati berkali-kali dengan racun yang sama. 
Pada akhirnya ku berharap kau bahagia, yang sebenarnya bahagia. Kan ku dengar suaramu yang imut mendengung dalam gendang telingaku dengan riangnya sebagaimana jika dirimu bahagia.Senyummu yang kupastikan kan mengalahkan senyum monalisa sekalipun. Aku ingin pastikan itu semua ada padamu, dengan...atau mungkin tanpaku.


Monday, October 25, 2010

Belajar tulus, demikian kata hati berujar..

Besok takdir akan membawa dirimu ke tengah-tengah keluarga yang damai, namun akan membawaku kepaa perjuangan batin dan kesengsaraan.
Kau akan berada di rumah orang yang paling beruntung, sedang aku memasuki pintu gerbang kematian.
Kau akan diterima dengan ramah, sedangkan aku akan berada dalam cekikan kesepian.
Namun aku akan mendirikan patung cinta dan memujanya dalam lembah kematian.
Cinta akan menjadi satu-satunya selimut bagiku, akan kupakai seperti pakaian dan aku akan meminumnya bagaikan meneguk anggur.
Cinta akan membangunkanku di waktu subuh dan akan membawaku ke medan yang jauh.
Pada siang hari cinta akan membimbingku menuju bayang-bayang pohon, di mana aku bisa berteduh bersama burung-burung dari teriknya panas matahari. 
Di waktu sore sebelum matahari terbenam, cinta memerintahkanku beristirahat sambil mendengarkan nyanyian alam semesta dan memperlihatkan padaku pergerakan awan yang remang-remang di langit biru.
Pada malam hari cinta akan memelukku, dan aku pun akan tidur, lalu bermimpi mengenai dunia yang amat menyenangkan, yang ada pada jiwa-jiwa para penyair dan pencinta.
Cinta, Wahai Kekasih, akan tinggal bersamaku hingga akhir hayatku. Bahkan sesudah mati, dengan izin Tuhan, kami tetap akan bersatu.