Untuk bangkit dari keterpurukan itu ternyata bukan hal yang mudah. Begitulah yang saya alami saat ini, yang ada dalam pikiran kalau pun bisa digambarkan dalam secarik kertas adalah umpama coretan carut marut yang tak punya bentuk. Kertasnya pun tak pula bersih dan halus, adalah ia lembaran usang yang lapuk dan lekang oleh masa.
“Kau tipe orang yang pendek umur ! “ , ungkap salah seorang kawan beberapa waktu yang lalu. Tertawa saya mendengarnya. Kalau mau jujur yang demikian itu bagaikan kata penghibur bagi saya, bukan penghancur.
Orang yang berani itu bukanlah orang yang tak takut mati, melainkan orang yang tak takut hidup. Begitu saya baca di salah satu buku tentang filosofi hidup yang telah usang. Apa benar begitu? Setidaknya sekarang saya mulai tahu jawabannya.
Adapun keadaan saya saat ini ibarat perantau yang berlayar mengarungi kapal. Di tengah laut kapal saya tenggelam, megap-megap saya buat bertahan hidup. Lama terhanyut dan terombang-ambing di atas kumpulan air asin ini. Puluhan bahkan ribuan fatamorgana telah pula turut saya lihat yang semestinya hanya dilihat kafilah di padang pasir. Haus dahaga terasa walau di sekitar banyak air.
Bukannya mau menyerah dengan keadaan. Saya berusaha untuk lepas dan bergerak mengikuti arus yang memudahkan saya kiranya terdampar di suatu pulau yang tah di mana. Saya gerakkan kaki untuk mengayuh di air hingga mati rasa dan tak bisa tergerakkan lagi. Pun begitu juga dengan tangan. Lalu dengan usaha terakhir saya coba turuti arus ini ntah ke mana dia kan menghanyutkan saya. Terserahlah, tak mau ambil peduli lagi.
Lalu untuk kesekian kalinya ketika saya telah terbiasa dengan ini semua, tampaklah pertolongan itu datang. Setidaknya dari sudut pandang saya saat ini saya anggap itu pertolongan. Ada kapal megah yang lewat di tengah-tengah keterhanyutan ini. Dia ulurkan tali tuk angkat tubuh yang mulai rapuh ini, senang rasanya. Sekejap terlintas di mata akan kehangatan di atas sana, rasa manis roti di perut, dan wangi kopi yang menentramkan pikiran. Sekejap lagi bisa saya rasakan, kataku. Terjawab doa ini rupanya.
Baru saja saya arahkan tangan ini untuk menjangkau tali dengan sisa kekuatan yang ada di hati, ketika saya lihat di samping saya ada ternyata sesosok tubuh yang berusaha untuk bertahan hidup pula. Walau selama ini tak pernah bercermin, namun saya rasa begitu juga kiranya wajah saya saat ini, persis dengan wajah sesosok tubuh di samping saya itu. Tak pula tega saya rasanya, maka saya jangkau tubuhnya dan ikatkan tali ke badannya. Tak kurasakan sedikitpun kehangatan tubuhnya saat saya menyentuhnya, namun ia belum mati, masih ada harapan tuk hidup. Impiannya mungkin lebih besar dari impianku, ingin dan citanya bahkan bisa jadi lebih megah dari yang bisa saya impi dan citakan. Pastinya banyak orang yang menantinya di daratan sana.
Terangkatlah tubuhnya dengan seutas tali tadi. Di atas sana bersiap menyambutnya, menyelimutunya agar hangat, memberikan perawatan sebaik-baiknya. Baiklah, sekarang giliran saya. Tuan, cepatlah kau ulurkan tali itu lagi kemari. Aku telah bersabar dalam keterhanyutan ini selama ratusan periode matahari, janganlah kiranya kau minta aku tuk bersabar lebih lama lagi, tuan.
“Maaf, kapal kami kiranya hanya bisa mengangkut satu orang lagi. Hanya satu ini yang bisa kami selamatkan. Lebih dari ini terpaksa kami harus mengorbankan penumpang lainnya dalam bahaya. Sudah melebihi ambang batas, tuan. Maafkanlah kami sebesar-besarnya. Harapkan tuan bisa bersabar di sana menunggu kapal lainnya yang kan berlalu di sekitar sini. Harapkan tuan bisa bertahan lebih lama lagi. Kami doakan keselamatan dan kekuatan bagi tuan selalu sampai penyelamat lainnya datang.”
Lalu berlalulah kapal itu. Ditinggalkannya saya sendirian terasing di gumpalan air maha luas ini. Baru sekejap tadi saya rasakan aroma kehidupan itu, baru sekejap tadi saya rasakan harapan tuk hidup itu, bahkan di tangan ini masih terlihat jejak bekas menggenggam tali tadi.
Sedihkah kata yang tepat untuk menggambarkan semua itu, kawan? Mau menangis, tapi saya tahu itu cuma akan semakin mengurangi air di badan saja. kehausan yang maha dahsyat sudah tidak tak terasa lagi rasanya. Apa lah lagi yang bisa saya perbuat. Tenaga tak ada, tangan dan kaki telah pula lemas terkulai. Badan sedikit demi sedikit rapuh digerogoti asinnya air . Tak ada paus seperti yang menyelamatkan Yunus. Tak ada kehangatan seperti yang membungkus Ibrahim dari sengatan api. Yang terakhir kulihat di malam itu adalah Perseuss di langit sana, berkelip dengan indahnya. Agaknya cepatlah kau bawa juga saya ke sana.
Dan kemudian yang ada hanyalah gelap.
Sunday, February 14, 2010
Saturday, February 13, 2010
Time to Say Goodbye
Is it the end?
A Time of separation has come. When men part ways,
tears should not be involved in it.
Don't look back, we're going straight ahead.
We are fully prepared for this moment.
Thursday, February 11, 2010
She doesn't know he's there
To lead a better life I need my love to be here...
Here, making each day of the year
Changing my life with the wave of her hand
Nobody can deny that there's something there
There, running my hands through her hair
Both of us thinking how good it can be
Someone is speaking but she doesn't know he's there
I want her everywhere and if she's beside me
I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share
Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I'm always there
I want her everywhere and if she's beside me
I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share
Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I'm always there
We'll be there and everywhere
Here, there and everywhere
Wednesday, February 10, 2010
Histoire sur les racines
In the past we are a unity, inseparable from each other. The bond between us so tightly that I could not tell which one I am, which one of you. In the past we are like a seed that contains the seeds of life expectancy.
And as time went by destiny played its role too. Seeds that grow quickly. Which one are you former is a single entity is now continues to grow up, you are the shoots, the greatest hope of this union. Me, I am the root.
But we are still close, I could see every time your face from where I was. Occasionally I still often addressed as well with you. Land is not a barrier for us and the wind is a messenger courier it going for me. With this, I felt still your warm, coolness will your being, the spirit of courage crutches.
And no one can conquer time. These seeds continue to grow and continue to grow. You start preoccupied with the presence of leaves. And soon will your way farther up there. You create the shaft as a way of life. From there it continued to appear briefly leaves had covered the direction sees you. You're getting high, very high. As for me, I sunk deeper and deeper in the earth.
You are noble, state benefit you always. You always shoot the sun-drenched. I am the root that's always in the dark. Shall you be there? The wind no longer perched over to bring the news about yourself. Only from the leaves are falling I just got a little story about you. The last leaf falling in the season deliver your elegance up there, describe you are being a strong and resilient against the sky. I'm glad to hear it. As long as I know you're still up there, I made it's all as a light for the darkness here.
Have I forgotten ?
Monday, February 1, 2010
Our Field Of Dream
Sore itu ada kepadatan yang tak wajar di sepanjang jalan menuju rumbai. Berhubung ini adalah hari minggu, maka memang tepat anda terheran-heran kok bisanya jembatan Leton penuh sesak oleh para pengguna jalan raya, kalau hari-hari kerja sih memang biasa secara Rumbai adalah kota satelitnya Pekanbaru jadi banyak para pekerja yang tinggal di daerah ini yang memiliki pekerjaan di Pekanbaru.
Apakah yang terjadi? Ada kecelakaan beruntunkah ? Atau ada kucing yag tertabrak di jalan sehingga membuat kemacetan puluhan kilometer ? Atau mungkin ada Ibu-ibu yang menghentikan arus kendaraan di depan sana karena sendal anaknya lepas saat naik motor? Mungkin ada tawuran yang menuntut agar Ade Kurniawan dipilih menjadi Gubernur Riau selanjutnya ? Hmm, bisa jadi. Namun yang terjadi sore itu bukan demikian adanya, meskipun sebagian besar dari kalian mungkin memperkirakan kemungkinan terakhir yang saya sebutkan tadi. Ahahaha.
Sore itu (minggu, 31/01/2010) ada pertandingan kandang terakhir bagi tim kesayangan kita ( baca : PSPS ) jadi seluruh supporter Asykar The King yang bercokol di bumi lancangkuning ini meninggalkan sejenak aktivitas sorenya untuk berdatangan ke stadion kita tercinta ini (baca lagi : Stadion Rumbai) yang konon katanya bisa menampung satu juta orang plus bantuan korban banjir, gunung meletus, longsor, dan gempa bumi. Hehehe, gak dink.
Saya ? Hm, sebenarnya saya tidak terlalu ekspektasi dalam menonton bola di negeri ini secara menurut pengalaman saya ketika masih bermain di primavera Italia saya sudah sering menyaksikan pertandingan level dunia ( boleh baca boleh teriak : sombooooong..!). Namun karena paksaan teman-teman dan sokongan materi dari orangtua serta doa dari alim lama setempat mka berangkat pula akhirnya awak ni ke sana. Yah, mau gimana lagi, kata mereka “gak ada lo gak rame..” jadi berangkatlah saya menuju tempat kejadian perkara buat memuaskan hati pemirsa dan teman-teman.
Lama saya tinggalkan, ternyata stadion ini tidak banyak berubah. Terakhir kali saya menginjakkkan kaki di sini tepatnya tujuh tahun silam saat penyelenggaraan UM UGM yang pertama yang menjatuhkan korban sebah pensil 2B dan penghapus Fabber Castel hilang di pihak saya saat itu ntah di sudut mana dari stadion ini. Saya katakan tidak banyak perubahan karena kondisinya tidak jauh beda dengan terakhir kali saya melihatnya. Semak masih banyak di kiri kanan jalan, rumah-rumah perabotan masih eksis di tepi jalan, lampu merahnya pun belum diganti, masih yang dipakai pas tujuh tahun yang lalu agaknya. Bahkan di tembok stadionnya masih ada tulisan-tulisan yang begitu akrab di mata seperti “METAL”, “Anak Rumbai Oke”, “andi love tina”, “mantan preman”, serta “ ngebut benjut”. Hm, buat yang terakhir itu becanda, adanya di ngayogyakarto hadiningrat sana, tepatnya di setiap tikungan perumahan penduduk daerah pogung dan tawangsari. Ahahaha, jadi kangen.
Baiklah, kembali ke pokok cerita. Maka berangkatlah saya dan teman-teman yang mengharapkan kehadiran saya tadi ke stadion rumbai. Dengan menggoes sepeda roda dua bermesin 4 tak kami meluncur dari rumah risky di jalan cempaka. O ya, kami terdiri dari saya sendiri, terus ada Prilnali Eka Putra yang baru mengurangi jatah oksigen orang pekanbaru, ada Risky atriyansyah, si cheese yang nama aslinya masih merupakan misteri bagi saya, serta Mira. Sepanjang perjalanan saya sudah merasa bahwa ada ban belakang motor saya yang saya tumpangi bareng Eka mengalami Low Pressure dan perlu injeksi fresh air denngan tekanan 10 N/m kayaknya. Namun karena tak mau menyinggung si Eka yang porsi tubuhnya agak besar sekarang, maka saya diamkan saja. Dan terjadilah kejadian naas itu. Ban bocor di beberapa ratus meter lagi menuju stadion. Terpaksalah kami isi buat tambah angin dulu, seharusnya di tambal Cuma karena tim kesayangan uda mau main terpaksa ditambah angin saja asal nyampe ke stadion. Lalu kami pacu lagi motor buat menghabiskan sisa jarak yang memisahkan kami dengan Herman Jumafo dkk. Sukses, Sampai diparkiran tepi jalan dengan ban kempes total.
“Dengan selembar duaribu perak kami percaykan motor ini padamu bang parkir, harapkan daku kan bersua lagi dengan ni motor pada 90 menit ke depan. Huhu, Oh Bang tukang parkir...” Ujarku melepas kepergian Jupiter MX hijauku buat sekejap.
“Ah, banyak gaya kau lagi dek, nonton ajalah sana . Kan Abang pertaruhkan jiwa dan raga Abang serta kehormatan profesi juru parkir yang telah abang pegang selama 12 tahun ini demi menjaga motormu, dek. Percayalah sama Abang..”. Jawab Bang parkir dengan sesenggukan di bawah langit biru bumi melayu sore itu.
Hmmm, silakan kalau ada yang mau muntah ke toilet sebentar, saya tunggu. T_T..
Kami mengikuti si cheese yang lebih mengenal medan sekitar stadion untuk memilih tempat masuk ke dalam. Ke utara haluan kami tuju, di sana bisa masuk dengan mudah kata doi. Oke lah kalau begitu. Di jalan menuju pintu masuk utara kami liat si Bastian yang sekarang jadi polisi sedang dikumpulkan oleh pimpinannya untuk rapat sebelum bertugas di stadion ini demi menjaga keamanan agar tidak ada dedi mulyadi –dedi mulyadi lainnya yang masuk ke lapangan atau bahkan Bonek versi melayu yang membuat rusuh suasana. Sampai di pintu utara, giliran si cheese menunjukkan keahlian debat yang telah dilatihnya pas sma pak kadir di SMU dulu. Dan, Gagal. Tak boleh masuk kami, padahal si Cheese uda melihatkan Co Card tanda Panpel yang memudahkan akses masuk, tapi kata si petugas tribun di sini uda penuh.
Kami sedikit kecewa dan gelisah, bagaimana jadinya permainan tim tanpa kehadiran kami.
“Coba masuk yang dari Selatan aja yok.!” Kata si cheese mencoba menghibur kami yang sudah mulai menangis.
Maka berjalanlah kami setengah keliling setengah stadion lagi untuk menuju pintu masuk selatan. Hujan badai sudah mulai menunjukkan maksud kedatangannya sore itu kala kami menuju selatan (baca: gerimis). Saya sudah hampir putus asa, pokoknya kalau tak boleh juga masuk maka kami berniat manjat tiang lampu penerangan di pojok stadion seperti orang-orang itu pikirku.
Kali ini sukses nyata. Kami boleh masuk dan langsung memilih tempat duduk di tribun terbuka bagian selatan yang memang masih cukup sepi saat itu. Kami hempaskan pantat kami di semen yang hangat itu dan duduk menyaksikan jalannya pertandingan yag sebentar lagi akan dimulai. Sempat berfoto sejenak.
Pertandingan dimulai, PSPS vs Pelita Jaya dengan skor akhir 2-1. Tak perlu rasanya saya ulas jalannya pertandingan, nanti mengambil porsi jatah koran Bola dan sejenisnya pula jadinya. Karena saya tahu kalian pasti akan lebih memilih membaca ulasan saya. Ahahaha. Jumawa berlebihan.
Yang ingin saya gambarkan adalah kejadian-kejadian unik selama pertandingan berlangsung dari sudut pandang saya sebagai orang ke tiga tunggal. Untuk selanjutnya saya akan menggunakan istilah berikut :
Tribun Utara : Gryfindor
Tribun Timur : Slytherin
Tribun Selatan : Hufflepuff
Tribun Barat : Ravenclaw
Baru kick off babak pertama berbunyi, genderang perang sudah mulai di tabur oleh slytherin sana. Di sana adalah pusatnya Asykar The King menyoraki semangat buat tim kesayangannya sementara hardikan, umpatan, dan sumpah serapah sejenis avada kedavra dan cruciatus buat tim tamu. Dumbledore beserta para tamu duduk di tribunnya Hufflepuff yang adem karena terlindung dari teriknya matahari yang suka bergantian datangnya dengan gerimis mengundang. Terlebih lagi ketika kau tahu siapa mencetak gol pertama bagi PSPS di babak pertama ntah di menit berapa karena saya tak bawa jam. Seluruh stadion langsung membiru, setidaknya anggap saja begitu, karena rupanya orang pekanbaru ni walau datang membela PSPS tercinta yang bawa dan makai atribut PSPS hanya sebagian kecil saja. Mereka lebih memilih menggunakan fashion style terbaru keluaran Gucci, Armani, dan DKNY.
Tribun slytherin sebentar-sebentar disirami dengan semprotan air dari slang petugas pemadam kebakaran yang sengaja didatangkan untuk memeriahkan suasana. Tapi Tuhan itu Maha Adil, dikirimnya hujan lebat seketika untuk Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw, serta sebagian Hufflepuff. Rata dan berbasah-basahan lah kami semua sore itu. Hm, menyesal juga sih tak bisa mengambil gambar jadinya, takut kamera rusak. Mana baju kaos serta Jeans baru di setrika lagi tadi siang.
Satu hal yang ingin saya tekankan sekeras-kerasnya kepada kamu sekalian. Jika kamu suatu saat menonton pertandingan bola di Stadion ini, maka jangan sekali-kali membawa teman, pacar, adik, tante, atau sodara perempuan yang lumayan cantik. Ni orang pekanbaru kalau melihat cewek cakep ekspektasinya jauh berbeda dengan kota-kota lainnya. Kalau di kotamu mungkin cewek cakep bakalan digodain, dikasih bunga, atau diajak traktir, namu di sini malah dilempari dengan botol aqua dan kulit kacang plus sorakan yang akan membuat tuh perempuan trauma seumur hidup. Saya geleng-geleng kepala melihatnya. Ada dua cewek yang lewat di menit ke 59 di tribun Hufflepuff, lumayan manis emang. Dan tak perlu menunggu lama bagi penonton di tribun untuk mengambil apa saja yang bisa dilemparnya ke si cewek yang lagi jalan di depan tribun penonton. Si Cewek langsung malu menutup muka sambil lari cepat-cepat menghindari lemparan penonton menuju tempat duduknya yang ternyata kelewatan saking kencangnya dia berlari. Merah padam mukanya. Sayangnya saya tidak sempat mengambil gambarnya, soalnya saya juga ikut melempar saat itu. Ahahahaha.
Dan satu lagi yang harus diperhatikan, ni atas saran dari cheese dan risky, kalau nonton bola di pekanbaru selalu lah membawa helm ke stadion. Jangan pernah ditinggalkan di motor.
Bukan takut ilang, cuma ni orang pekanbaru hobi melempar kayaknya. Ndak peduli kawan atau pun lawan semuanya dilempar. Apa saja yang nganggur dan tak berguna ada di sekelilingnya terus digunakan buat melempar. Mulai dari botol Aqua, Mizone, kulit kacang, bungkus plastik, koin 100 rupiah, tutup botol, batu kerikil, lemak di badan, pacar yang mau diputusin, kerjaan yang menyiksa di kantor, lempar semua. Tak peduli dia yang kena lemparannya tu bapak orang. Sadis, lebih sadis dari sadisnya afgan. Beginilah wajah persepakbolaan di negeri ini, beda ketika saya merumput dua musim di Premiership Inggris sana. Tak apalah, kita mah enjoy aja, selama gak kena benjut.
Dan Penonton pun mulai keluar dalam barisan yang tak teratur sama sekali, menuju kendaraan yang diparkir bertebaran di sekeliling stadion. Sementara saya dan Eka diingatkan kembali akan beban erat kami, musti siap-siap berjuang mencari tambal ban terdekat . Bang tukang parkir, makasih telah menjaga motorku. Jasamu tiada tara.
Stadion itu kembali hening ditinggalkan penciptanya. Hening. Hanya rumput yang masih basah saja yang menjadi saksi bahwa sekejap tadi masih bermain di atasnya 22 orang pecinta bola yang mempertaruhkan harga diri tim dan pribadi. Masih berbekas jejak gambir dari sepatu bola yang berlaga beberapa saat yang lalu. Awan kian bersahabat dengan malam, menggelapkan kota seolah bermusuhan dengan mentari dan mereka berhasil mengusirnya untuk dua belas jam ke depan, semoga. Esok, ntah siapa lagi yang akan berlaga dan meriuhkan suasana di stadion ini. Melepaskan keringat perjuangan sepakbola kita. Akan dirindukannya duapuluh dua pasang kaki dan satu kulit bundar itu. Di sini, di Our Field Of Dream.
(Ade Kurniawan, melaporkan).
Apakah yang terjadi? Ada kecelakaan beruntunkah ? Atau ada kucing yag tertabrak di jalan sehingga membuat kemacetan puluhan kilometer ? Atau mungkin ada Ibu-ibu yang menghentikan arus kendaraan di depan sana karena sendal anaknya lepas saat naik motor? Mungkin ada tawuran yang menuntut agar Ade Kurniawan dipilih menjadi Gubernur Riau selanjutnya ? Hmm, bisa jadi. Namun yang terjadi sore itu bukan demikian adanya, meskipun sebagian besar dari kalian mungkin memperkirakan kemungkinan terakhir yang saya sebutkan tadi. Ahahaha.
Sore itu (minggu, 31/01/2010) ada pertandingan kandang terakhir bagi tim kesayangan kita ( baca : PSPS ) jadi seluruh supporter Asykar The King yang bercokol di bumi lancangkuning ini meninggalkan sejenak aktivitas sorenya untuk berdatangan ke stadion kita tercinta ini (baca lagi : Stadion Rumbai) yang konon katanya bisa menampung satu juta orang plus bantuan korban banjir, gunung meletus, longsor, dan gempa bumi. Hehehe, gak dink.
Saya ? Hm, sebenarnya saya tidak terlalu ekspektasi dalam menonton bola di negeri ini secara menurut pengalaman saya ketika masih bermain di primavera Italia saya sudah sering menyaksikan pertandingan level dunia ( boleh baca boleh teriak : sombooooong..!). Namun karena paksaan teman-teman dan sokongan materi dari orangtua serta doa dari alim lama setempat mka berangkat pula akhirnya awak ni ke sana. Yah, mau gimana lagi, kata mereka “gak ada lo gak rame..” jadi berangkatlah saya menuju tempat kejadian perkara buat memuaskan hati pemirsa dan teman-teman.
Lama saya tinggalkan, ternyata stadion ini tidak banyak berubah. Terakhir kali saya menginjakkkan kaki di sini tepatnya tujuh tahun silam saat penyelenggaraan UM UGM yang pertama yang menjatuhkan korban sebah pensil 2B dan penghapus Fabber Castel hilang di pihak saya saat itu ntah di sudut mana dari stadion ini. Saya katakan tidak banyak perubahan karena kondisinya tidak jauh beda dengan terakhir kali saya melihatnya. Semak masih banyak di kiri kanan jalan, rumah-rumah perabotan masih eksis di tepi jalan, lampu merahnya pun belum diganti, masih yang dipakai pas tujuh tahun yang lalu agaknya. Bahkan di tembok stadionnya masih ada tulisan-tulisan yang begitu akrab di mata seperti “METAL”, “Anak Rumbai Oke”, “andi love tina”, “mantan preman”, serta “ ngebut benjut”. Hm, buat yang terakhir itu becanda, adanya di ngayogyakarto hadiningrat sana, tepatnya di setiap tikungan perumahan penduduk daerah pogung dan tawangsari. Ahahaha, jadi kangen.
Baiklah, kembali ke pokok cerita. Maka berangkatlah saya dan teman-teman yang mengharapkan kehadiran saya tadi ke stadion rumbai. Dengan menggoes sepeda roda dua bermesin 4 tak kami meluncur dari rumah risky di jalan cempaka. O ya, kami terdiri dari saya sendiri, terus ada Prilnali Eka Putra yang baru mengurangi jatah oksigen orang pekanbaru, ada Risky atriyansyah, si cheese yang nama aslinya masih merupakan misteri bagi saya, serta Mira. Sepanjang perjalanan saya sudah merasa bahwa ada ban belakang motor saya yang saya tumpangi bareng Eka mengalami Low Pressure dan perlu injeksi fresh air denngan tekanan 10 N/m kayaknya. Namun karena tak mau menyinggung si Eka yang porsi tubuhnya agak besar sekarang, maka saya diamkan saja. Dan terjadilah kejadian naas itu. Ban bocor di beberapa ratus meter lagi menuju stadion. Terpaksalah kami isi buat tambah angin dulu, seharusnya di tambal Cuma karena tim kesayangan uda mau main terpaksa ditambah angin saja asal nyampe ke stadion. Lalu kami pacu lagi motor buat menghabiskan sisa jarak yang memisahkan kami dengan Herman Jumafo dkk. Sukses, Sampai diparkiran tepi jalan dengan ban kempes total.
“Dengan selembar duaribu perak kami percaykan motor ini padamu bang parkir, harapkan daku kan bersua lagi dengan ni motor pada 90 menit ke depan. Huhu, Oh Bang tukang parkir...” Ujarku melepas kepergian Jupiter MX hijauku buat sekejap.
“Ah, banyak gaya kau lagi dek, nonton ajalah sana . Kan Abang pertaruhkan jiwa dan raga Abang serta kehormatan profesi juru parkir yang telah abang pegang selama 12 tahun ini demi menjaga motormu, dek. Percayalah sama Abang..”. Jawab Bang parkir dengan sesenggukan di bawah langit biru bumi melayu sore itu.
Hmmm, silakan kalau ada yang mau muntah ke toilet sebentar, saya tunggu. T_T..
Kami mengikuti si cheese yang lebih mengenal medan sekitar stadion untuk memilih tempat masuk ke dalam. Ke utara haluan kami tuju, di sana bisa masuk dengan mudah kata doi. Oke lah kalau begitu. Di jalan menuju pintu masuk utara kami liat si Bastian yang sekarang jadi polisi sedang dikumpulkan oleh pimpinannya untuk rapat sebelum bertugas di stadion ini demi menjaga keamanan agar tidak ada dedi mulyadi –dedi mulyadi lainnya yang masuk ke lapangan atau bahkan Bonek versi melayu yang membuat rusuh suasana. Sampai di pintu utara, giliran si cheese menunjukkan keahlian debat yang telah dilatihnya pas sma pak kadir di SMU dulu. Dan, Gagal. Tak boleh masuk kami, padahal si Cheese uda melihatkan Co Card tanda Panpel yang memudahkan akses masuk, tapi kata si petugas tribun di sini uda penuh.
Kami sedikit kecewa dan gelisah, bagaimana jadinya permainan tim tanpa kehadiran kami.
“Coba masuk yang dari Selatan aja yok.!” Kata si cheese mencoba menghibur kami yang sudah mulai menangis.
Maka berjalanlah kami setengah keliling setengah stadion lagi untuk menuju pintu masuk selatan. Hujan badai sudah mulai menunjukkan maksud kedatangannya sore itu kala kami menuju selatan (baca: gerimis). Saya sudah hampir putus asa, pokoknya kalau tak boleh juga masuk maka kami berniat manjat tiang lampu penerangan di pojok stadion seperti orang-orang itu pikirku.
Kali ini sukses nyata. Kami boleh masuk dan langsung memilih tempat duduk di tribun terbuka bagian selatan yang memang masih cukup sepi saat itu. Kami hempaskan pantat kami di semen yang hangat itu dan duduk menyaksikan jalannya pertandingan yag sebentar lagi akan dimulai. Sempat berfoto sejenak.
Pertandingan dimulai, PSPS vs Pelita Jaya dengan skor akhir 2-1. Tak perlu rasanya saya ulas jalannya pertandingan, nanti mengambil porsi jatah koran Bola dan sejenisnya pula jadinya. Karena saya tahu kalian pasti akan lebih memilih membaca ulasan saya. Ahahaha. Jumawa berlebihan.
Yang ingin saya gambarkan adalah kejadian-kejadian unik selama pertandingan berlangsung dari sudut pandang saya sebagai orang ke tiga tunggal. Untuk selanjutnya saya akan menggunakan istilah berikut :
Tribun Utara : Gryfindor
Tribun Timur : Slytherin
Tribun Selatan : Hufflepuff
Tribun Barat : Ravenclaw
Baru kick off babak pertama berbunyi, genderang perang sudah mulai di tabur oleh slytherin sana. Di sana adalah pusatnya Asykar The King menyoraki semangat buat tim kesayangannya sementara hardikan, umpatan, dan sumpah serapah sejenis avada kedavra dan cruciatus buat tim tamu. Dumbledore beserta para tamu duduk di tribunnya Hufflepuff yang adem karena terlindung dari teriknya matahari yang suka bergantian datangnya dengan gerimis mengundang. Terlebih lagi ketika kau tahu siapa mencetak gol pertama bagi PSPS di babak pertama ntah di menit berapa karena saya tak bawa jam. Seluruh stadion langsung membiru, setidaknya anggap saja begitu, karena rupanya orang pekanbaru ni walau datang membela PSPS tercinta yang bawa dan makai atribut PSPS hanya sebagian kecil saja. Mereka lebih memilih menggunakan fashion style terbaru keluaran Gucci, Armani, dan DKNY.
Tribun slytherin sebentar-sebentar disirami dengan semprotan air dari slang petugas pemadam kebakaran yang sengaja didatangkan untuk memeriahkan suasana. Tapi Tuhan itu Maha Adil, dikirimnya hujan lebat seketika untuk Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw, serta sebagian Hufflepuff. Rata dan berbasah-basahan lah kami semua sore itu. Hm, menyesal juga sih tak bisa mengambil gambar jadinya, takut kamera rusak. Mana baju kaos serta Jeans baru di setrika lagi tadi siang.
Satu hal yang ingin saya tekankan sekeras-kerasnya kepada kamu sekalian. Jika kamu suatu saat menonton pertandingan bola di Stadion ini, maka jangan sekali-kali membawa teman, pacar, adik, tante, atau sodara perempuan yang lumayan cantik. Ni orang pekanbaru kalau melihat cewek cakep ekspektasinya jauh berbeda dengan kota-kota lainnya. Kalau di kotamu mungkin cewek cakep bakalan digodain, dikasih bunga, atau diajak traktir, namu di sini malah dilempari dengan botol aqua dan kulit kacang plus sorakan yang akan membuat tuh perempuan trauma seumur hidup. Saya geleng-geleng kepala melihatnya. Ada dua cewek yang lewat di menit ke 59 di tribun Hufflepuff, lumayan manis emang. Dan tak perlu menunggu lama bagi penonton di tribun untuk mengambil apa saja yang bisa dilemparnya ke si cewek yang lagi jalan di depan tribun penonton. Si Cewek langsung malu menutup muka sambil lari cepat-cepat menghindari lemparan penonton menuju tempat duduknya yang ternyata kelewatan saking kencangnya dia berlari. Merah padam mukanya. Sayangnya saya tidak sempat mengambil gambarnya, soalnya saya juga ikut melempar saat itu. Ahahahaha.
Dan satu lagi yang harus diperhatikan, ni atas saran dari cheese dan risky, kalau nonton bola di pekanbaru selalu lah membawa helm ke stadion. Jangan pernah ditinggalkan di motor.
Bukan takut ilang, cuma ni orang pekanbaru hobi melempar kayaknya. Ndak peduli kawan atau pun lawan semuanya dilempar. Apa saja yang nganggur dan tak berguna ada di sekelilingnya terus digunakan buat melempar. Mulai dari botol Aqua, Mizone, kulit kacang, bungkus plastik, koin 100 rupiah, tutup botol, batu kerikil, lemak di badan, pacar yang mau diputusin, kerjaan yang menyiksa di kantor, lempar semua. Tak peduli dia yang kena lemparannya tu bapak orang. Sadis, lebih sadis dari sadisnya afgan. Beginilah wajah persepakbolaan di negeri ini, beda ketika saya merumput dua musim di Premiership Inggris sana. Tak apalah, kita mah enjoy aja, selama gak kena benjut.
Dan Penonton pun mulai keluar dalam barisan yang tak teratur sama sekali, menuju kendaraan yang diparkir bertebaran di sekeliling stadion. Sementara saya dan Eka diingatkan kembali akan beban erat kami, musti siap-siap berjuang mencari tambal ban terdekat . Bang tukang parkir, makasih telah menjaga motorku. Jasamu tiada tara.
Stadion itu kembali hening ditinggalkan penciptanya. Hening. Hanya rumput yang masih basah saja yang menjadi saksi bahwa sekejap tadi masih bermain di atasnya 22 orang pecinta bola yang mempertaruhkan harga diri tim dan pribadi. Masih berbekas jejak gambir dari sepatu bola yang berlaga beberapa saat yang lalu. Awan kian bersahabat dengan malam, menggelapkan kota seolah bermusuhan dengan mentari dan mereka berhasil mengusirnya untuk dua belas jam ke depan, semoga. Esok, ntah siapa lagi yang akan berlaga dan meriuhkan suasana di stadion ini. Melepaskan keringat perjuangan sepakbola kita. Akan dirindukannya duapuluh dua pasang kaki dan satu kulit bundar itu. Di sini, di Our Field Of Dream.
(Ade Kurniawan, melaporkan).
Subscribe to:
Posts (Atom)




