Lalu saya berfikir. Hmm, mungkin lebih tepatnya merenung agaknya. Setelah tetes terakhir hujan turun malam ini, ketika bulan dengan malu-malu mulai bersinar di gelapnya malam. Ketika angin ikut serta meramaikan hening dengan dingin yang dipancarkan auranya. Sesekali masih ia bawa turun bersama dengannya bulir-bulir air yang malas turun beserta kawanannya beberapa jam yang lalu. Bunyi gemerisik dedaunan yang dipaksa bergoyang oleh angin menambah syahdu malam biru, malam kelabu.
Lalu saya berfikir. Lebih tepatnya merenung, kenapa hujan turun malam ini. Dengan cerah dan teriknya cuaca siang tadi tak pernah terbayangkan betapa mendung dan kelabunya malam ini. Sejatinya memang gelap, namun tanpa bintang dan rembulan lebih tepat bagaikan pemadaman listrik di perumahan. Yah, memang mati lampu juga sih tadi beberapa jam yang lalu. Menandai euforia malam dan hujan atas manusia. Kalau sudah begini, yang ada hanyalah bergelung dalam selimut tebal setelah menyantap makan malam dan segelas susu hangat. Tapi saya tidak. Saya berfikir, lebih tepatnya merenung.
Mungkin saja malam marah karena ada yang tak tunduk oleh kedatangannya, bagaikan kepala negara yang tak dihargai kehadirannya. Oleh sebab itu ia turunkan pengawalnya bernama hujan dengan senjata peluru-peluru tajam yang mengoyak jubah-jubah angin dan menembus kulit-kulit bumi, untuk menangkap, merengkuh dengan kukuh setiap mereka yang tak tunduk tadi. Ada apa gerangan pada langit yang hanya menyaksilan saja kecamuk ini terjadi. Bulan sang hakim adil yang ditunjuk langit tak keluar malam ini. Mungkin telah pula ia disogok dengan bermilyar-milyar kemewahan sehingga senang ia untuk tak tampil. Atau pikirku yang kusebut merenung tadi mungkin saja ia mau hadir namun tentara-tentara malam yang telah berkuasa semenjak lama itu menghadangnya di tengah jalan, menghalanginya dengan begitu banyak rintangan hingga tak sampai ia melihat semua ini. Sang awan gemawan yang mendung.
Saya masih berfikir, merenung lebih tepatnya. Duaratus empat puluh langkah kaki kiri dan kanan telah sudah saya gerakkan menyusuri jalan yang basah sehabis peperangan tentara malam bernama hujan beberapa saat tadi. Bulir air yang terkandung di dalam hembusan angin dingin telah pula membasahi baju kaos dan jins yang saya kenakan. Dinginnya sampai ke tulang, menggemeretakkan gigi geligi ini saling beradu. Lampu-lampu rumah penduduk telah pula redup satu persatu menghantarkan sang empu keharibaan lelap. Malam ini tikus-tikus got pun bahkan tak berani berlarian di jalanan karena dingin yang teramat menusuk. Tak ada maksud untung menghitung langkah sebenarnya, hanya saja untuk mengimbangi gemeretak gigi akibat dingin, berharap dengan berfikir masih bisa menyisakan sedikit kewarasan buat tetap bertahan dengan kehangatan.
Saya berfikir, merenung lebih tepatnya. Beginilah rupanya yang dirasakan oleh gadis penjual korek api yang kedinginan di tengah salju di malam natal. Andai keajaiban dongengnya itu bisa juga saya rasakan saat ini. Lalu akan saya hidupkan tiap-tiap batang korek api itu sambil menghayalkan semua yang saya impikan selama ini. Semua ?? Hmm, barangkali kata itu tidak cukup pantas untuk mewakili satu hal. Dibandingkan kehangatan selimut di rumah, hidangan lezat pengisi perut, alunan lagu syahdu penghantar tidur, yang saya butuhkan saat ini hanya kamu.
Saya berfikir, mungkin lebih tepat bila disebut merenung. Andaikan hidup bisa diulang, saya ingin kenal kamu dalam keadaan yang lebih baik.