Monday, November 29, 2010

Mungkin andai mungkin



Lalu saya berfikir. Hmm, mungkin lebih tepatnya merenung agaknya. Setelah tetes terakhir hujan turun malam ini, ketika bulan dengan malu-malu mulai bersinar di gelapnya malam. Ketika angin ikut serta meramaikan hening dengan dingin yang dipancarkan auranya. Sesekali masih ia bawa turun bersama dengannya bulir-bulir air yang malas turun beserta kawanannya beberapa jam yang lalu. Bunyi gemerisik dedaunan yang dipaksa bergoyang oleh angin menambah syahdu malam biru, malam kelabu.
Lalu saya berfikir. Lebih tepatnya merenung,  kenapa hujan turun malam ini. Dengan cerah dan teriknya cuaca siang tadi tak pernah terbayangkan betapa mendung dan kelabunya malam ini. Sejatinya memang gelap, namun tanpa bintang dan rembulan lebih tepat bagaikan pemadaman listrik di perumahan. Yah, memang mati lampu juga sih tadi beberapa jam yang lalu. Menandai euforia malam dan hujan atas manusia. Kalau sudah begini, yang ada hanyalah bergelung dalam selimut tebal setelah menyantap makan malam dan segelas susu hangat. Tapi saya tidak. Saya berfikir, lebih tepatnya merenung.
Mungkin saja malam marah karena ada yang tak tunduk oleh kedatangannya, bagaikan kepala negara yang tak dihargai kehadirannya. Oleh sebab itu ia turunkan pengawalnya bernama hujan dengan senjata peluru-peluru tajam yang mengoyak jubah-jubah angin dan menembus kulit-kulit bumi, untuk menangkap, merengkuh dengan kukuh setiap mereka yang tak tunduk tadi. Ada apa gerangan pada langit yang hanya menyaksilan saja kecamuk ini terjadi. Bulan sang hakim adil yang ditunjuk langit tak keluar malam ini. Mungkin telah pula ia disogok dengan bermilyar-milyar kemewahan sehingga senang ia untuk tak tampil. Atau pikirku yang kusebut merenung tadi mungkin saja ia mau hadir namun tentara-tentara malam yang telah berkuasa semenjak lama itu menghadangnya di tengah jalan, menghalanginya dengan begitu banyak rintangan hingga tak sampai ia melihat semua ini. Sang awan gemawan yang mendung.
Saya masih berfikir, merenung lebih tepatnya. Duaratus empat puluh langkah kaki kiri dan kanan telah sudah saya gerakkan menyusuri jalan yang basah sehabis peperangan tentara malam bernama hujan beberapa saat tadi. Bulir air yang terkandung di dalam hembusan angin dingin telah pula membasahi baju kaos dan jins yang saya kenakan. Dinginnya sampai ke tulang, menggemeretakkan gigi geligi ini saling beradu. Lampu-lampu rumah penduduk telah pula redup satu persatu menghantarkan sang empu keharibaan lelap. Malam ini tikus-tikus got pun bahkan tak berani berlarian di jalanan karena dingin yang teramat menusuk. Tak ada maksud untung menghitung langkah sebenarnya, hanya saja untuk mengimbangi gemeretak gigi akibat dingin, berharap dengan berfikir masih bisa menyisakan sedikit kewarasan buat tetap bertahan dengan kehangatan.
Saya berfikir, merenung lebih tepatnya. Beginilah rupanya yang dirasakan oleh gadis penjual korek api yang kedinginan di tengah salju di malam natal. Andai keajaiban dongengnya itu bisa juga saya rasakan saat ini. Lalu akan saya hidupkan tiap-tiap batang korek api itu sambil menghayalkan semua yang saya impikan selama ini. Semua ?? Hmm, barangkali kata itu tidak cukup pantas untuk mewakili satu hal. Dibandingkan kehangatan selimut di rumah, hidangan lezat pengisi perut, alunan lagu syahdu penghantar tidur, yang saya butuhkan saat ini hanya kamu.

Saya berfikir, mungkin lebih tepat bila disebut merenung. Andaikan hidup bisa diulang, saya ingin kenal kamu dalam keadaan yang lebih baik.

Thursday, November 11, 2010

Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman

Karya Andrea Hirata

Orang asing
Orang asing
Seseorang yang asing
Berdiri di dalam cermin
Tak kupercaya aku pada pandanganku
Begitu banyak cinta telah mengambil dariku


Aku kesepian
Aku kesepian di keramaian
Mengeluarkanmu dari ingatan
Bak menceraikan angin dari awan

Takut
Takut
Aku sangat takut
Kehilangan seseorang yang tak pernah kumiliki
Gila
Gila rasanya
Gila karena cemburu buta
Yang tersisa hanya kenangan
Saat kau meninggalkanku sendirian
Di bawah rembulan yang menyinari kota kecilku yang ditinggalkan zaman

Sejauh yang dapat kukenang
Cinta tak pernah lagi datang

Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman
Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman

Wednesday, November 3, 2010

Road to the last chapter, huh?

Sudah awal bulan lagi. Sementara beberapa kalangan di luar sana tengah berbahagia menikmati hasil kerja bulanan mereka, di sini masih juga dengan serba berbagai hal dalam hal berlawanan tentunya. Kali ini betul-betul harus belajar bagaimana caranya bertahan hidup dengan apa pun yang ada. Bermanfaat juga sih keadaan seperti ini, jadi lebih menghargai setiap yang ada. Sekarang gak pernah lagi menyia-nyiakan apa yang dimiliki walau pun itu kelihatan tak layak oleh sebagian besar orang.

There is no way home

It trully happen on me. Benar-benar gak punya yang namanya rumah, tempat untuk pulang. Mungkin itu sebabnya hati ini gak pernah merasa tenang. Bawaannya selalu saja gelisah, sama sekali gak ada rasa nyaman dan tenang. Mungkin untuk beberapa waktu saja kutemukan ketentraman itu, di rumahNYA. Selain dari itu saya merasa bagaikan musafir yang tak jelas arah tujuan, perjalanan yang begitu panjang sementara jiwa dan raga ini sudah pula menjerit karena terjerat kelelahan yang semakin mencapai kulminasi.

Ujung dari semua ini ?

Hm, Saya semakin pesimis apa ada akhir dari semua ini. Suatu tempat dimana saya bisa menetap, merebahkan tubuh lelah ini tanpa ada rasa was was dan cemas. Dulu, sebelum memulai semua ini, perjalanan panjang ini sempat saya berfikir dan merencanakan tujuan akhir yang kan saya capai. Saya tuliskan semua dalam ingatan harapan agar terangkat semangat setiap patah arang jiwa. Namun seiring semakin jauhnya perjalanan dan semakin banyaknya rintangan semua itu terlupakan karena sibuk menghadapi segala permasalahan ini.
Sekarang hendak ke mana? Andaikan ada jawaban dari semua ini tentu kan mudah perjalanan ini. Tak ada rambu yang mengingatkan di tengah perjalanan. Sementara teman sesama musafir telah pula banyak menemukan jalan lain masing-masing, semakin dekat ke arah tujuannya. Sementara saya?
Kesepian.