Monday, August 30, 2010

Pengumuman..pengumuman...!

Here is the Announcement,

Friend of mine a.k.a teman saya baru saja mendirikan sebuah badan usaha yang bergerak di bidang desain arsitektur, general konstruksi, dan fotografi. Usahanya antara lain meliputi :
  • Konsultan Arsitektur, Konsultan Skripsi & Tesis Bidang Arsitektur
  • General Konstruksi
  • Desain Interior, Desain Eksterior, Desain Photo, Desain Undangan & Desain Website
  • Pre Weeding & Weeding Photografi 
Jadi untuk anda-anda semua yang kebetulan singgah di blog ini, yang secara sengaja atau pun tak sengaja membuka halaman ini saya anjurkan sekali untuk segera mengunjungi homepage ini.  sebagaimana seorang dokter menganjurkan pasiennya untuk minum obat 3 kali sehari.  

Kenapa ?
Karena usaha teman saya ini saya yakin akan memuaskan dan menghilangkan dahaga anda-anda semua yang butuh perubahan suasana yang lain daripada yang lain pada rumah atau tempat anda bekerja.

Di samping itu bagi yang telah pula berencana untuk menikah dalam waktu dekat ini anda juga bisa menggunakan jasa dari badan usaha ini untuk desain undangan sekaligus mengabadikan momen bersejarah dalam bentuk fotografi.
Jadi, please come in to this ,Saya yakin anda akan puas dengan pelayanan dari mereka. Karena setahu saya yang punya usaha ini orangnya telaten, kerjanya rapi, teratur, dan mengerti dengan keinginan pelanggan yang menggunakan jasa konsultan ini.



Untuk keterangan lebih lanjut anda semua bisa klik di sini !

Sunday, August 29, 2010

Butuh jasa konsultan Arsitektur, General konstruksi,desain, dan Fotografi ??

Untuk Anda semua yang membutuhkan jasa bidang Arsitektur, general konstruksi, desain, dan fotografi, anda bisa dapatkan pelayanan yang dijamin memuaskan dan sesuai selera anda di sini :

 CV. ANUGERAH UTAMA

Usaha ini bergerak dalam bidang :

  • Konsultan Arsitektur, Konsultan Skripsi & Tesis Bidang Arsitektur
  • General Konstruksi
  • Desain Interior, Desain Eksterior, Desain Photo, Desain Undangan & Desain Website
  • Pre Weeding & Weeding Photografi 

Jadi silahkan kunjungi kapan saja anda semua membutuhkan jasa tersebut.
Silahkan klik di sini

Tuesday, August 24, 2010

Leave it behind

Ada orang yang memiliki kesempatan dan kemampuan, namun tak bisa melakukan apa yang diinginkannya.
Ada orang yang berjuang sepenuh hati segenap jiwa untuk meraih impiannya, namun tak bisa teraih sama sekali.
Terlepas dari itu semua, tentu saja ada juga kondisi yang lebih menguntungkan. Yang mampu melakukan apa yang diinginkannya karena memiliki kesempatan dan kemampuan. Ada juga yang tak perlu berusaha sama sekalu namun apa yang dikehendakinya datang begitu saja di hadapannya. Senangnya andaikata hidup bisa demikian.
Namun, bagi yang mendapatkan kondisi dua di atas, yang tak beruntung dan selalu dipermainkan oleh nasib adalah sangat sulit untuk percaya kembali dengan impian dan harapan. Apa-apa yang dahulunya tampak mudah dan bisa teraih namun pada akhirnya hanya berujung untuk melakukan sesuatu yang harus dilakukan, bukan sesuatu yang ingin dilakukan.
Di mana letak harapan dan impian bagi segelintir orang yang berada dalam posisi tersebut? Mereka yang selalu dipermainkan oleh takdir, yang menjadi korban iming-iming dari impian yang dulu sewaktu kecil digembar-gemborkan oleh orang-orang dewasa. Akankah semuanya hanya berakhir menjadi sebuah ninabobo yang memudahkan seseorang terlelap? Akankah semuanya hanya akan berakhir sebagai rayuan agar orang bisa tetap hidup dan menerima nasib apa adanya?
Bukan maksud hati untuk pesimis, cuma setelah dipikir lama dan menjalani proses yang tidak mudah, akhirnya muncul pikiran seperti ini. Untuk pengemis yang sedari kecil hidup dari meminta-minta di perempatan jalan, di mana letak harapan memeluk cita-cita mereka? kapan kiranya kebahagiaan datang menghampiri mereka? secara kasar bisa dikatakan sepanjang sisa umur mereka akan dihabiskan dalam kehidupan seperti itu terus menerus. Mungkin ada satu atau dua yang bisa terlepas dari belenggu kesulitan hidup semacam itu, namun untuk mereka yang lain ? yang jumlahnya ribuan orang lagi? saya kembali mempertanyakan di mana letak keadilan bagi mereka yang berada dalam posisi ini. Dimana letak berfungsinya kata-kata manis itu, pengumbar semangat itu, yang katanya semuanya bisa berhasil dan diraih dengan usaha dan kerja keras? Ujung-ujungnya semuanya akan berakhir dengan kepasrahan dan mencoba bahagia dan puas dengan bentuk kehidupan seperti itu. Dan kekayaan, kehidupan mapan, kehangatan rumah tangga, hanyalah nyanyian pengantar tidur atau mungkin sekedar dongeng saja. Bukan untuk dipercaya, namun hanya untuk penghibur agar tidak banyak yang menyerah dengan keadaan mungkin. Sepertinya terlalu banyak yang dibohongi jadinya.

Sunday, August 15, 2010

Kereta yang telah jauh pergi

"For what it’s worth, it’s never too late, or in my case too early, to be whoever you want to be. There’s no time limit... start whenever you want... you can change or stay the same. There are no rules to this thing. We can make the best or the worst of it. I hope you make the best of it. I hope you see things that stop you. I hope you feel things that you never felt before. I hope you meet people with a different point of view. I hope you live a life that you’re proud of and if you find that you’re not, I hope you have the strength to start all over again." 


Dan berangkatlah saya dengan tergesa-gesa, ke stasiun tempat tujuan saya di mana. Tempat pemberhentian sekaligus penjemputan yan g telah pula saya idam-idamkan keberadaannya. Tadi malam telah saya impikan tentang semua. Tentang cita, cinta, harapan, dan impian yang telah sekian lama saya lekatkan dalam mimpi hati. Telah pula jauh hari saya persiapkan tentang ini semua, tentang keberangkatan ini. Saya beli tiket jauh-jauh hari, bukan untuk mendapatkan suatu harga yang murah, tapi karena impian yang nyata telah ada di depan mata. Saya persiapkan bekal sebaik-baiknya, saya periksa kelengkapannya setiap hari. Bahkan menjelang keberangkatan itu semakin sering saya melakukannya. 
Ketika saya yakin seyakin-yakinnya bahwa semuanya telah pula lengkap tersedia, saya kantongi karcis yang ada, saya susun bawaan di depan mata, dan tertidurlah saya menunggu pagi tiba. Dengan gelisah gembira dan penuh impian yang akan segera teraih di depan mata. Malam itu saya bahkan telah pula merasakan bau asap kereta yang akan membawa impian saya. Dekat terasa, hanya terpisahkan oleh sang malam. Saya sadari ini adalah malam paling lama yang pernah saya rasakan.
Tunggu saya, sekejap setelah malam ini berakhir, saya akan berada di sana, ke tempat tujuan sempurna.
Mata terpejam.



Lama..



Pagi menjelang.


Mata masih terpejam.


Dan begitulah adanya, ketika saya terjaga, semuanya telah berubah. Saya pacu langkah menujunya, hening. Setibanya di sana, sepi. Di mana kereta saya ? Di mana keberangkatan saya, tuan?
Tiada. Semuanya sudah terlambat. Usaha yang telah pula kamu pupuk lama, kamu daya upayakan, sekejap sirna karena malam yang mengharuskanmu terlelap, walau sesaat. Sekejap saja sudah cukup untuk membuyarkan semua. Mengubah semua yang ada. Dan kereta itu pun telah jauh pergi.


(Malam 5 Ramadhan, ketika tak tahu akan berbuat apa, hanya sekedar tulisan centang perenang..)

Wednesday, August 11, 2010

Not goodbye, just see you again.




Setahun yang lalu...

"Hei, Kita berpisah di sini. Sekarang saya harus pergi lagi. Kau akan baik-baik saja,kan?," dia berujar kepadaku dengan pandangan lurus menusuk sanubari. Entah kenapa setiap bertemu dengannya serasa diri ini mampu ia telanjangi. Sehingga mudah bagi hati untuk menumpahkan semua problema yang ada.
"Yeah, Saya akan baik-baik saja. Pergilah. Rasanya saya sekarang sudah cukup kuat untuk bertahan."
Demikian aku meyakinkannya. Sejujurnya berlawanan sekali dengan apa yang ada di hati. Kuat? Satu kata ini ternyata belum bisa didefinisikan oleh jiwa ragaku. Aku cuma mencoba untuk meyakinkannya bahwa semua bantuan yang telah kuperoleh darinya selama ini telah banyak menempa diriku menjadi pribadi yang lain, pribadi yang kuat pikirku. Oke, saya sedikit berbohong. Dan Aku sadari bahwa dia menyadarinya.
Dia tersenyum, aku ingat kali senyumnya saat itu. Bahkan jumlah awan yang berarak sore itu pun aku masih mengingatnya. Senyum seseorang yang tak ingin pergi namun harus pergi. Ia mencoba menguatkanku dengan tatapannya, mencoba menghiburku, mengeluarkan potensi yang selama ini ia katakan tertimbun jauh di dasar jiwaku. Dia bilang telah kulupakan semua potensi itu. Like I have.
"Baiklah, di sini kita berpisah. Aku yakin kau akan baik-baik saja. Hm, tahun depan jika berjodoh kita akan bertemu lagi.." Ujarnya kemudian di ujung senyum sendunya.
"Yeah,tahun depan..mungkin." Jawabku.
"Boleh ku tahu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini? "
Lama ku terdiam.
"Hm, sama seperti malam-malam sebelumnya. Mencoba untuk menguasai dunia..", ku coba berkelakar seperti cuplikan dialog film kartun pinky and brain.
Dia tetap tersenyum. Tak berubah, seolah menunggu kata-kata berikutnya keluar dari mulutku.
"Hm, tenang saja. aku pasti akan menjadi lebih kuat lagi,kok. Bantuanmu telah banyak artinya bagiku. Jadi serahkan sisanya padaku. Aku pasti bertahan, dan kalau bukan karena ajal aku pasti akan menemuimu lagi segera entah di belahan bumi mana lagi kita bertemu. Setidaknya tidak akan berakhir di acara TV tentang kriminalitas,deh." Lanjutku
"Kau kuat. Kau harus tahu itu. Tuhan pasti punya alasan mengapa memberi ujian seperti ini. Dulu, dulu sekali, telah banyak pula orang-orang yang kutemui yang mengalami ujian hidup seperti ini, bahkan lebih. Dan mereka berhasil keluar dengan kemenangan di hatinya..."
"...kau pun pasti bisa. Aku yakin itu. "
Dirangkulnya tubuhku, erat. Begitu eratnya sampai getaran tubuhku menahan tangis ini terasa olehnya. Dan angin seolah tahu isi hatiku saat itu menari gemulai diantara pepohonan, menyejukkan suasana. Mentari telah pula akan terbenam di barat ketika semua itu terjadi.
"Aku pergi, yah. Sampai jumpa lagi. Jaga diri selalu."
Kata-kata terakhir darinya dan ia pun berlalu. Sekejap terbersit di hatiku, kami tak kan pernah bertemu lagi.



Hari ini..

Dia datang lagi. Dengan senyuman yang sama. Bahkan kupikir sepertinya aku ditarik ke masa setahun yang lalu. Teman lamaku. Bertemu lagi kami akhirnya. Semua tentangnya mengalir deras dalam ingatanku. Sebulan ke depan lagi aku kan bersama dengannya.


Dia Ramadhan.

Tuesday, August 10, 2010

MIdnight Lullaby


On the surface, I was calm: in secret, without really admitting it, I was waiting for something. Her return? How could I have been waiting for that?

We all know that we are material creatures, subject to the laws of physiology and physics, and not even the power of all our feelings combined can defeat those laws. All we can do is detest them. The age-old faith of lovers and poets in the power of love, stronger than death, that finis vitae sed non amoris, is a lie, useless and not even funny. So must one be resigned to being a clock that measures the passage of time, now out of order, now repaired, and whose mechanism generates despair and love as soon as its maker sets it going?


Must I go on living here then, among the objects we both had touched, in the air she had breathed? In the name of what? In the hope of her return? I hoped for nothing. And yet I lived in expectation. Since she had gone, that was all that remained. I did not know what achievements, what mockery, even what tortures still awaited me. I knew nothing, and I persisted in the faith that the time of cruel miracles was not past. 

Monday, August 9, 2010

Kill the Rich

The sky is still falling, is there any end in sight?
And some are talking to themselves as missiles fly through the night
But in the beginning there were words with half a cause
Now everyone is singing it and waiting for the applause






They don't think about you when the payments keep on coming
But only to use you for a way



To make themselves appear like an angel in the room
They soothe their guilty conscience and tell it what to do
Synthetic compassion and some poor-mouth bad advice
To get ahead they lay in bed and sleep safe all through the night



A million to nothing, like zombies they are frightening
Just smile and wave and pass on by
Denial is so strong but the guilt just keeps it going
And give them a reason to say "hi"

Friday, August 6, 2010

Maybe

Hmm, I can write this anywhere, can't I ?







I can start telling this story from wherever I like, right ?!
I know.. I'll start it from here..

It was clouds that makes sky became dark that day


And rain must fall. However, I enjoy it.
Maybe caused too long me, myselff, stand in the dark side,


"You have to keep your body health !", She always remembering me 'bout this again and again.
So it resound in my head.
Waited for the rain, till its gone.


Hey, it's warm now. Rain was stopped..


And then I see someone beside the street..


Hmm, nice girl. Would you mind hang around with me ?



And set the end of the day seing the sunset together.
Just want to forget memory of you with another. I though I can.
No, I can't..



It was you that remembered me to the sea, 
not the sea remembered me about you.


But you've already gone. So far away.
If I could see you again.


So I forced to erased that memory with drinks that night,



And I'll be so alone without you,
Maybe you'll be lonesome too ?



Got drunk, headache, sleep at the garden.




Dear, someone there,


Since I'm not that great at writing things down, I may have missed something..
But there's one thing I know for certain,
that I miss you too much.

Wednesday, August 4, 2010

The day after

Seandainya mereka tahu bahwa hidup ini keras, maka mereka akan memilih untuk kalah dari pertarungan demi suatu kelahiran.
Andaikan mereka tahu hidup ini butuh perjuangan maka mereka akan bersiap dengan segala bekal persenjataan, atau undur diri dalam kekalahan yang terlalu awal.
Andaikan mereka tahu bahwa tak mudah untuk meraih bahagia, mereka akan berusaha menghargai tawa dan canda.
Andai mereka tahu bahwa kekalahan itu menyakitkan maka mereka akan berusaha untuk selalu menang atau sekalian saja untuk tidak memulai pertandingan.
Andai saja mereka tahu bahwa selalu ada perpisahan, maka kan mereka habiskan setiap waktu demi kenangan indah atau sekalian saja tak pernah bertemu.
Andai saja mereka tahu sepi itu menyakitkan, maka berteriak kan jadi pilihan utama dalam setiap perjamuan pertemuan.
Andai saja mereka tahu semuanya kan berahir, maka kan dipercepat sebuah awal atau diperlambat jalannya waktu demi sebuah pengendalian masa akan tekad berkepanjangan yang takkan lapuk pun tak terurai, atau sekalian saja jangan pernah bermula.
Andaikan mereka tahu semuanya kan berujung pada air mata maka kan mereka soraki gelak tawa dan mereka rantai derita luka setingginya sejauhnya sedalamnya hingga hilang hingga lenyap hingga buyar hingga raib.
Tapi mereka tak tahu, pun tak pernah ingin tahu.
Biar berjalan apa adanya.
Semoga ini cepat berakhir.


P.S. Tunggu saya di sana,ya.

Tuesday, August 3, 2010

Dream a little dream of me

Sewajarnya mimpi itu hadir ketika seseorang tertidur. Maka Berceritalah saya tentang mimpi, kepunyaan saya pastinya. Namun ini semua terlahir bukan dari buah lelap bergelung selimut beralaskan bantal di kepala. Bukan. Ini mimpi yang terlahir dari mata yang terang terbuka. Dari kesadaran yang seutuhnya hadir. Hanya saja untuk mengingatnya akan terasa bermakna jika saya pejamkan mata. Hm..
Alkisah, terdapatlah malam yang dengan angkuhnya merangkuh dunia dalam gelapnya. Bulan adalah pembantu setianya, yang sengaja ia bebaskan dari perbudakannnya untuk memperjelas keberadaannya di singgasana. Dan bintang sebanyak apapun mereka bergemintang tak lain dan tak bukan hanyalah kaum terisolir yang tak berani mengambil kuasa darinya, dari malam. Maka memilih mereka untuk menjauh sejauh-jauhnya hingga butuh cahaya untuk menjadi satuan ukur keberadaan mereka. Mereka banyak, cuma tak berani mendekat. Hanya sesumbar kata-kata ego saja yang dikenal oleh semua, bahwa mereka terang, bahwa mereka raksasa penguasa cahaya, bahwa keberadaan mereka akan membakar semua. Tapi itu hanyalah sesumbar, setidaknya bagi kami. Kalian tak pernah ada di sini. Kalian jauh di sana, hanya menunjukkan letak pengharapan yang membuat kami berharap dan menggantungkan cita kami pada kalian. Bahkan cahaya kalian pun tak pernah ada bagi kami. Itu pula yang ingin kalian banggakan. Itu pula yang kami jadikan tempat bergantung. Tidak. Pada akhirnya sebagaimana awalnya kami pun harus pula mengalah. Pada malam, pada kelam yang ia bawa.
Lalu sang penguasa sebagaimana waktu-waktu sebelumnya menunjukkan kedikdayaannya di mata kami semua. Ia telan sang surya yang menjadi pahlawan kami satu-satunya, yang begitu kami banggakan dan harukan ketika pertama bersua. Sekarang telah pula kami terbiasa, karena sekejap ia berjaya sekejap pula ia menderita. Kalah yang terus berulang-ulang. Sama dengan kami, harapan kami tepatnya. Hilang timbul. Sampai-sampai itu semua menjadi tontonan saja bagi kami, tiada yang spesial lagi. Sial.
Namun kali ini ada yang berbeda. Malam terasa tak terasa. Bisakah dirimu membayangkannya? merasakan sesuatu yang tak terasa. Menyadari sesuatu yang tiada. Kenisbian yang berwujud. Apalah kalimatnya bagimu. Ada yang hilang, sirna. Bukan derita dan luka yang dibawanya, bukan. Pun bukan pula bahagia dan jumawa yang membahana, bukan juga. Tapi ia mengalir seakan menghanyutkan materi paling penting yang membangun ini semua. Bagaikan tenggelam di udara. Penyebabnya?
Tak tahu lah saya. Mungkin kerana bintang yang telah terlalu jauh mengambil jarak, mungkin karena bulan yang ragu tuk terus terbelenggu dan memilih menjauh bersatu dengan kumpulan gemintang. Mungkin kerana sang surya yang menyerah kalah dan tenggelam buat terakhir kalinya di ufuk barat senja ini. Mungkin malam yang telah pula kehilangan tempat ia berkuasa, tempat ia menunjukkan kemahaannya. Tempat ia mengungkung semua dalam kelam.
Mimpi apa sebenarnya yang seperti ini? Aneh pula kedengarannya, apalagi kelihatannya. Begitulah, sekaing anehnya sampai ketika terjaga kelu rasanya lidah tuk berkata, bahkan tuk mengingatnya saja serasa gila.
Kenyataan. Itu lah pula yang membuyarkan semuanya. Menjadikannya lenyap menyatu dengan semesta dan menujukkan keadaan nyata. Nyata sudah semuanya. Apa ? masih jugakah tak sadar dan tak mau menerima? Nanti kudatangi lagi kamu dengan mimpi tentang kekalahan malam sekaligus kegagalan terang. Tentang menjauhnya bintang-bintang dan lenyapnya bulan. kamu pasti takut, berlari sekencang-kencangnya ke peraduan, menutup sekujur tubuh yang berkeringat dingin namun tetap menjaga mata agar terbuka.
Semoga ada yang mengerti ini semua.

Monday, August 2, 2010

Time after time

Kenapa begini lagi jalan ceritanya, heran saya
Bukan begini seharusnya yang terjadi, setidaknya rencananya bukan seperti ini
Lalu, apa mau dikata...


Langit sore ini begitu gelap, dari siang telah bergelayutan di atap dunia kumpulan mega mendung, siap menghantarkan hujan. Tak jelas kapan akan turun, mungkin nanti malam. Kalau sudah begini perasaan jadi gak menentu. Seakan tiba-tiba tirai besi dihamparkan di sekeliling, mengungkung, mengurung.

Perasaan hati adapun kalau ia memiliki citra perwujudan materi maka akan tampak bagai sesosok pengemis tua berbalut kain rombeng kusam dengan tangan menengadah meminta-minta. Meminta harapan, meminta pengharapan. Maka Engkau berikanlah kiranya recehan-recehan yang tak Kau anggap berguna itu, yang ku anggap berarti sangat pastinya. Diam.

Duabelas gelas telah pula hilir mudik antara dapur dan ruang kerja. Mengisi lambung yang tak lagi utuh sehatnya. terus diguyur basah oleh kafein pekat, sekedar guna melahirkan sang endorfin. Rokok tak ketinggalan. Belakangan jadi hobi mengepul-ngepulkan asap. Terasa nyaman, kalau kau tak percaya. kau benar makanya kutiru. Kalau kau dengar maka tertawa kau pastinya dengan suara tawamu yang aneh di telinga.

Duapuluh enam adalah abjad yang telah pula kuutak-atik demi merangkai kata agar bagus terbaca agar indah tercurah agar dimengerti, kau mengerti. Sudah pula ia menyamai bunyi rintik gerimis hujan yang mulai senang berlarian di atas atap rumah. Kupacu lebih cepat agar tak terdengar langkah mereka, takut menyelimuti jika mereka datang bersamaan. makin kelam saja ruangan ini jadinya. Aku tak mau.

Hujan. Kumpulan mega mendung bertabrakan di langit, bersorak seakan habis memenangkan pertandingan, mencurahkan berjuta galon minuman ke permukaan bumi. Basah. Kalian menang di atas sana. Tak terasa kemenangan itu oleh saya di bawah sini. Heran saya.Kalah alunan ketik saya, mengundurkan diri akhirnya, bergelung dalam selimut tebal. Entah sampai jam berapa. Alarm sengaja tak kuhidupkan, berharap ketika bangun adalah kejutan terbesar dalam keseharian ini. Wuah, kok berharap lagi. Mengemis lagi artinya. Terserahlah.

Selamat malam.