Rabu dini hari. Makin dekat menuju pergantian tahun. Di sini, di kamar ini, bagaikan ruang hampa, sunyi dalam senyap. Benarkah begitu ? Atau mungkin pendengaranku saja yang menjadi semakin peka secara aktivitas di luar sana sudah mulai berhenti semua agaknya. Denting jarum jam di ruang tengah sana bahkan bagaikan dentuman drum yang memekakkan malam. Hari ini sudah bergelas-gelas kopi meluncur ke lambung beserta ampasnya yang akhir-akhir ini jadi kebiasaanku buat turut diemut. Ada seseorang yang menganjurkan padaku beberapa masa yang lalu. Di sana dia berada, ratusan kilometer di ujung swarnadwipha ini, terlelap dalam tidur dan mimpi indahnya, mungkin. Saya harap begitu.
Kesepian. Di jalan menuju penemuan jati diri ini akhirnya kutemukan juga ia sebagai teman akrab. Dia begitu baik walau sudah kuusir berkali-kali dengan keramaian. Selalu tersenyum meskipun kuhardik ia dengan kerasnya kata dan umpatan. Diselimutinya aku saat dingin mendekat, bukannya memberi kehangatan malah makin menambah dingin jiwa dan raga sekaligus. Menyerah, kupasrahkan diri dan kuakrabkan hati dengannya. Senang dia, kini melekat terus denganku, ikut kemana pun aku pergi, rumah kura-kuraku.
Pukul dua lewat lima menit. Belum juga ada niatan untuk tidur. Akhir-akhir ini insomnia ini tambah parah saja agaknya. Obat tidur pun sudah tak ampuh lagi buat mengakali mata biar cepat terpejam. Dari pada bengong, kutuliskan juga semuanya di sini. Tak ada ide sebenarnya mau menuliskan apa. Bosan juga akhirnya kalau harus menulis hal-hal sedih dan desperate melulu. Namun tak pula ingin jadi orang yang munafik, sok-sok an bercerita tentang hal bahagia yang nyatanya sama sekali tidak dimiliki diri ini. Oke lah, kucoba buka brankas memoriku untuk mencari-cari jika ada hal-hal bahagia yang dapat kutuangkan lewat tulisan. Hmm, let me see.
Hmmm...
Hmmmm....
Hmmm....
Hmmm, gak ada rupanya. Ada emang, cuma endingnya itu yang awak ni tak suka. Malas untuk mengingat lagi, siapa pula tadi yang menyuruh membuka memori !!
Bengong lagi . Coba buka facebook, baca-baca status teman sepanjang hari ini. Hm, iri juga, kok bisa-bisanya mereka begitu bebas menuliskan hal-hal yang saya anggap terkadang konyol dan gak ada artinya sama sekali. Ada yang mau tidur lah, harus diumumin dulu ke semua, ada yang lagi makan lah terus ditulisin detail yang dimakan. Habis itu banyak pula lagi yang ngasih comment. Kadang ada rasa iri juga jujur ku ungkapkan. Pernah kucoba buat meniru mereka, menulis hal-hal yang sepele, gak ada tanggapan, akhirnya malu sendiri. Enough. Buatku untuk mendapatkan comment (baca, perhatian, red.) dari orang lain setidaknya harus menulis dulu pengalaman pahit dengan memilih kata-kata yang hiperbolis sedikit. Itu pun tanggapannya pertama pastinya pada tulisannya. “Wah, bagus banget tulisannya!”. Komen semacam inilah yang sering terdengar. Yah, aku cuma bisa tersenyum garing membacanya. Rupanya gak sesuai harapan dengan kenyataan. Ahahaha, gak tahu mereka bahwa sebenarnya aku sedang curhat. Cuma beberapa saja yang tanggap dan memberikan dukungan. Bukan salah mereka, memang aku nya yang punya sedikit teman dan cenderung menutup diri. Saya sadar sekali itu. Sekarang berusaha untuk sedikit membuka diri. Ku harap masih ada teman hingga tiba saatnya aku berubah nanti. I beg it.
Saat ini cangkangku masih terlalu rapuh, mudah pecah. Jangankan untuk dibawa berlari, diam saja aku khawatir akan hancur lagi. Bagiku hembusan nafas pun bagaikan puting beliung yang pastinya mudah menghancurkan cangkang ini. Coba disusun lagi satu per satu. Mengesampingkan segala hal yang tak berguna, mencoba untuk berlaku sedikit egois demi diri sendiri yang sudah begitu lama kulupakan. Menangis ? Berkeluh kesah ? Kalau ada waktu untuk itu semua, kenapa juga tak digunakan untuk yang lebih bermanfaat ? Tidur misalnya ?? Hm, benar juga. Okay, sudah setengah tiga lewat juga. Sleep tight there.
PS. Dear God, Shall I have to be a prophet first to get that miracle ? I’m not a prophet nor religious man..
Hai,teman. Salam hangat selalu, sahabat. Apa kabarmu di sana? Sudah lama kita tak bersua. Rindu aku tuk bertemu denganmu. Hmm,ironis sekali ya. Dulu, dikala kita masih bersama, menghabiskan waktu seharian penuh dengan hal-hal gila kesukaan kita, aku tak pernah akan berani berujar seperti ini. Tentu saja malu sekali rasanya untuk mengutarakan perasaanku padamu, kau pun pasti begitu kan. Ahahaha. Tampaknya aku masih temanmu yang paling mengerti dirimu.
Jadi bagaimanakah keadaanmu di sana? Banyak sebenarnya yang ingin kutanyakan kepadamu, sebanyak putaran jarum jam yang telah terlewati semenjak terakhir kali kita bertemu. Kali ini, banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu. Tampaknya kita butuh begadang semalam suntuk dengan ditemani entah berapa gelas kopi dan berapa batang rokok seperti yang biasa kita lakukan dulu. Winamp mu harus kamu hidupkan dengan ratusan lagu di playlistnya agar kita bisa bersenandung sesekali di sela-sela obrolan kita. Dan tawamu teman, aku masih ingat suara tawamu, dan aku adalah orang yang paling ahli dalam membuatmu tertawa. Aku masih ingat bagaimana raut wajahmu ketika menahan tawa karena tidak mau kalah dengan guyonanku. Aku tahu, teman, dulu aku paling suka memberimu semacam teka-teki yang kamu anggap jayuz dan lebay namun tetap juga bisa membuatmu tersenyum. Tanpa sepengetahuanmu untuk itu semua terkadang aku harus mencuri-curi baca majalah Bobo untuk mendapatkan teka-teki yang seru untuk kujadikan bahan tawamu. Hmm, aku terlalu malu untuk membelinya di depan orang-orang yang banyak berseliweran di kios buku. Aku suka melihatmu tertawa meskipun aku harus berbuat hal-hal konyol yang kamu anggap tak dewasa sama sekali.
Sekarang keadaannya sudah banyak berubah, teman. Kau sudah jauh di sana, ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya dari tempatku saat ini. Aku tak dapat menjumpaimu kecuali dari situs-situs pertemanan yang begitu marak akhir-akhir ini. Hmm, Kau tahu kan teman, aku tak hobi dengan hal-hal seperti ini. Aku orangnya memang terlalu kuno untuk membuat akun di situs pertemanan, bagiku bahkan lebih asyik jika kutulis sebuah surat kertas dan kukirimkan kepadamu. Walaupun suratku akan sampai kepadamu begitu lama, namun aku menikmatinya. Menunggu-nunggu kabar darimu, temanku tersayang. Seringkali setiap ku pulang ke rumah dengan buru-buru kulihat ke bawah pintu depan rumahku, apakah ada surat yang diselipkan tukang pos buatku, surat darimu kuharap. Yah, walaupun kadang kebanyakan kecewanya karena tak ada juga kabar darimu.
Di sini, di atas kertas ini, aku bisa berekspresi dengan bebas, aku bisa memilih kata-kata dengan lugas untuk kusampaikan kepadamu. Kau tahu sendirilah, aku tak pandai berkata-kata jika langsung berbicara denganmu. Aku pernah bercerita padamu kan, teman, bahwa aku seringkali membuat konsep dulu di secarik kertas jika ingin menelepon gadis pujaanku. Dan kau sering menertawakanku akan hal ini. Yah, kamu memang teman terbaikku.
Namun akhirnya aku juga ikutan menjadi korban dalam membuat akun di sebuah situs pertemanan atas anjuranmu, teman. Aku terlalu rindu dengan kalian semua, jadi kuceraikan sepi dan kucoba tinggalkan ia jauh di belakangku. Amboi, aku menemukanmu di sana, teman. Walaupun Cuma fotomu yang terpampang di sana. Kubaca berulang-ulang profilmu, tentang dirimu, buku dan musik kesukaanmu, hobimu, segala hal tentang dirimu yang kau tulis di sana. Kutemukan diriku masih mengenal dekat dengan dirimu. Yah, itu kamu. Senyummu masih sama di foto itu dengan senyummu yang kulihat beberapa tahun silam saat terakhir kali kita bertemu. Dan kulihat saat ini kehidupanmu pun telah jauh beda dari yang kuingat. Aku terkejut dengan begitu banyaknya teman yang kamu miliki di daftar temanmu. Aku sampai harus berkali-kali membalik halaman ini untuk melihat semua teman yang kau miliki. Hanya beberapa saja yang kukenal, selebihnya adalah wajah yang begitu asing bagiku. Aku bangga denganmu, begitu banyak orang-orang disekelilingmu. Dan kuperhatikan setiap kau buat status baru, setidaknya belasan temanmu akan langsung memberikan comment tentangmu. Aku? Hmm, aku tak seberuntung dirimu teman. Hingga saat ini hanya beberapa saja teman yang kumiliki. Tapi aku tetap bahagia, setidaknya ada kamu yang kumiliki di daftar temanku.
Tapi kulihat belakangan ini ada yang berbeda dengan dirimu, teman. Kau kehilangan keceriaanmu sebagaimana dirimu biasanya. Ku baca keputusasaan dan kegundahan selalu yang kau tulis untuk statusmu. Ada apa denganmu teman? Hal ini sungguh membuatku sedih. Adakah benar seperti itu keadaanmu di sana. Sungguh begitu ingin diriku berlari ke tempatmu, menemuimu, dan bertanya langsung perihal keadaanmu. Tak enak hatiku melihat dirimu dirundung sedih, teman. Tapi kau jauh di sana saat ini, tak dapat lagi kujangkau. Keadaanku pun kini sudah benar-benar mengenaskan. Andaikan ada sedikit saja semangat berlebih yang kupunya, rela tentunya diriku memberikannya kepadamu sekedar membuatmu jadi sedikit bersemangat menghilangkan gundah gulanamu. Tapi ku tidak punya semangat sebanyak itu, teman. Semangat hidupku hanya tersisa untukku bertahan hidup hingga sore nanti, dan ketika sore tiba aku harus membentuk semangat baru lagi untuk bertahan hingga esok paginya. Begitu seterusnya berulang dalam keseharianku. Dan tak jarang kutemukan diriku tak punya semangat hidup sama sekali.
Kumohon teman, berusahalah untuk mengatasi semuanya. Aku tahu kamu punya potensi untuk bisa mengatasi semua itu. Tak rela rasanya diriku untuk melihatmu bersedih. Andaikan ku bisa, akan kulakukan semua hal untuk membuatmu tersenyum kembali. Akan ku carikan lagu-lagu baru dari penyanyi favoritmu, ku copykan buatmu film-film tipikal kesukaanmu. Kubelikan bunga kesukaanmu dengan sisa-sisa uang bulananku. Ku pelajari kunci lagu kesayanganmu untuk kugenjreng dengan gitar di hadapanmu. Untuk membuatmu tersenyum, teman, aku rela menurunkan derajat diriku hingga dianggap konyol oleh kebanyakan orang dan juga dirimu terkadang. Namun sayangnya aku tak lagi bisa melakukan itu semua. Di samping jarak kita yang sudah terpisah jutaan panah, aku benar-benar tak punya kelebihan semangat hidup seperti dulu diriku yang kamu kenal. Untuk menulis ini saja harus kugunakan sisa-sisa semangat hidupku dan kukumpulkan semuanya dalam untaian kata, jadi janganlah kecewa jika kau lihat tulisanku agak pesimistis kelihatannya. Ingin rasanya kuberdoa kepada yang di atas sana demi kebahagiaanmu selalu. Namun untuk ini pun aku sudah tak tahu lagi apakah ada doaku yang bisa terkabulkan, khawatir hanya akan mengecewakanmu saja.
Ayolah teman, bangkit dan kuatkan dirimu. Kamu tidak cocok dengan kesedihan. Wajahmu tidak sesuai dengan kemurungan. Senyummu indah, teman. Bahkan rembulan pun akan malu tampil malam ini, kalah oleh senyumanmu. Aku rela tuhan pindahkan kesedihanmu untukku dan digantikan dengan kebahagiaanku untukmu. Bagiku tak apa demikian, karena sudah cukup bersahabat akrab diriku dengan kesedihan dan kesepian itu, jangan pula kiranya dirimu sampai harus merasakannya.
Aku memang tak tahu apa yang membuatmu gundah dan larut dalam kesedihan di sana. Jika ini masalah cinta, aku bersedia membantumu tuk mencarikan yang terbaik bagimu untuk menggantikan dia yang telah menyakiti hatimu. Jika ini masalah pekerjaanmu, aku akan bantu kamu menyelesaikannya, kalau perlu kita begadang lagi seperti dahulu. Setidaknya awalilah dengan optimisme yang tinggi teman, bahwa kamu bisa melalui semua ini. Kamu sadar kan, bahwa sebelum dirimu mendapatkan masalah itu kamu bisa hidup dengan wajar, bisa tertawa, bisa bahagia, lalu kenapa sekarang semuanya itu terhambat hanya karena sekelumit masalah ini teman. Kamu harus belajar untuk merelakan, akan lebih baik bagimu untuk kehilangan di saat kenangan bersamanya masih sedikit ketimbang saat dirimu telah bersamanya begitu lama dan berujung perpisahan. Toh, kalaupun dia memang jodohmu, dia pasti akan kembali lagi padamu. Biarkan tuhan yang bekerja untuk itu semua, teman. Cukupkan usahamu jika memang telah maksimal, jangan kau permalukan dirimu lebih dari ini. Percalah teman, semuanya akan indah pada waktunya.
Ku harap setelah membaca ini, kamu akan sedikit lega dan kembali bersemangat dalam menjalani hidupmu. Kau tahu, aku begitu bahagia jika membaca statusmu yang berisi optimisme, membaca canda-candaanmu dengan temanmu yang lainnya. Ada semangat hidup yang mengalir dari sana kepadaku. Begitu banyak orang yang peduli denganmu, teman, jangan kecewakan mereka. Jika kamu memiliki cinta yang begitu besar kepada seseorang yang mengecewakanmu, mengapa kamu tidak bisa memberikan sedikit saja cintamu itu kepada orang-orang yang begitu peduli kepadamu selama ini.
Belasan tahun silam ketika saya masih akrab dengan layangan, tongkak dingin, dan kelereng, saya sering melihat burung besi di udara yang dari ekornya mengeluarkan asap panjang yang membelah langit . Seringkali saya dan teman-teman sebaya berlari-lari dan berteriak seolah-olah orang yang berada di atas burung besi itu melihat ke bawah. Sekarang baru saya sadari, sudah lama saya tidak melihat asap panjang yang membelah langit itu......
Dari mikrofon di setiap ruangan di bandara ini sedari tadi dikabarkan pemberitahuan mengenai jadwal keberangkatan. Mulai dari pesawat yang baru saja mendarat, pesawat yang akan lepas landas, hingga nama-nama orang yang belum juga naik ke pesawatnya. Yah, kebiasaan seperti ini sudah terlalu akrab bagi saya belakangan ini. Bukan karena saya adalah petugas bandara, bukan, pun bukan karena saya seorang pilot atau pramugara, melainkan hanya seorang pengguna jasa sama seperti orang-orang lainnya yang sedari tadi menunggu jadwalnya di ruangan ini. Jujur saya katakan bahwa menunggu adalah pekerjaan yang membosankan namun saya rasa tidak akan ada pagi hari kalau kau tak sabar menunggu berlalunya malam. Jadi saya nikmati saja semua yang ada ini. Sedari tadi televisi yang di pasang di tengah ruang tunggu ini menyiarkan sebuah film dokumenter semacam national geographic yang ntah kenapa ternyata tidak berhasil mengambil perhatian orang-orang yang menunggu. Sesekali disiarkan juga iklan-iklan tentang daerah wisata yang ada di daerah-daerah. Hm, Cuma saya yang agaknya memperhatikan. Saya sudah berada dalam ruangan ini sejak satu jam yang lalu. Sekedar kau tahu saja, demi mendapatkan tiket yang murah maka saya terpaksa memilih keberangkatan yang waktu transitnya terlalu lama. Setidaknya lima jam lagi saya harus bersedekap di sini. Jadi sayalah penghuni pertama ruangan ini untuk hari ini. Beberapa orang tiba-tiba masuk melalui pintu ruang tunggu memecah sejenak lamunan saya yang sedari tadi ikut terbang bersama Garuda di ujung landasan pacu sana. Sepasang suami istri dengan anaknya yang digendong oleh suaminya melangkah di barisan depan, diikuti oleh seorang pria tua separuh baya yang jika saya perhatikan penampilannya seperti pegawai kantoran. Di belakangnya menyusul pria muda berperawakan seperti eksekutif muda dengan menjinjing tas laptop di tangan kanannya. Mereka lalu saya lihat melapor sejenak ke petugas di lobi ruang tunggu lalu memilih bangku untuk mengistirahatkan diri sejenak menunggu penerbangannya. Kulihat pasangan suami istri itu langsung menuju tangga bawah ruang tunggu untuk menuju ke kamar kecil dan musola, sedangkan sang eksekutif muda langsung sibuk dengan laptopnya. Namun pria tua tadi ternyata tidak langsung mengambil tempat duduk di ruang tunggu ini. Sejenak ia melihat dari pintu kaca mengarah ke landasan pacu melihat beberapa pesawat yang sedang parkir, lalu berjalan kembali ke arah pintu keluar, berdiri termenung sesaat, lalu masuk kembali dan sedikit ragu untuk menyandarkan tubuh tuanya di bangku yang berada dua barisan di depanku. Sesekali ia melirik kiri kanan seakan-akan ada mata yang mengawasinya. Dia membawa sebuah tas koper merk pollo kecil yang sedari tadi tak pernah lepas dari genggamannya. Di genggamannya yang satu lagi erat betul dipegangnya sebuah amplop berwarna putih yang sudah begitu lusuh, kalau saya tak salah mengira berisi tiket penerbangannya. Pasangan suami istri tadi masih belum kembali ke ruang tunggu dan sang eksekutif muda masih asyik dengan laptopnya ketika pria tua itu menoleh ke arahku yang tepat dua baris di belakangnya. Spontan saya pun menatapnya dan sedikit tersenyum sekedar berbasa-basi. Lama saya perhatikan ia melihatku seakan-akan ada hal yang ingin ia tanyakan sebelum akhirnya kudekati ia sekedar mencari teman ngobrol secara pesawatku pun masih terlalu lama datangnya. “Permisi, Pak. Ada yang bisa saya bantu ? saya lihat sedari tadi bapak kelihatan gelisah. “. Kuajukan pertanyaan kepada pria tua itu yang entah mengapa mengingatkanku kepada sosok ayahku sendiri. Dan tak perlu waktu terlalu lama buat saya untuk akhirnya membuat pria tua itu bercerita dan mengeluarkan uneg-unegnya. Hmm, memang benar kata salah seorang sahabat saya di jogja sana, Eka namanya, bahwa untuk didengarkan adalah psikologis dasar dari setiap manusia. Cerita punya cerita akhirnya tahulah saya mengapa sikapnya begitu gelisah sedari tadi. Bercerita ia tentang dirinya yang ternyata adalah seorang pengusaha yang cukup sukses di suatu kota besar, berceritalah ia tentang keluarganya yang terdiri dari seorang istri, dua orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki, berceritalah ia bagaimana ia bisa mencapai tangga kesuksesan dalam karirnya, berceritalah ia bagaimana ia mendapatkan cinta istrinya ketika muda dulu, berceritalah ia tentang bagaimana bahagianya ia ketika pertama kali mendengar tangisan malaikat mungilnya yang lahir dari rahim istrinya, berceritalah ia bagaimana ia begitu harunya membesarkan anak-anaknya hingga dewasa, berceritalah ia bagaimana kehidupannya sudah serasa sempurna dengan segala yang ada, berceritalah ia tentang semua yang ia anggap perlu dan harus ia ceritakan kepada dunia seakan-akan selama ini ia terasing seorang diri di sebuah pulau terpencil tanpa pernah berbicara dengan satu orang pun. Dan ceritanya sampai kepada bagian dimana ia kehilangan semua yang dimilikinya, perusahaannya, keluarga harmonisnya, ketika serombongan orang lagi memasuki ruang tunggu ini dan pasangan suami istri tadi masih belum juga kembali dari lantai bawah sedangkan sang eksekutif muda masih sibuk dengan laptopnya. Saya hanya bisa mendengar ceritanya dan sesekali mengangguk-anggukkan atau menggeleng-gelengkan kepala ketika tiba pada bagian yang begitu haru. Dan ketika pria tua ini selesai bercerita sedikit tampak dari raut wajahnya kelegaan seakan-akan baru saja diangkat dari pundaknya beban yang teramat sangat berat. Sementara saya yang mendengarkan menjadi termenung sendiri secara beberapa saat yang lalu saya masih larut dengan permasalahan pribadi saya yang saya pikir adalah permasalahan paling berat di dunia ini yang tak kan mungkin ada lagi masalah yang lebih berat dari punya saya. Well, you know, I’m absolutely wrong. Si Bapak kemudian menghela nafas panjang dengan pandangannya jauh dilemparkan ke depan sana mengikuti satu lagi Batavia Air yang melenggang ke udara. Dia kemudian berujar bahwa mungkin ini adalah kali terakhirnya melihat kota ini dan akan memulai kembali dari awal di suatu daerah tujuannya sana, semuanya. Saya tidak perlu menunggu pasangan suami istri beserta anaknya yang belum juga naik ke lantai atas atau sang eksekutif muda menutup laptopnya untuk menyadari bahwa saat ini saya begitu malu dengan pemikiran saya selama ini. Bagaimana bisa sang Bapak yang sudah mau udzur yang didera cobaan dengan kehilangan semua yang berarti dalam hidupnya masih bisa berkata untuk memulai hidupnya kembali dengan membuka lembaran baru. Ini menjadi sesuatu yang tidak masuk akal bagi saya. Saya tersandung batu saja sudah menangis meraung-raung dan meronta sejadi-jadinya sedangkan pria tua ini terjatuh dari lantai tujuh masih tetap bertahan hidup dan tegar walaupun kakinya patah, kepalanya pecah, dan darah bersimbah. Saya kembali teringat pada sebuah buku berjudul setengah isi setengah kosong yang dulu pernah dianjurkan baca oleh novi bahwa memang ternyata untuk sadar dari kesalahannya manusia itu perlu diperingatkan dengan keras. Di sini dalam buku tersebut diceritakan bahwa seorang pria itu harus dilempar kepalanya dengan kerikil agar ia tidak keterusan menginjak kabel listrik bertegangan tinggi ( saya agak lupa detailnya, intinya seperti itulah,red.). Hmm, untuk saya sepertinya harus dilempar dengan tembok beton dulu baru bisa sadar. Hahaha. Oke, itu benar, saya bisa terima.
Lamunan saya kemudian terhenti ketika pasangan suami istri beserta anaknya muncul ke ruang tunggu dan sang eksekutif muda menutup laptopnya, begitu juga dengan beberapa orang rombongan yang tadi masuk karena tampaknya pesawat mereka sebentar lagi akan diberangkatkan. Si bapak yang sedari tadi duduk di samping saya kemudian menyalami saya dan berujar terima kasih karena telah mendengarkan ceritanya. Saya doakan kemudian ia semoga selamat di perjalanan dan sukses di tempat tujuan. Berangsur-angsur mereka keluar menuju pesawatnya dalam barisan yang teratur, dan ketika orang terakhir melewati pintu keluar saya sadari bahwa saya sendirian lagi di ruangan ini. Petugas yang tadi menjaga lobby tersenyum simpul kepada saya ketika keluar ruang tunggu bersama salah seorang petugas lainnya setelah sebelumnya mengumumkan bahwa pesawat saya tertunda tiba di bandara ini kurang lebih dua jam lagi. Namun bukan itu yang menjadi pikiran saya saat itu. Saya kembali berpikir, dari cerita sang bapak tadi plus pengalaman saya selama ini, benarkah sudah tujuan hidup yang telah saya jalani selama ini. Apa benar jalan hidup yang sudah saya mantapkan ini. Saya sedikit ragu jikalau ternyata pesawat yang saya tunggu tidak juga datang. Bagaimana jika ternyata saya seharusnya berada di stasiun atau terminal karena yang akan menjemput saya bukan pesawat melainkan kereta api atau bus. Bagaimana jika serendipity yang saya percayai selama ini hanyalah fatamorgana dari keinginan yang tak punya wujud. Bagaimana saya bisa tahu bahwa semua ini akan berujung dengan happily ever after seperti penutup cerita-cerita barbie yang disukai novi, bagaimana jika bagian saya hanyalah just to pursue tanpa ada sedikitpun happiness di ujungnya seperti filmnya will smith, bagaimana saya bisa tahu Tuhan, bahwa saya masih kuat menghadapi semuanya secara jiwa dan raga ini sudah berontak untuk menyerah. Akankah saya akan terus menunggu di ruang tunggu ini dan melihat orang-orang terus berseliweran datang dan pergi sementara hanya kegagalan yang tampaknya jatuh cinta dengan saya akhir-akhir ini.
Belasan tahun silam ketika saya masih akrab dengan layangan, tongkak dingin, dan kelereng, saya sering melihat burung besi di udara yang dari ekornya mengeluarkan asap panjang yang membelah langit . Seringkali saya dan teman-teman sebaya berlari-lari dan berteriak seolah-olah orang yang berada di atas burung besi itu melihat ke bawah. Sekarang baru saya sadari, sudah lama saya tidak melihat asap panjang yang membelah langit itu....
Saya sadari belakangan ini saya banyak merenung, tentang semua yang telah saya perbuat selama ini dan pencapaiannya. Sudah maksimal rasanya yang saya perjuangkan selama ini. Namun terkadang dan acap kali hasilnya selalu saja jauh dari yang diharapkan. Dan ternyata luka dan deritanya jauh lebih besar dari bahagianya. Hm, tak apalah, sudah terbiasa begini. Ada satu hal yang belakangan ini mulai saya rasakan,teman. Bahwa sebentar lagi aku, kamu, kita semua akan memasuki sebuah jalan kedewasaan yang sebenarnya. Dunia orang-orang dewasa. Di sana kamu tidak bisa lagi terus-terusan mengeluh atas semua yang kamu alami. Kamu akan sering menghadapi masalah berat, dimarahi oleh atasan, dicurangi oleh rekan bisnis, belum lagi gaji yang kamu terima tidak mencukupi kebutuhan keluargamu. Saat-saat seperti itu kamu akan berfikir seribu kali untuk menghabiskan uang 20.000 untuk beli rokok atau untuk membeli susu buat anakmu di rumah, untuk membuat istrimu tetap tersenyum bahagia di rumah.
Seberat apapun permasalahanmu di tempat kerja, seluka apapun kamu akibat direndahkan oleh orang lain di luar sana, kamu harus tetap tersenyum ketika pulang dan menghadapi anak istrimu. Saat-saat seperti itu kamu benar-benar sendirian teman, tidak ada lagi tempat untuk berkeluh kesah karena kamu laki-laki. Dan saya katakan seperti ini karena memang saya berasal dari keluarga tak mampu yang sedari kecil sudah merasakan beratnya bertahan hidup untuk hari-hari ke depan.
Dan saya katakan seperti ini agar kamu, temanku, bisa kuat menghadapi hidupmu ke depan. Walaupun kamu bekerja di daerah yang jauh dari perkotaan, dengan gaji yang mungkin saat ini masih rendah, saya hanya berharap agar kamu selalu sabar dan profesional teman. Dan kamu akan menemukan kebahagiaan yang lebih ketika roda hidupmu berada di atas. Untukmu temanku yang ternyata bernasib lebih beruntung, kuharap kamu selalu bersyukur dan jangan tinggi hati karena tuhan bisa menjatuhkan derajat hambaNYA secepat IA menaikkannya. Ini yang terfikirkan oleh saya ketika kembali ke jogja beberapa hari lalu .
Cobalah berbaur dengan rakyat kebanyakan teman, akan kamu temukan esensi kehidupan yang jauh berbeda dari yang kamu pikirkan selama ini. Di sini roda kehidupan terus berputar, namun mereka selalu profesional dalam melakoni lakonnya masing-masing. Tak terpikirkan oleh mereka mungkin untuk membeli mobil mewah atau memiliki rumah megah. Agar terhidang saja makanan di meja makan untuk besok, itu sudah merupakan kepuasan besar bagi mereka. Dan kau lihat teman, senyum mereka lebih indah daripada senyum monalisa sekalipun.
Pisang-pisang ini adalah penyambung hidup mereka beberapa hari ke depan. Dan saya yakin kamu semua sudah belajar tentang itu semua teman. Tentang kerasnya kehidupan ini dan upaya untuk bertahan agar tidak terusir dari panggung kehidupan. Dan selalu ada cinta bagimu yang menjadi semangat penopang dan pendorong untuk melangkah ke depan. Pejuangkanlah selalu apa yang kamu butuhkan teman.. Untuk harapan yang tak pernah tercapai lagi..
Yah, beginilah hidup,
Andai mudah terhubung dengan seseorang di sana.. Andai impian itu bisa jadi kenyataan.. Pasti semua akan terasa nikmat adanya,
Namun hidup adalah perjalanan, ikuti saja ke mana kaki melangkah.. Terus melangkah tanpa kenal lelah, Karena begitulah adanya aturan hidup itu sejak dahulu kala,
Kamu menyerah pun, dunia di luar sana masih terus berjalan.. Hmmm, jadi teringat masa-masa bahagia itu.. Kebersamaan yang mereka berikan..
Saya pasti akan merindukan saat-saat bahagia ini Goodbye Halcyon days, Malam ini tidur beratapkan langit jogja, semoga gak hujan lagi seperti tadi sore..
Selamat malam,teman,.Sleep tight. Dan telah kusampaikan semuanya padamu teman,