Di sela-sela kesibukanmu, kan ku kirimkan seberkas surat yang tak kan bisa kamu sangkal. Untuk kali ini, biarkan hatimu berbicara dan biarkan ia berbahagia barang sejenak. Dengan segala upaya kan ku tunjukkan kebahagiaan di luar bingkai di mana selama ini dirimu tinggal. Dalam waktu sekejap kan kutunjukkan bahwa hidup tidak hanya seluas enambelas inci layar televisi. Hanya untuk sejenak saja, ikuti aku.
Mari bergegas, tapi tak perlu kau bawa banyak barang bersamamu. Cukup sehelai yang melekat di tubuh saja pun cukup.
Di hari pertama kan kita kunjungi Malaysia dengan menara kembarnya yang menjulang tinggi, makan malam di gedung tertinggi dunia sembari melihat panorama kota kuala lumpur di waktu malam.
Hari kedua kan kita kunjungi India dengan Taj Mahalnya yang terkenal. Kau boleh coba saree yang terkenal dari india, berjalan di selasar Taj mahal yang di bangun sah jihan untuk kekasihnya Mumtaj Mahal.
Setelah kau puaskan matamu dengan tanah suci hindustan, berikut akan kuajak dirimu ke padang pasir, Mesir. Tanah para raja yang penuh dengan ratusan piramida.Kita akan mengendarai unta, berfoto dengan piramida giza sebagaai latarnya. Sungai Nil akan menyejukkan dahaga jiwamu yang telah penat dengan kehidupan yang menyekat selama ini. Angin padang pasir kan membuaimu dalam alunan ninabobo di waktu senja.
Hari ke empat kan kita kunjungi tanah suci Para Nabi, Di mana rumah Allah dibangun Oleh Ibrahim dan Anaknya Ismail. Momen yang membuktikan ketangguhan Hajar dan begitu besarnya cintanya untuk Ismail sang belahan hati putera tercinta. Kan kita kunjungi Makam Nabi Agung kita. Mengucap shalawat dan sholat dua rakaat menghaturkan ucap kasih.
Lalu di hari kelima berangkatlah kita ke Eropa, paris perancis dengan menara Eifel dan Istana Versaillesnya. Konon di sana Pernah hidup ratu tercantik Marie Antoinette. Aku ingin tahu, seberapa cantiknya ia, kuyakin masih kalah dengan dirimu. Malam harinya kita akan berjalan menelusuri kota Paris yang kaya akan seni artistiknya. Kekagumanmu akan seni bangunan arsitek akan kau curahkan di sana.
Di hari keenam, dengan menyeberangi Samudera Pasifik, kita kunjungi Amerika. Tanah Liberte, Egalite, dan Freternite. Negeri Orang-orang yang selama ini hanya kita saksikan di layar kaca. Jika kau tak lelah, akan kita saksikan Air terjun Niagara, menikmati keajaaiban Arsitek Tuhan yang tersembunyi di antara menjulangnya bangunan New York.
Tepat di hari ketujuh, setelah mengarungi samudera pasifik, kita kan menginjak negeri para samurai. Menyaksikan sakura berguguran, hanami, sebagaimana impianmu selama ini. kau akan kelihatan bagaikan Hime dengan menggunakan kimono di sana. Sakura yang berguguran kan meramaikan suasana sore dengan semilir angin yang mengajakmu menari bersamanya.
Lalu kita kembali pulang. Semoga bahagia kan kau bawa sebagai buah tangannya.
Cubit tanganku, kuharap ini bukan mimpi.
Monday, January 31, 2011
Monday, January 24, 2011
Sebuah Rumah Untuk Hatimu..
(Sebuah kutipan..)
Apa kau percaya jika hati selalu mengikuti ke mana cinta pergi ?
Bila kau di posisi itu, apakah kau rela melepaskan semua - pekerjaan mapan, bahkan kenyamanan hidup - demi selalu berada di sisinya ?
Tak ada yang menjanjikan semua akan berjalan baik-baik saja. Bisa jadi kemudian kau mengeluh, merutuk, bahkan menangis karena kerasnya hari-hari yang kau hadapi.
Tapi, kemudian dia menggenggam tanganmu, berusaha meyakinkanmu. Kau meragu, tapi juga tak bisa menolak tawaran cintanya. Pelan-pelan kau melanjutkan langkah. Memantapkan hati berjalan ke arahnya yang bersiap-siap menyambutmu dengan pelukan. Kali ini, kau tak bisa membantah. Kau tahu, sejauh apa pun kau pergi, hatimu selalu kembali padanya.
Kepada cinta_
Lalu di sinilah saya sekarang. Hidup terkatung-katung macam jamur di musim panas. Nak layu tapi masih pengen hidup, berharap juga kan datang hujan nanti malam. Kira-kira kan bisa menyejukkan kekeringan selama ini. Saya benar-benar ikuti kata hati ini, menelan semua kepahitan yang ternyata lebih pahit daripada yang saya bayangkan selama ini. Menjadi kelompok minoritas dari mayoritas kawan-kawan yang menjalankan hidup dengan "cara aman" kata mereka. Tapi saya tak mau hidup seperti itu. saya tak ingin nanti di hari tua, ketika waktu lebih banyak dihabiskan dengan termenung dan merenung, muncul gelembung-gelembung penyesalan akan impian yang tak teraih.
Lalu mungkin saat itu saya akan berfikir andaikan bisa kembali ke masa lalu dengan mesin waktu, ingin rasanya saya mengulang semuanya, berjuang meraih apa yang benar-benar saya butuhkan, apa yang benar-benar saya impikan. Maka anggap saja pemikiran itu tercapai. Dan entah dengan cara bagaimana kembalilah saya ke masa sekarang ini, saat ini, untuk mengubah semuanya. Ya, sekarang ini lah saatnya. Kesempatan itu sekaranglah saatnya. Berjuang semaksimal mungkin. Untuk cita-cita, untuk cinta.
Apa kau percaya jika hati selalu mengikuti ke mana cinta pergi ?
Bila kau di posisi itu, apakah kau rela melepaskan semua - pekerjaan mapan, bahkan kenyamanan hidup - demi selalu berada di sisinya ?
Tak ada yang menjanjikan semua akan berjalan baik-baik saja. Bisa jadi kemudian kau mengeluh, merutuk, bahkan menangis karena kerasnya hari-hari yang kau hadapi.
Tapi, kemudian dia menggenggam tanganmu, berusaha meyakinkanmu. Kau meragu, tapi juga tak bisa menolak tawaran cintanya. Pelan-pelan kau melanjutkan langkah. Memantapkan hati berjalan ke arahnya yang bersiap-siap menyambutmu dengan pelukan. Kali ini, kau tak bisa membantah. Kau tahu, sejauh apa pun kau pergi, hatimu selalu kembali padanya.
Kepada cinta_
Lalu di sinilah saya sekarang. Hidup terkatung-katung macam jamur di musim panas. Nak layu tapi masih pengen hidup, berharap juga kan datang hujan nanti malam. Kira-kira kan bisa menyejukkan kekeringan selama ini. Saya benar-benar ikuti kata hati ini, menelan semua kepahitan yang ternyata lebih pahit daripada yang saya bayangkan selama ini. Menjadi kelompok minoritas dari mayoritas kawan-kawan yang menjalankan hidup dengan "cara aman" kata mereka. Tapi saya tak mau hidup seperti itu. saya tak ingin nanti di hari tua, ketika waktu lebih banyak dihabiskan dengan termenung dan merenung, muncul gelembung-gelembung penyesalan akan impian yang tak teraih.
Lalu mungkin saat itu saya akan berfikir andaikan bisa kembali ke masa lalu dengan mesin waktu, ingin rasanya saya mengulang semuanya, berjuang meraih apa yang benar-benar saya butuhkan, apa yang benar-benar saya impikan. Maka anggap saja pemikiran itu tercapai. Dan entah dengan cara bagaimana kembalilah saya ke masa sekarang ini, saat ini, untuk mengubah semuanya. Ya, sekarang ini lah saatnya. Kesempatan itu sekaranglah saatnya. Berjuang semaksimal mungkin. Untuk cita-cita, untuk cinta.
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)
Wednesday, January 19, 2011
Senyum 3 detik
Ada momen tertentu ketika aku dapat melihat jelas ke dalam hatimu.Saat yang teramat singkat. Hanya 3 detik. Saat itu dirimu yang begitu anggunnya terpampang membutakan hati ini, membuat tenang hati, menarikku untuk terlepas sejenak dari seberapa berat pun beban yang ku tanggung dan derita. Senyum 3 detikmu.
Hanya 3 detik, namun itu cukup bagiku. Diantara keseharian yang lebih banyak kau habiskan di ruang kerja, diantara lembaran kertas, guratan pena, dan ketukan jari di keyboeard komputer. Aku hanya memiliki waktu 3 detik itu saja. Waktu yang paling indah bagiku. Saat-saat aku merasa paling dekat denganmu.
Aku selalu merindukan momen ini. Tak mengapa jika sejauh ini derita akibat penantian yang begitu dalam kurasakan, namun saat 3 detik itu tiba, lega rasanya.
Yang kubutuhkan hanya 3 detik itu saja. Aku tak berani untuk egois dan meminta 3 abad, 3 dasawarsa, atau 3 tahun, bahkan 3 detik lagi selain 3 detik itu. bagiku akan fatal akibatnya jika kupaksakan kehendakku.Maka telah belajar pula diriku untuk menikmati singkatnya waktu ini dengan sebaik-baiknya. Memuaskan dahaga yang telah lama terasa ini dengan beberapa tetes air penyejuk saja, dan berusaha puas dengan itu semua.
Senyum 3 detikmu adalah senyum terindah yang pernah ada.
Subscribe to:
Posts (Atom)









