Wednesday, December 29, 2010

Little girl at the window

Gadis kecil di tepi jendela
Jauh pandangannya menatap ke depan
jauh..jauh ..ke seberang jalan aspal
Hanya sesekali kendaraan lalu lalang
sunyi sepi
seperti sinar di matanya



Gadis kecil di tepi jendela, menunggu datangnya pengamen tua
ke mana gerangan sang pendendang pergi
tak jua muncul hingga sore hari
apakah jua tertelan awan yang menggelap semakin kelam

Mari ke mari pengamenku, begitu pandangannya bicara
Kan ia rindukan alunan pelangi dari pita suara tua itu
Lebih indah dari pelangi yang mungkin kan muncul di penghujung sore ini
Setelah puas langit menabur hujan

Gadis kecil di tepi jendela
Kedinginan, terlelap dalam lelap mimpi di penghujung senja
Tak jua datang yang dinantinya sedari tadi
Mungkin esok hari
pikirnya dalam mimpi

Thursday, December 16, 2010

This Night



After you left,
I had been so lonely...

Sunday, December 12, 2010

So close the door, turn off the light..

Akhirnya ujung dari semua ini mulai kelihatan
Bersabar lebih dari ini akan menjadikanku seorang nabi tanpa mukjizat
Mengejar kereta yang tak juga berhenti
Lalu kualihkan arah,
Mungkin tak sepantasnya aku pasrah
Telah lumpuh kakiku buat berlari
Mencoba tersenyum menggadaikan harga diri
Dia tak pernah tahu
Sumber bahagia sekaligus sumber derita

Akhirnya ujung dari semua ini mulai kelihatan
Maafkan aku karena tak punya kekuatan
Tak hendak jadi nabi
tak ingin mengejar kereta yang tak jelas
Tak juga tersenyum palsu
Akhirnya beginilah rupanya
Ku tutup pintu,
Matikan lampu..
Tidur dalam keletihan teramat pilu

Friday, December 10, 2010

Raindrops Keep Falling On My Head

Raindrops keep falling on my head
And just like the guy whose feet are too big for his bed
Nothin' seems to fit
Those raindrops are falling on my head, they keep falling

So I just did me some talkin' to the sun
And I said I didn't like the way he' got things done
Sleepin' on the job
Those raindrops are falling on my, head they keep falling

But there's one thing I know
The blues he sends to meet me won't defeat me
It won't be long till happiness steps up to greet me

Raindrops keep falling on my head
But that doesn't mean my eyes will soon be turnin' red
Crying's not for me
Cause I'm never gonna stop the rain by complainin'
Because I'm free
Nothing's worrying me.

Monday, November 29, 2010

Mungkin andai mungkin



Lalu saya berfikir. Hmm, mungkin lebih tepatnya merenung agaknya. Setelah tetes terakhir hujan turun malam ini, ketika bulan dengan malu-malu mulai bersinar di gelapnya malam. Ketika angin ikut serta meramaikan hening dengan dingin yang dipancarkan auranya. Sesekali masih ia bawa turun bersama dengannya bulir-bulir air yang malas turun beserta kawanannya beberapa jam yang lalu. Bunyi gemerisik dedaunan yang dipaksa bergoyang oleh angin menambah syahdu malam biru, malam kelabu.
Lalu saya berfikir. Lebih tepatnya merenung,  kenapa hujan turun malam ini. Dengan cerah dan teriknya cuaca siang tadi tak pernah terbayangkan betapa mendung dan kelabunya malam ini. Sejatinya memang gelap, namun tanpa bintang dan rembulan lebih tepat bagaikan pemadaman listrik di perumahan. Yah, memang mati lampu juga sih tadi beberapa jam yang lalu. Menandai euforia malam dan hujan atas manusia. Kalau sudah begini, yang ada hanyalah bergelung dalam selimut tebal setelah menyantap makan malam dan segelas susu hangat. Tapi saya tidak. Saya berfikir, lebih tepatnya merenung.
Mungkin saja malam marah karena ada yang tak tunduk oleh kedatangannya, bagaikan kepala negara yang tak dihargai kehadirannya. Oleh sebab itu ia turunkan pengawalnya bernama hujan dengan senjata peluru-peluru tajam yang mengoyak jubah-jubah angin dan menembus kulit-kulit bumi, untuk menangkap, merengkuh dengan kukuh setiap mereka yang tak tunduk tadi. Ada apa gerangan pada langit yang hanya menyaksilan saja kecamuk ini terjadi. Bulan sang hakim adil yang ditunjuk langit tak keluar malam ini. Mungkin telah pula ia disogok dengan bermilyar-milyar kemewahan sehingga senang ia untuk tak tampil. Atau pikirku yang kusebut merenung tadi mungkin saja ia mau hadir namun tentara-tentara malam yang telah berkuasa semenjak lama itu menghadangnya di tengah jalan, menghalanginya dengan begitu banyak rintangan hingga tak sampai ia melihat semua ini. Sang awan gemawan yang mendung.
Saya masih berfikir, merenung lebih tepatnya. Duaratus empat puluh langkah kaki kiri dan kanan telah sudah saya gerakkan menyusuri jalan yang basah sehabis peperangan tentara malam bernama hujan beberapa saat tadi. Bulir air yang terkandung di dalam hembusan angin dingin telah pula membasahi baju kaos dan jins yang saya kenakan. Dinginnya sampai ke tulang, menggemeretakkan gigi geligi ini saling beradu. Lampu-lampu rumah penduduk telah pula redup satu persatu menghantarkan sang empu keharibaan lelap. Malam ini tikus-tikus got pun bahkan tak berani berlarian di jalanan karena dingin yang teramat menusuk. Tak ada maksud untung menghitung langkah sebenarnya, hanya saja untuk mengimbangi gemeretak gigi akibat dingin, berharap dengan berfikir masih bisa menyisakan sedikit kewarasan buat tetap bertahan dengan kehangatan.
Saya berfikir, merenung lebih tepatnya. Beginilah rupanya yang dirasakan oleh gadis penjual korek api yang kedinginan di tengah salju di malam natal. Andai keajaiban dongengnya itu bisa juga saya rasakan saat ini. Lalu akan saya hidupkan tiap-tiap batang korek api itu sambil menghayalkan semua yang saya impikan selama ini. Semua ?? Hmm, barangkali kata itu tidak cukup pantas untuk mewakili satu hal. Dibandingkan kehangatan selimut di rumah, hidangan lezat pengisi perut, alunan lagu syahdu penghantar tidur, yang saya butuhkan saat ini hanya kamu.

Saya berfikir, mungkin lebih tepat bila disebut merenung. Andaikan hidup bisa diulang, saya ingin kenal kamu dalam keadaan yang lebih baik.

Thursday, November 11, 2010

Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman

Karya Andrea Hirata

Orang asing
Orang asing
Seseorang yang asing
Berdiri di dalam cermin
Tak kupercaya aku pada pandanganku
Begitu banyak cinta telah mengambil dariku


Aku kesepian
Aku kesepian di keramaian
Mengeluarkanmu dari ingatan
Bak menceraikan angin dari awan

Takut
Takut
Aku sangat takut
Kehilangan seseorang yang tak pernah kumiliki
Gila
Gila rasanya
Gila karena cemburu buta
Yang tersisa hanya kenangan
Saat kau meninggalkanku sendirian
Di bawah rembulan yang menyinari kota kecilku yang ditinggalkan zaman

Sejauh yang dapat kukenang
Cinta tak pernah lagi datang

Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman
Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman

Wednesday, November 3, 2010

Road to the last chapter, huh?

Sudah awal bulan lagi. Sementara beberapa kalangan di luar sana tengah berbahagia menikmati hasil kerja bulanan mereka, di sini masih juga dengan serba berbagai hal dalam hal berlawanan tentunya. Kali ini betul-betul harus belajar bagaimana caranya bertahan hidup dengan apa pun yang ada. Bermanfaat juga sih keadaan seperti ini, jadi lebih menghargai setiap yang ada. Sekarang gak pernah lagi menyia-nyiakan apa yang dimiliki walau pun itu kelihatan tak layak oleh sebagian besar orang.

There is no way home

It trully happen on me. Benar-benar gak punya yang namanya rumah, tempat untuk pulang. Mungkin itu sebabnya hati ini gak pernah merasa tenang. Bawaannya selalu saja gelisah, sama sekali gak ada rasa nyaman dan tenang. Mungkin untuk beberapa waktu saja kutemukan ketentraman itu, di rumahNYA. Selain dari itu saya merasa bagaikan musafir yang tak jelas arah tujuan, perjalanan yang begitu panjang sementara jiwa dan raga ini sudah pula menjerit karena terjerat kelelahan yang semakin mencapai kulminasi.

Ujung dari semua ini ?

Hm, Saya semakin pesimis apa ada akhir dari semua ini. Suatu tempat dimana saya bisa menetap, merebahkan tubuh lelah ini tanpa ada rasa was was dan cemas. Dulu, sebelum memulai semua ini, perjalanan panjang ini sempat saya berfikir dan merencanakan tujuan akhir yang kan saya capai. Saya tuliskan semua dalam ingatan harapan agar terangkat semangat setiap patah arang jiwa. Namun seiring semakin jauhnya perjalanan dan semakin banyaknya rintangan semua itu terlupakan karena sibuk menghadapi segala permasalahan ini.
Sekarang hendak ke mana? Andaikan ada jawaban dari semua ini tentu kan mudah perjalanan ini. Tak ada rambu yang mengingatkan di tengah perjalanan. Sementara teman sesama musafir telah pula banyak menemukan jalan lain masing-masing, semakin dekat ke arah tujuannya. Sementara saya?
Kesepian.

Tuesday, October 26, 2010

Menjadi Majnun

You...., Lost and lonely
You...., Strangest angel
Dancing in the deepest ocean
Twisting in the water
You're just like a dream

Hanya wajahmu juga yang tergambar dalam pikiran ini. Mana bisa saya merasakan begitu banyak kebahagiaan itu sementara dirimu masih gundah gulana di tepian sana?
Sudah begitu banyak jalan yang harus saya hindari, bukan karena jalan itu pahit malahan jalan kebahagiaan yang telah banyak diimpikan oleh banyak orang. Mudah saja bagiku tuk menapak di sana andaikan hati ini egois. Tapi tidak bagiku. separuh jiwaku sedang meringis, merintih, nun di tepian sana yang dapat kulihat namun sulit ku rengkuh. Mana bisa aku melangkahkan diri ini ke jalan cahaya itu sementara dirimu kulihat terus tersiksa dan tersakiti kerana yang olehmu  namakan sebagai cinta?

Maka biarlah ku pilih jalan ini, berhenti sejenak atau berputar ke arah yang terjal. Yang sayap-sayapnya menyembunyikan pedang yang siap menyayatku. Aku siap, sudah kumantapkan hati ini. Tuk menjadi majnun, merana demi kebahagiaan Laila. Untuk menjadi Gibran yang dirundung sepi hingga akhir usia dan berteman dengan jutaan rangkaian kata mesra yang menjadi pujian jutaan orang, tumbuh dari kesedihannya. Untuk menjadi Pranacitra yang meregang nyawa untuk memperjuangkan Roro mendut. Untuk menjadi Romeo yang harus mati berkali-kali dengan racun yang sama. 
Pada akhirnya ku berharap kau bahagia, yang sebenarnya bahagia. Kan ku dengar suaramu yang imut mendengung dalam gendang telingaku dengan riangnya sebagaimana jika dirimu bahagia.Senyummu yang kupastikan kan mengalahkan senyum monalisa sekalipun. Aku ingin pastikan itu semua ada padamu, dengan...atau mungkin tanpaku.


Monday, October 25, 2010

Belajar tulus, demikian kata hati berujar..

Besok takdir akan membawa dirimu ke tengah-tengah keluarga yang damai, namun akan membawaku kepaa perjuangan batin dan kesengsaraan.
Kau akan berada di rumah orang yang paling beruntung, sedang aku memasuki pintu gerbang kematian.
Kau akan diterima dengan ramah, sedangkan aku akan berada dalam cekikan kesepian.
Namun aku akan mendirikan patung cinta dan memujanya dalam lembah kematian.
Cinta akan menjadi satu-satunya selimut bagiku, akan kupakai seperti pakaian dan aku akan meminumnya bagaikan meneguk anggur.
Cinta akan membangunkanku di waktu subuh dan akan membawaku ke medan yang jauh.
Pada siang hari cinta akan membimbingku menuju bayang-bayang pohon, di mana aku bisa berteduh bersama burung-burung dari teriknya panas matahari. 
Di waktu sore sebelum matahari terbenam, cinta memerintahkanku beristirahat sambil mendengarkan nyanyian alam semesta dan memperlihatkan padaku pergerakan awan yang remang-remang di langit biru.
Pada malam hari cinta akan memelukku, dan aku pun akan tidur, lalu bermimpi mengenai dunia yang amat menyenangkan, yang ada pada jiwa-jiwa para penyair dan pencinta.
Cinta, Wahai Kekasih, akan tinggal bersamaku hingga akhir hayatku. Bahkan sesudah mati, dengan izin Tuhan, kami tetap akan bersatu.

Monday, September 27, 2010

Teruntuk Bidadari

Kepada Bidadari,
Hari ketika diriku menemukanmu di pandalawangi adalah hari terindah dalam hidupku, pun juga awal dari malapetaka yang menghantuiku seumur hidup, setidaknya hingga saat ini. Kau kini terlelap di sisiku, malam ini. Ketika bulan yang mana adalah tempatmu berpulang di kahyangan bersinar begitu cerahnya malam ini hingga tak perlu ku menyalakan suluh tuk melihat dan memandangi teduh wajahmu. Kau begitu mempesona walau pun dalam lelapmu. Kau mungkin tak pernah tahu, bidadari, betapa tiap malam ku terjaga hingga larut hanya untuk menatapmu, memperhatikan setiap lekuk wajahmu. Halus rambutmu yang jatuh di sela-sela pipimu. Ku habiskan berjam-jam untuk mengabadikan itu semua dalam memori ingatanku yang tak seberapa.
Bidadari, kau mungkin telah melupakan semuanya. Awal semua ini bermula. Dalam setiap mimpimu ingatan itu sedikit demi sedikit terhapus. Aku yang sadar. Menyadarinya. Kau tahu, kini aku menyesal, sungguh menyesal telah mencuri selendangmu yang seharusnya membawamu terbang kembali ke kahyangan. Sayap Bidadarimu. Karena itu juga kini kau bergantung padaku. Ku pikir dulu aku dapat menaungimu dengan bahagia dan menggantikan kahyanganmu dengan istana di hatiku. Namun kini baru ku sadari bahwa itu hanyalah ingin yang terlalu absurd bagiku. 
Bidadariku yang kini tertidur lelap dalam mimpimu. Mungkin sudah tiba saatnya tuk ku kembalikan selendang ini. serpihan terakhir dirimu yang terlalu muluk untuk kumiliki. Dengan ini dirimu bisa bebas terbang kembali pulang. Dengan ini kau kan ingat kembali kehidupanmu, meskipun dengan ini kau pun pastinya akan lupa padaku. Tapi tampaknya itulah yang terbaik, bagiku, terlebih bagimu.
Bidadariku yang dengan senyummu telah kau taklukkan rembulan, malam ini terakhir kalinya ku tatap wajahmu. Jamuan makan malam yang kita habiskan sambil bercanda bersama buah hati kita beberapa saat yang lalu adalah jamuan perpisahan yang tak kau sadari kusiapkan untukmu. Sengaja hari ini ku pulang lekas dari biasanya dan menggantikanmu memasak di dapur. Kau tampak heran, namun senyummu tersungging ketika melihat perih mataku mengupas rempah. Tawamu pun pecah ketika ku salah memilih garam dengan gula. Kau cubit pinggangku sambil terus tertawa, menertawakan kebodohanku yang kesekian kalinya. Ku harap yang terakhir adanya.
Bidadariku yang tertidur pulas, malam ini hatiku hancur, pecah berkeping-keping, seakan menyadari akan kehilangan tonggak penopangnya. Tapi sepertinya aku akan kuat, ku akan baik-baik saja. Dan kuharap senyum yang terus kau pelihara selama ini kan terus kumiliki dalam kenangan hati ini. Ini saat ini adalah jarak dan waktu terdekat yang dapat kurengkuh. Mataku tak juga belum hendak lepas dari wajahmu. Halus hembusan nafasmu terdengar bagaikan irama di kamar ini. Tolong waktu, untuk kali ini berjalanlah sedikit lebih lambat.
Bidadariku tersayang, Linangan airmata yang kucoba tahan sedari petang tadi akhirnya tercurahkan juga malam ini, di sampingmu. Dalam sepi malam ku tangis menangis tanpa suara. Angin malam yang sedari tadi berhembus menggelayut  kini seolah senyap turut merasakan duka hatiku. Lelaki tangguh ini, malam ini telah kalah. Kalah oleh dirinya sendiri.
Selamat jalan, bidadari tersayang. Lekas ketika sinar mentari pagi  membangunkanmu kan kau temukan selendangmu kembali. Dengannya kau akan menyadari semua dan dengannya kau kan temukan bahagiamu. Maafkan aku yang telah menyesatkanmu selama ini, mengikatmu dengan kebahagiaanku yang nisbi. Selamat jalan bidadariku tersayang. Semoga hembusan angin malam kan mengingatkanmu padaku selalu.

Sunday, September 26, 2010

If I Fell




If I fell in love with you
could you promise to be true
And help me understand
'Cause I've been in love before
And I've found that love is more
That just holding hands

If I gave my heart to you
I must be sure from the very start
that you would love me more than her

If I trust in you, oh please
don't run and hide,
if I love you too, oh please
don't hurt my pride like her

'Cause I couldn't stand the pain
And I would be sad
If our new love was in vain

So I hope you see that I
would love to love you
And that see will cry
when she learns we are two

'Cause I couldn't stand the pain
And I would be sad
If our new love was in vain

So I hope you see that I
would love to love you
And that see will cry
when she learns we are two
If I fell in love with you

Friday, September 24, 2010

Selamat Ulang Tahun










"... Aku tidak tahu kemalangan jenis apa yang menimpa kamu, tapi aku ingin percaya ada insiden yang cukup dahsyat di dunia serba selular ini hingga kamu tidak bisa menghubungiku. Mungkinkah matahari lupa ingatan, lalu keasyikan terbenam atau terlambat terbit? Bahkan kiamat pun hanya berbicara soal arah yang terbalik, bukan soal perubahan jadwal."


Ribuan detik kuhabisi
Jalanan lengang kutentang
Oh, gelapnya, tiada yang buka
Adakah dunia mengerti?

Miliaran panah jarak kita
Tak jua tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara

Tahanlah, wahai Waktu
Ada "Selamat ulang tahun"
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga menantiku

Tengah malamnya lewat sudah
Tiada kejutan tersisa
Aku terlunta, tanpa sarana
Saluran tuk ku bicara

Jangan berjalan, Waktu
Ada "Selamat ulang tahun"
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah, wahai Waktu
Ada "Selamat ulang tahun"
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s'lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku

Tuesday, September 7, 2010

Siang hari di penghujung Ramadhan

Siang hari di penghujung ramadhan. Matahari bersinar dengan terik, terlalu semangat untuk menghangatkan bumi  ini sedari pagi. Andaikan dia tahu sudah sehangat apa bumi ini dibuatnya sedari pertengahan tahun kemarin. Hujan yang turun sebentar di petang hari kemarin ini ternyata tak sanggup untuk meredam panas yang telah terakumulasi begitu lama, sampai kepada makhluk-makhluk yang bersemayam di permukaannya. Hmm, Saya pikir saya bisa ikut ketularan juga, pada semangat matahari, ternyata tidak. Seharian ini atau mungkin setengah harian ini terus berkutat dengan pikiran sendiri. Tentang semua hal, begitu banyak hal yang sampai-sampai saya tak tahu apakah harus dibuat daftar isi appendix terlebih dahulu agar pikiran ini lebih mudah membukanya nanti di suatu hari kalau ingin membukanya lagi.
Siang hari di penghujung ramadhan. Kota ini sudah mulai sepi dengan aktivitas manusiawi. Akan ditinggalkan oleh mereka tempat ini untuk sejenak, beranjak pergi menuju tempat yang mereka nanti di hati. Bertemu sanak famili, keluarga, orang yang dikasihi. Pulang.
Ternyata memang butuh momen khusus terlebih dahulu untuk bisa mengapresiasikan konsep semacam ini. Kalau tak ada hal khusus, maka takkan pula mau untuk pulang. Kalau tak ada lebaran artinya tak ada alasan untuk bertemu keluarga. Iya kah demikian ? Saya rasa tidak juga, namun berbagai kesibukan menuntut kita semua untuk mengurutkan perihal berbagai hal menurut prioritas yang terbaik, yang terpenting, terlebih dahulu. Sebagaimana halnya kebutuhan akan makanan lebih penting daripada kebutuhan akan pakaian, yah, pemikiran semacam inilah. Terkadang rasanya kasihan juga orang-orang atau perihal yang mendapatkan beban prioritas itu. Andai saja kita bisa membuat prioritas yang sama satu dengan yang lainnya mungkin tak masalah. tapi lihat kenyataannya, tak sama sama sekali. Banyak contohnya. Di tengah kesulitan ekonomi yang carut marut ini, para petinggi kita di DPR pusat sana masih bisa memprioritaskan untuk membuat bilik kerja yang mahal bagi mereka. Milyaran dana yang harus dikeluarkan, tak tanggung besarnya. Sejumlah uang yang kalau diprioritaskan untuk mereka-mereka yang mengais rejeki di jalanan sepanjang hari ini rasanya akan lebih bermanfaat lagi. tapi tidak begitu mungkin bagi mereka, alangkah lebih baiknya mungkin jika tempat kerja mereka nan megah laksana istana itu tercapai ketimbang jutaan orang tak kelaparan hari ini dan seterusnya.
Contoh lainnya banyak sekali kita dapatkan. Cukup dibayangkan sekejap saja ternyata kita telah banyak menciptakan sekat-sekat prioritas yang sebagian menguntungkan bagi kita, sebagian lagi memang merugikan bagi yang lain. Masalahnya kita tak bisa hidup sendiri tanpa bersinggungan dengan orang lain, jadi apa yang kita perbuat sedikit banyak kan berpengaruh juga dengan orang lain. Lalu harus bagaimana ?
Mungkin cuma keikhlasan dan ketulusan yang bisa menjadi jalan keluarnya. Terima saja apa yang diberikan kepada kita. Jika memang itu yang terbaik, tak masalah kan jika konsep ingin kita berbeda dengan yang mereka apresiasikan.
Siang hari di penghujung ramadhan ketika angin sedikit malu tuk berlari di teriknya mentari. Malu untuk mengetahui apakah memang itu yang terbaik. Kita tak kan pernah tahu yang terbaik bagi diri sendiri kecuali setelah semuanya telah terjadi dan masa lalu menjadi pembahasan yang tak begitu berarti lagi. Merasa malu untuk mengetahui yang telah terjadi ini adalah yang paling diingini oleh hati yang tersembunyi di balik hati. Ada pilihan. Memang selalu ada pilihan untuk semuanya, bahkan ketika merasa tak ada pilihan lagi. Mungkin karena terbiasa mengatasi ujian hidup essay sehingga ketika bertemu dengan sesuatu yang butuh jawaban multiple option kita semakin sulit untuk mengambil langkah. Ada benarnya juga, karena terkadang yang kita harapkan tak ada dalam sekian banyak pilihan jawaban itu. Dan sayangnya kita tak diberi kemampuan untuk menambah jawaban dalam option yang telah diberikan. Aaaah, saya rindu hidup damai. Saya rindu hidup ketika jawaban hanya ada satu.
Siang hari di penghujung ramadhan, ketika saya tak tahu harus mendapatkan jawaban dari mana, karena tak ada yang dapat ditanya.Hanya ketulusan dan keikhlasan lagi yang bisa dicoba. Yang terjadi esok dan seterusnya, terjadilah.
Siang hari di penghujung ramadhan, ketika awan berusa tuk teduhkan bumi tuk sekejap. Sekejap saja, sebentar lagi kan kalah juga oleh panas sang surya, tepat ketika tulisan ini berhenti di satu titik.

Monday, August 30, 2010

Pengumuman..pengumuman...!

Here is the Announcement,

Friend of mine a.k.a teman saya baru saja mendirikan sebuah badan usaha yang bergerak di bidang desain arsitektur, general konstruksi, dan fotografi. Usahanya antara lain meliputi :
  • Konsultan Arsitektur, Konsultan Skripsi & Tesis Bidang Arsitektur
  • General Konstruksi
  • Desain Interior, Desain Eksterior, Desain Photo, Desain Undangan & Desain Website
  • Pre Weeding & Weeding Photografi 
Jadi untuk anda-anda semua yang kebetulan singgah di blog ini, yang secara sengaja atau pun tak sengaja membuka halaman ini saya anjurkan sekali untuk segera mengunjungi homepage ini.  sebagaimana seorang dokter menganjurkan pasiennya untuk minum obat 3 kali sehari.  

Kenapa ?
Karena usaha teman saya ini saya yakin akan memuaskan dan menghilangkan dahaga anda-anda semua yang butuh perubahan suasana yang lain daripada yang lain pada rumah atau tempat anda bekerja.

Di samping itu bagi yang telah pula berencana untuk menikah dalam waktu dekat ini anda juga bisa menggunakan jasa dari badan usaha ini untuk desain undangan sekaligus mengabadikan momen bersejarah dalam bentuk fotografi.
Jadi, please come in to this ,Saya yakin anda akan puas dengan pelayanan dari mereka. Karena setahu saya yang punya usaha ini orangnya telaten, kerjanya rapi, teratur, dan mengerti dengan keinginan pelanggan yang menggunakan jasa konsultan ini.



Untuk keterangan lebih lanjut anda semua bisa klik di sini !

Sunday, August 29, 2010

Butuh jasa konsultan Arsitektur, General konstruksi,desain, dan Fotografi ??

Untuk Anda semua yang membutuhkan jasa bidang Arsitektur, general konstruksi, desain, dan fotografi, anda bisa dapatkan pelayanan yang dijamin memuaskan dan sesuai selera anda di sini :

 CV. ANUGERAH UTAMA

Usaha ini bergerak dalam bidang :

  • Konsultan Arsitektur, Konsultan Skripsi & Tesis Bidang Arsitektur
  • General Konstruksi
  • Desain Interior, Desain Eksterior, Desain Photo, Desain Undangan & Desain Website
  • Pre Weeding & Weeding Photografi 

Jadi silahkan kunjungi kapan saja anda semua membutuhkan jasa tersebut.
Silahkan klik di sini

Tuesday, August 24, 2010

Leave it behind

Ada orang yang memiliki kesempatan dan kemampuan, namun tak bisa melakukan apa yang diinginkannya.
Ada orang yang berjuang sepenuh hati segenap jiwa untuk meraih impiannya, namun tak bisa teraih sama sekali.
Terlepas dari itu semua, tentu saja ada juga kondisi yang lebih menguntungkan. Yang mampu melakukan apa yang diinginkannya karena memiliki kesempatan dan kemampuan. Ada juga yang tak perlu berusaha sama sekalu namun apa yang dikehendakinya datang begitu saja di hadapannya. Senangnya andaikata hidup bisa demikian.
Namun, bagi yang mendapatkan kondisi dua di atas, yang tak beruntung dan selalu dipermainkan oleh nasib adalah sangat sulit untuk percaya kembali dengan impian dan harapan. Apa-apa yang dahulunya tampak mudah dan bisa teraih namun pada akhirnya hanya berujung untuk melakukan sesuatu yang harus dilakukan, bukan sesuatu yang ingin dilakukan.
Di mana letak harapan dan impian bagi segelintir orang yang berada dalam posisi tersebut? Mereka yang selalu dipermainkan oleh takdir, yang menjadi korban iming-iming dari impian yang dulu sewaktu kecil digembar-gemborkan oleh orang-orang dewasa. Akankah semuanya hanya berakhir menjadi sebuah ninabobo yang memudahkan seseorang terlelap? Akankah semuanya hanya akan berakhir sebagai rayuan agar orang bisa tetap hidup dan menerima nasib apa adanya?
Bukan maksud hati untuk pesimis, cuma setelah dipikir lama dan menjalani proses yang tidak mudah, akhirnya muncul pikiran seperti ini. Untuk pengemis yang sedari kecil hidup dari meminta-minta di perempatan jalan, di mana letak harapan memeluk cita-cita mereka? kapan kiranya kebahagiaan datang menghampiri mereka? secara kasar bisa dikatakan sepanjang sisa umur mereka akan dihabiskan dalam kehidupan seperti itu terus menerus. Mungkin ada satu atau dua yang bisa terlepas dari belenggu kesulitan hidup semacam itu, namun untuk mereka yang lain ? yang jumlahnya ribuan orang lagi? saya kembali mempertanyakan di mana letak keadilan bagi mereka yang berada dalam posisi ini. Dimana letak berfungsinya kata-kata manis itu, pengumbar semangat itu, yang katanya semuanya bisa berhasil dan diraih dengan usaha dan kerja keras? Ujung-ujungnya semuanya akan berakhir dengan kepasrahan dan mencoba bahagia dan puas dengan bentuk kehidupan seperti itu. Dan kekayaan, kehidupan mapan, kehangatan rumah tangga, hanyalah nyanyian pengantar tidur atau mungkin sekedar dongeng saja. Bukan untuk dipercaya, namun hanya untuk penghibur agar tidak banyak yang menyerah dengan keadaan mungkin. Sepertinya terlalu banyak yang dibohongi jadinya.

Sunday, August 15, 2010

Kereta yang telah jauh pergi

"For what it’s worth, it’s never too late, or in my case too early, to be whoever you want to be. There’s no time limit... start whenever you want... you can change or stay the same. There are no rules to this thing. We can make the best or the worst of it. I hope you make the best of it. I hope you see things that stop you. I hope you feel things that you never felt before. I hope you meet people with a different point of view. I hope you live a life that you’re proud of and if you find that you’re not, I hope you have the strength to start all over again." 


Dan berangkatlah saya dengan tergesa-gesa, ke stasiun tempat tujuan saya di mana. Tempat pemberhentian sekaligus penjemputan yan g telah pula saya idam-idamkan keberadaannya. Tadi malam telah saya impikan tentang semua. Tentang cita, cinta, harapan, dan impian yang telah sekian lama saya lekatkan dalam mimpi hati. Telah pula jauh hari saya persiapkan tentang ini semua, tentang keberangkatan ini. Saya beli tiket jauh-jauh hari, bukan untuk mendapatkan suatu harga yang murah, tapi karena impian yang nyata telah ada di depan mata. Saya persiapkan bekal sebaik-baiknya, saya periksa kelengkapannya setiap hari. Bahkan menjelang keberangkatan itu semakin sering saya melakukannya. 
Ketika saya yakin seyakin-yakinnya bahwa semuanya telah pula lengkap tersedia, saya kantongi karcis yang ada, saya susun bawaan di depan mata, dan tertidurlah saya menunggu pagi tiba. Dengan gelisah gembira dan penuh impian yang akan segera teraih di depan mata. Malam itu saya bahkan telah pula merasakan bau asap kereta yang akan membawa impian saya. Dekat terasa, hanya terpisahkan oleh sang malam. Saya sadari ini adalah malam paling lama yang pernah saya rasakan.
Tunggu saya, sekejap setelah malam ini berakhir, saya akan berada di sana, ke tempat tujuan sempurna.
Mata terpejam.



Lama..



Pagi menjelang.


Mata masih terpejam.


Dan begitulah adanya, ketika saya terjaga, semuanya telah berubah. Saya pacu langkah menujunya, hening. Setibanya di sana, sepi. Di mana kereta saya ? Di mana keberangkatan saya, tuan?
Tiada. Semuanya sudah terlambat. Usaha yang telah pula kamu pupuk lama, kamu daya upayakan, sekejap sirna karena malam yang mengharuskanmu terlelap, walau sesaat. Sekejap saja sudah cukup untuk membuyarkan semua. Mengubah semua yang ada. Dan kereta itu pun telah jauh pergi.


(Malam 5 Ramadhan, ketika tak tahu akan berbuat apa, hanya sekedar tulisan centang perenang..)

Wednesday, August 11, 2010

Not goodbye, just see you again.




Setahun yang lalu...

"Hei, Kita berpisah di sini. Sekarang saya harus pergi lagi. Kau akan baik-baik saja,kan?," dia berujar kepadaku dengan pandangan lurus menusuk sanubari. Entah kenapa setiap bertemu dengannya serasa diri ini mampu ia telanjangi. Sehingga mudah bagi hati untuk menumpahkan semua problema yang ada.
"Yeah, Saya akan baik-baik saja. Pergilah. Rasanya saya sekarang sudah cukup kuat untuk bertahan."
Demikian aku meyakinkannya. Sejujurnya berlawanan sekali dengan apa yang ada di hati. Kuat? Satu kata ini ternyata belum bisa didefinisikan oleh jiwa ragaku. Aku cuma mencoba untuk meyakinkannya bahwa semua bantuan yang telah kuperoleh darinya selama ini telah banyak menempa diriku menjadi pribadi yang lain, pribadi yang kuat pikirku. Oke, saya sedikit berbohong. Dan Aku sadari bahwa dia menyadarinya.
Dia tersenyum, aku ingat kali senyumnya saat itu. Bahkan jumlah awan yang berarak sore itu pun aku masih mengingatnya. Senyum seseorang yang tak ingin pergi namun harus pergi. Ia mencoba menguatkanku dengan tatapannya, mencoba menghiburku, mengeluarkan potensi yang selama ini ia katakan tertimbun jauh di dasar jiwaku. Dia bilang telah kulupakan semua potensi itu. Like I have.
"Baiklah, di sini kita berpisah. Aku yakin kau akan baik-baik saja. Hm, tahun depan jika berjodoh kita akan bertemu lagi.." Ujarnya kemudian di ujung senyum sendunya.
"Yeah,tahun depan..mungkin." Jawabku.
"Boleh ku tahu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini? "
Lama ku terdiam.
"Hm, sama seperti malam-malam sebelumnya. Mencoba untuk menguasai dunia..", ku coba berkelakar seperti cuplikan dialog film kartun pinky and brain.
Dia tetap tersenyum. Tak berubah, seolah menunggu kata-kata berikutnya keluar dari mulutku.
"Hm, tenang saja. aku pasti akan menjadi lebih kuat lagi,kok. Bantuanmu telah banyak artinya bagiku. Jadi serahkan sisanya padaku. Aku pasti bertahan, dan kalau bukan karena ajal aku pasti akan menemuimu lagi segera entah di belahan bumi mana lagi kita bertemu. Setidaknya tidak akan berakhir di acara TV tentang kriminalitas,deh." Lanjutku
"Kau kuat. Kau harus tahu itu. Tuhan pasti punya alasan mengapa memberi ujian seperti ini. Dulu, dulu sekali, telah banyak pula orang-orang yang kutemui yang mengalami ujian hidup seperti ini, bahkan lebih. Dan mereka berhasil keluar dengan kemenangan di hatinya..."
"...kau pun pasti bisa. Aku yakin itu. "
Dirangkulnya tubuhku, erat. Begitu eratnya sampai getaran tubuhku menahan tangis ini terasa olehnya. Dan angin seolah tahu isi hatiku saat itu menari gemulai diantara pepohonan, menyejukkan suasana. Mentari telah pula akan terbenam di barat ketika semua itu terjadi.
"Aku pergi, yah. Sampai jumpa lagi. Jaga diri selalu."
Kata-kata terakhir darinya dan ia pun berlalu. Sekejap terbersit di hatiku, kami tak kan pernah bertemu lagi.



Hari ini..

Dia datang lagi. Dengan senyuman yang sama. Bahkan kupikir sepertinya aku ditarik ke masa setahun yang lalu. Teman lamaku. Bertemu lagi kami akhirnya. Semua tentangnya mengalir deras dalam ingatanku. Sebulan ke depan lagi aku kan bersama dengannya.


Dia Ramadhan.

Tuesday, August 10, 2010

MIdnight Lullaby


On the surface, I was calm: in secret, without really admitting it, I was waiting for something. Her return? How could I have been waiting for that?

We all know that we are material creatures, subject to the laws of physiology and physics, and not even the power of all our feelings combined can defeat those laws. All we can do is detest them. The age-old faith of lovers and poets in the power of love, stronger than death, that finis vitae sed non amoris, is a lie, useless and not even funny. So must one be resigned to being a clock that measures the passage of time, now out of order, now repaired, and whose mechanism generates despair and love as soon as its maker sets it going?


Must I go on living here then, among the objects we both had touched, in the air she had breathed? In the name of what? In the hope of her return? I hoped for nothing. And yet I lived in expectation. Since she had gone, that was all that remained. I did not know what achievements, what mockery, even what tortures still awaited me. I knew nothing, and I persisted in the faith that the time of cruel miracles was not past. 

Monday, August 9, 2010

Kill the Rich

The sky is still falling, is there any end in sight?
And some are talking to themselves as missiles fly through the night
But in the beginning there were words with half a cause
Now everyone is singing it and waiting for the applause






They don't think about you when the payments keep on coming
But only to use you for a way



To make themselves appear like an angel in the room
They soothe their guilty conscience and tell it what to do
Synthetic compassion and some poor-mouth bad advice
To get ahead they lay in bed and sleep safe all through the night



A million to nothing, like zombies they are frightening
Just smile and wave and pass on by
Denial is so strong but the guilt just keeps it going
And give them a reason to say "hi"

Friday, August 6, 2010

Maybe

Hmm, I can write this anywhere, can't I ?







I can start telling this story from wherever I like, right ?!
I know.. I'll start it from here..

It was clouds that makes sky became dark that day


And rain must fall. However, I enjoy it.
Maybe caused too long me, myselff, stand in the dark side,


"You have to keep your body health !", She always remembering me 'bout this again and again.
So it resound in my head.
Waited for the rain, till its gone.


Hey, it's warm now. Rain was stopped..


And then I see someone beside the street..


Hmm, nice girl. Would you mind hang around with me ?



And set the end of the day seing the sunset together.
Just want to forget memory of you with another. I though I can.
No, I can't..



It was you that remembered me to the sea, 
not the sea remembered me about you.


But you've already gone. So far away.
If I could see you again.


So I forced to erased that memory with drinks that night,



And I'll be so alone without you,
Maybe you'll be lonesome too ?



Got drunk, headache, sleep at the garden.




Dear, someone there,


Since I'm not that great at writing things down, I may have missed something..
But there's one thing I know for certain,
that I miss you too much.

Wednesday, August 4, 2010

The day after

Seandainya mereka tahu bahwa hidup ini keras, maka mereka akan memilih untuk kalah dari pertarungan demi suatu kelahiran.
Andaikan mereka tahu hidup ini butuh perjuangan maka mereka akan bersiap dengan segala bekal persenjataan, atau undur diri dalam kekalahan yang terlalu awal.
Andaikan mereka tahu bahwa tak mudah untuk meraih bahagia, mereka akan berusaha menghargai tawa dan canda.
Andai mereka tahu bahwa kekalahan itu menyakitkan maka mereka akan berusaha untuk selalu menang atau sekalian saja untuk tidak memulai pertandingan.
Andai saja mereka tahu bahwa selalu ada perpisahan, maka kan mereka habiskan setiap waktu demi kenangan indah atau sekalian saja tak pernah bertemu.
Andai saja mereka tahu sepi itu menyakitkan, maka berteriak kan jadi pilihan utama dalam setiap perjamuan pertemuan.
Andai saja mereka tahu semuanya kan berahir, maka kan dipercepat sebuah awal atau diperlambat jalannya waktu demi sebuah pengendalian masa akan tekad berkepanjangan yang takkan lapuk pun tak terurai, atau sekalian saja jangan pernah bermula.
Andaikan mereka tahu semuanya kan berujung pada air mata maka kan mereka soraki gelak tawa dan mereka rantai derita luka setingginya sejauhnya sedalamnya hingga hilang hingga lenyap hingga buyar hingga raib.
Tapi mereka tak tahu, pun tak pernah ingin tahu.
Biar berjalan apa adanya.
Semoga ini cepat berakhir.


P.S. Tunggu saya di sana,ya.

Tuesday, August 3, 2010

Dream a little dream of me

Sewajarnya mimpi itu hadir ketika seseorang tertidur. Maka Berceritalah saya tentang mimpi, kepunyaan saya pastinya. Namun ini semua terlahir bukan dari buah lelap bergelung selimut beralaskan bantal di kepala. Bukan. Ini mimpi yang terlahir dari mata yang terang terbuka. Dari kesadaran yang seutuhnya hadir. Hanya saja untuk mengingatnya akan terasa bermakna jika saya pejamkan mata. Hm..
Alkisah, terdapatlah malam yang dengan angkuhnya merangkuh dunia dalam gelapnya. Bulan adalah pembantu setianya, yang sengaja ia bebaskan dari perbudakannnya untuk memperjelas keberadaannya di singgasana. Dan bintang sebanyak apapun mereka bergemintang tak lain dan tak bukan hanyalah kaum terisolir yang tak berani mengambil kuasa darinya, dari malam. Maka memilih mereka untuk menjauh sejauh-jauhnya hingga butuh cahaya untuk menjadi satuan ukur keberadaan mereka. Mereka banyak, cuma tak berani mendekat. Hanya sesumbar kata-kata ego saja yang dikenal oleh semua, bahwa mereka terang, bahwa mereka raksasa penguasa cahaya, bahwa keberadaan mereka akan membakar semua. Tapi itu hanyalah sesumbar, setidaknya bagi kami. Kalian tak pernah ada di sini. Kalian jauh di sana, hanya menunjukkan letak pengharapan yang membuat kami berharap dan menggantungkan cita kami pada kalian. Bahkan cahaya kalian pun tak pernah ada bagi kami. Itu pula yang ingin kalian banggakan. Itu pula yang kami jadikan tempat bergantung. Tidak. Pada akhirnya sebagaimana awalnya kami pun harus pula mengalah. Pada malam, pada kelam yang ia bawa.
Lalu sang penguasa sebagaimana waktu-waktu sebelumnya menunjukkan kedikdayaannya di mata kami semua. Ia telan sang surya yang menjadi pahlawan kami satu-satunya, yang begitu kami banggakan dan harukan ketika pertama bersua. Sekarang telah pula kami terbiasa, karena sekejap ia berjaya sekejap pula ia menderita. Kalah yang terus berulang-ulang. Sama dengan kami, harapan kami tepatnya. Hilang timbul. Sampai-sampai itu semua menjadi tontonan saja bagi kami, tiada yang spesial lagi. Sial.
Namun kali ini ada yang berbeda. Malam terasa tak terasa. Bisakah dirimu membayangkannya? merasakan sesuatu yang tak terasa. Menyadari sesuatu yang tiada. Kenisbian yang berwujud. Apalah kalimatnya bagimu. Ada yang hilang, sirna. Bukan derita dan luka yang dibawanya, bukan. Pun bukan pula bahagia dan jumawa yang membahana, bukan juga. Tapi ia mengalir seakan menghanyutkan materi paling penting yang membangun ini semua. Bagaikan tenggelam di udara. Penyebabnya?
Tak tahu lah saya. Mungkin kerana bintang yang telah terlalu jauh mengambil jarak, mungkin karena bulan yang ragu tuk terus terbelenggu dan memilih menjauh bersatu dengan kumpulan gemintang. Mungkin kerana sang surya yang menyerah kalah dan tenggelam buat terakhir kalinya di ufuk barat senja ini. Mungkin malam yang telah pula kehilangan tempat ia berkuasa, tempat ia menunjukkan kemahaannya. Tempat ia mengungkung semua dalam kelam.
Mimpi apa sebenarnya yang seperti ini? Aneh pula kedengarannya, apalagi kelihatannya. Begitulah, sekaing anehnya sampai ketika terjaga kelu rasanya lidah tuk berkata, bahkan tuk mengingatnya saja serasa gila.
Kenyataan. Itu lah pula yang membuyarkan semuanya. Menjadikannya lenyap menyatu dengan semesta dan menujukkan keadaan nyata. Nyata sudah semuanya. Apa ? masih jugakah tak sadar dan tak mau menerima? Nanti kudatangi lagi kamu dengan mimpi tentang kekalahan malam sekaligus kegagalan terang. Tentang menjauhnya bintang-bintang dan lenyapnya bulan. kamu pasti takut, berlari sekencang-kencangnya ke peraduan, menutup sekujur tubuh yang berkeringat dingin namun tetap menjaga mata agar terbuka.
Semoga ada yang mengerti ini semua.

Monday, August 2, 2010

Time after time

Kenapa begini lagi jalan ceritanya, heran saya
Bukan begini seharusnya yang terjadi, setidaknya rencananya bukan seperti ini
Lalu, apa mau dikata...


Langit sore ini begitu gelap, dari siang telah bergelayutan di atap dunia kumpulan mega mendung, siap menghantarkan hujan. Tak jelas kapan akan turun, mungkin nanti malam. Kalau sudah begini perasaan jadi gak menentu. Seakan tiba-tiba tirai besi dihamparkan di sekeliling, mengungkung, mengurung.

Perasaan hati adapun kalau ia memiliki citra perwujudan materi maka akan tampak bagai sesosok pengemis tua berbalut kain rombeng kusam dengan tangan menengadah meminta-minta. Meminta harapan, meminta pengharapan. Maka Engkau berikanlah kiranya recehan-recehan yang tak Kau anggap berguna itu, yang ku anggap berarti sangat pastinya. Diam.

Duabelas gelas telah pula hilir mudik antara dapur dan ruang kerja. Mengisi lambung yang tak lagi utuh sehatnya. terus diguyur basah oleh kafein pekat, sekedar guna melahirkan sang endorfin. Rokok tak ketinggalan. Belakangan jadi hobi mengepul-ngepulkan asap. Terasa nyaman, kalau kau tak percaya. kau benar makanya kutiru. Kalau kau dengar maka tertawa kau pastinya dengan suara tawamu yang aneh di telinga.

Duapuluh enam adalah abjad yang telah pula kuutak-atik demi merangkai kata agar bagus terbaca agar indah tercurah agar dimengerti, kau mengerti. Sudah pula ia menyamai bunyi rintik gerimis hujan yang mulai senang berlarian di atas atap rumah. Kupacu lebih cepat agar tak terdengar langkah mereka, takut menyelimuti jika mereka datang bersamaan. makin kelam saja ruangan ini jadinya. Aku tak mau.

Hujan. Kumpulan mega mendung bertabrakan di langit, bersorak seakan habis memenangkan pertandingan, mencurahkan berjuta galon minuman ke permukaan bumi. Basah. Kalian menang di atas sana. Tak terasa kemenangan itu oleh saya di bawah sini. Heran saya.Kalah alunan ketik saya, mengundurkan diri akhirnya, bergelung dalam selimut tebal. Entah sampai jam berapa. Alarm sengaja tak kuhidupkan, berharap ketika bangun adalah kejutan terbesar dalam keseharian ini. Wuah, kok berharap lagi. Mengemis lagi artinya. Terserahlah.

Selamat malam.

Sunday, June 20, 2010

Pilihan untuk jalan hidup, terima apa adanya atau berhak kah memilih ? (Bag.1)

Seringkali hidup membawa kita ke jalan yang tidak sesuai dengan semestinya. Entah sejak kapan akhirnya kita semua akan terus berputar-putar dalam labirin yang terbentuk dari buah karya pemikiran yang terkendali atau kadang sering berjalan sendiri. Berbeda yang tertulis di kertas dengan yang terjadi di kenyataan sebenarnya. Lalu mau bagaimana ? selalu ada pilihan untuk semuanya bukan?
Saya berdiri di atas jalan yang tak mulus sama kali, alih-alih lurus dan rata ia adalah terjal dan berliku. Pun belum berakhir dengan itu semua, di sana di hadapan saya kabut menghampiri, menutup pandangan akan ketiadaan atau tepatnya ketakpastian. Di mana? Di ujung sana, arah jam duabelas saya. Takut untuk melangkah, karena fitrah manusia jualah yang berperan ketika menemui sesuatu yang tak pernah dikenalnya sama sekali, demikian naluri membawa diri.
Tuntutan hidup atau tepatnya bisa dikatakan hidup menuntut untuk terus bergerak, ntah ke depan, belakang, samping, kiri atau pun kanan. Pokoknya bergerak. Namun karena ke belakang telah pula dilewati dan yang ada hanyalah perih getir dan luka yang tak jua kunjung tersembuhkan, yang dengan megap-megap akhirnya bisa juga terlewati maka terpilih jalan ke depan yang berkabut tadi, tak jelas apa yang ada di sana.
Orang yang optimis dan kuat hati akan dengan mudah melangkah, ya, tipikal orang-orang yang memegang teguh cita-cita dan angan atau impian sedari awal. Atau bisa juga orang-orang yang memiliki impian lantas gagal meraihnya dabn menemukan impian baru dengan cepat secepat kepompong berubah jadi kupu-kuypu. Dengan kata lain orang yang punya impian lah garis besarnya. tapi bagi orang seperti saya yang cuma punya satu impian yang dianggap paling maha sehingga terlalu mengagungkan sampai-sampai tak pula bisa merasa bahwa impian itu telah pula hilang atau mati di tengah jalan maka urusannya jadi lain. Berjalan sih berjalan, ke depan sih ke depan, cuma resikonya besar, lubang yang dalam dan ntah apalagi istilah yang biasa digunakan pujangga buat menggantikan frasa kesulitan hidup.
Kemana kaki melangkah, ke sana lah haluan kan saya arahkan. Rejeki ada di tangan tuhan, tak kan sia-sia semua daya dan upaya yang kita lakukan jika bersungguh-sungguh. Berusaha semaksimal mungkin dan kemudian berdoa, berserah diri pada NYA, niscaya tercapai apa yang diinginkan karena yang demikian ini adalah sunatullah sejak dahulu kala.

Monday, May 31, 2010

Sebuah Perjalanan mengambil akhir malam ini

Malam dini hari, di sebuah pergantian waktu berbilang hari. Tepatnya saat ini adalah hari senin tanggal 31 mei 2010 pukul 00.29 kembali saya didatangi de javu, sebuah kejadian yang beberapa bulan lalu saya rasakan, dalam kondisi yang sama, hanya objek dan pelakunya saja yang berbeda, hm, tempatnya juga ternyata. Seorang teman pulang beberapa saat yang lalu dengan wajah yang dengan mudah ditebak menyiratkan kesedihan, menyuratkan keputusasaan.
Apa gerangan yang terjadi sebenarnya adalah masalah umum yang tentu saja banyak dari kita-kita semua pernah mendengar, melihat, atau bahkan mengalaminya sendiri. Patah hati ditinggal nikah oleh pujaan hatinya. Hm, saya hanya bisa tersenyum getir mendengar dia berkisah panjang lebar. Seperti mendengar cerita dari seorang kawan di sumatera sana yang dulu juga sempat berbagi kisah yang nyaris sama.
Tenanglah, kawan. Itu sebenarnya yang ingin saya utarakan. Namun sekeras hati berusaha membendung luka, namun pedihnya akan tetap terasa, maka saran dari saya, nikmati saja apa yang ada itu. Nikmati, rasakan pedihnya dalam-dalam, sampai kamu muak dengan keberadaannya, dia akan enyah dengan sendirinya. Lebih dari ityu, ada tuhan yang selalu menyaksikan keadaan hidupmu, Dia yang merencanakan semuanya ini, yang memberimu ujian, cobaan, dan mungkin juga teguran. Pasrah, hanya itu yang bisa kita perbuat jika telah lengkap usaha yang bisa kamu perbuat. Relakan hati ini, serela-relanya walaupun tak mudah rasanya untuk menerima kenyataan yang ada. Langit terkadang kelihatan seperti lembaran hitam yang kelam, padahal sebenarnya tidak. Bintang gemintang masih tetap ada di atas sana, bumi hanya sedang berputar.
Begitu juga hidup. Kali ini kamu merasa seakan berada dalam kepedihan yang teramat dalam, seakan tak kuat lagi menanggungnya, tapi kamu harus sadar bahwa semua ini adalah proses kehidupan. Memang harus seperti ini adanya agar prose situ terus berjalan. Memang harus ada yang hilang untuk yang lainnya datang. Percayalah, di ujung sana ada bahagia yang menantimu, jangan terlalu terpukau akan masa lalu yang terkadang terasa teramat sempurna hingga sulit tuk dilupakan. Justru di saat-saat seperti ini kamu dituntut untuk menunjukkan kualitas dirimu yang sebenarnya, dari segala aspek, ya hatimu, ya perasaanmu, ya imanmu.
Hidup itu bagaikan sebuah perjalanan dalam suatu labirin yang teramat besar dan luas. Kamu tak tahu arah mana yang tepat untukmu. Tapi kamu harus terus bergerak, mencarinya, mencari tempat yang akan menerimamu dengan sepenuh hati. Jalan terus tanpa kenal lelah. Dan ingat, kamu juga tak kan tahu apa yang akan menantimu di sepanjang perjalanan nanti. Jangan kau harapkan angin sejuk selalu yang kan menemanimu, awan gemawan yang menaungimu dari panas, air sejuk yang selalu tersedia ketika dahaga mendatangimu. Tidak, seringkali pahit dan getir yang akan kamu temukan bahkan ketika ujian pahit getir itu terus menghujammu dan kamu merasa tak aka nada lagi cobaan terberat yang akan datang, ternyata malah ada lagi yang lebih berat. Dan ketika suatui saat kau temukan jalan buntu dalam labirin kehidupan ini, kamu tak boleh terlena di sana, balikkan langkah dan temukan jalan lainnya, jangan pernah diam. Pun jangan pula tertipu akan kebahagiaan orang lain. Semuanya hanya akan menghanyutkanmu dan melupakan tujuanmu semula. Tegarkan hati akan satu tujuan.

Apapun itu, kembalikan semuanya pada Tuhan, ada waktunya kita “diam diri” saat usaha dan doa berjalan tapi hati merasa gak mampu lagi, niatkan “gerak dan diam dalam Allah” , menunggulah dengan zikir. Apapun itu serahkan titik terangnya pada Allah. Entah kelapangan hati yang didapat, entah keikhlasan, entah semangat untuk kembali berusaha, entah benar-benar dia beri yang diminta, entah kemantapan untuk tetapkan pilihan..

NB. Nasihat ini selalu saya ingat. Nasihat terakhir darimu.

Saturday, April 17, 2010

Learning to Live ( Bunga untuk si tukang bunga)


Dan dia memacu sepeda motor empat taknya dengan teramat kencang menembus embun pagi yang baru saja bermanja dengan malam. Saat itu pukul tiga lewat empat puluh dini hari menjelang subuh, di Yogyakarta. Setelah berkonfrontasi dan mengajukan argumen sedikit merayu kepada teman kuliyahnya dahulu yang saat ini tempat dia menumpang hidup, akhirnya dapatlah ia pinjaman motor itu yang tragisnya harus menemaninya mendaki gunung lewati lembah menuju suatu daerah di sana. Ambarawa.
Dua hari sebelumnya sebenarnya telah pula ia lakukan perjalanan ini ke daerah yang sama. Teringat hasil tanya jawabnya dengan penjual bunga di Jalan Ahmad Jazuli sana yang menceritakan padanya bahwa konon pula katanya semua bunga yang ada di sepanjang jalan ini adalah kiriman dari Ambarawa. Ia catat info ini dengan sebaik-baiknya dalam buku saku kecil hadiah dari beli novel Eragon seri ketiga dulu, di Pekanbaru. Adapun dalam buku catatan itu jika kamu tahu isinya adalah semua informasi yang dia orang anggap penting mulai dari nomor telepon yang tak tercatat di handphone karena memory yang sudah full, daftar nama perusahaan yang telah pernah ia masukkan lamaran kerja yang entah kenapa banyak garis coretannya, gambar karikatur aneh yang bahkan kalau dijual pun gak bakalan bisa buat beli ikan teri seekor, kalkulasi keuangan yang terdiri dari bilangan yang jumlah angkanya kecil atau sama dengan lima digit (hanya), Pena Pilot BP-TP yang selalu terselip di halaman tengah, serta foto sesosok makhluk yang ia sangka bidadari. Perlengkapan ini selalu ada di dalam tas selempangnya yang ia dapat pinjam dari teman juga. Maka jika Koperasi simpan pinjam berwujud manusia, pria ini lah kandidat utamanya.
Ke Ambarawa lah haluan dituju dua hari yang lalu. Berbekal semangat yang ia peroleh setelah mendengarkan suara sang bidadari malam sebelumnya, ia langkahkan kaki ke parkiran motor lalu bermotor ria membelah pulau jawa. Tak lupa sebelumnya ngaso sebentar sambil sarapan dan plus makan siang dengan segelas coffemix panas (hanya). Uang yang ada di dalam dompetnya saat itu hanyalah selembar duapuluh ribuan, berharap-harap cemas janganlah ada kiranya gangguan di jalan nantinya yang mengharuskan ia mengeluarkan biaya reparasi sejumlah melebihi kuantitas yang tersebut di atas.
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh ketika ia melewati kota Magelang. Sepanjang perjalanan baru kali ini ia rasakan perasaan lepas tanpa beban seolah-olah semua permasalahan tertinggal jauh di sana, di Yogyakarta. Angin pagi yang berhembus sepoi-sepoi seakan membelainya menuju alam mimpi yang hampir saja membuat ia celaka kalau saja ia tak lupa menginjak rem karena ada truk besar di depannya yang menyalip dari arah berlawanan. Semalaman ia memang tidak bisa tidur, walaupun badan dibawa berbaring. Namun pikirannya tak bisa berhenti berpikir, bagaimana kiranya bisa bertahan hidup untuk beberapa hari ke depan. Kerja serabutan apa yang bisa dilakukan, kepada siapa lagi kiranya dia dapat pinjaman. Dan ini semua nyata tanpa dramatisir sekalipun. Seringkali teman-temannya mengatakan bahwa ia terlalu mendramatisir suasana. Mereka saja yang tidak tahu bahwa pria itu memang sedang menjalani kehidupan dramatis yang kalau Raam Punjabi tahu mungkin bakal dijadikan sinetron kejar tayang juga agaknya ( dengan tokoh utamanya diperanin oleh christian sugiono, red.)
Angin semilir dari pegunungan terus berhembus yang terkadang membawa wangi pepohonan nan sejuk dan tak jarang debu dan pasir dari kendaraan lain yang berseliweran. Sesekali ia senandungkan lagu dengan suaranya yang kata teman tempat dia nginap tadi lumayan bagus, tak tahu apakah bermaksud menghibur atau bukan. Sayangnya gak punya mp3 player ni orang. HP nya cuma punya memori yang kalau diisi dengan lagunya Michael Buble 2 biji saja langsung penuh. HP bersejarah, dia bilang. Ada memori di sana yang mungkin akan menjadi bagian cerita lain di episode yang lain pula.
Motornya masih bermain dengan marka jalan, seolah-olah sedang berpacuan dengan Valentino Rossi yang lagi naik Jupiter bareng Komeng. Sesekali menginjak rem tiba-tiba akibat ulah bus-bus antarkota yang seenak udelnya saja motong jalan. Lama duduk di atas motor ternyata bikin pantatnya panas juga, disamping cuaca yang juga mulai panas seiring dengan semakin tingginya sang surya mengangkasa. Barulah ketika jam telah menunjukkan pukul delapan lebih sedikit akhirnya ia mencapai kota Ambarawa. Tapi permasalahan belum selesai sampai di sini saja ternyata.
Bandungan. Itulah nama daerah penghasil bunga terbaik di Ambarawa yang selanjutnya harus ia temukan. Jujur ia tidak tahu apa-apa tentang kota ini, lebih-lebih nama daerah yang hampir mirip dengan ibukota Jawa Barat itu. Akhirnya setelah teringat dengan nasihat kakeknya dahulu yang menyebutkan bahwa ‘malu adalah sebagian dari iman’ , maka ia pun jadi ingat akan nasehat Bu Nursalmi, Guru Bahasa Indonesianya dulu sewaktu kelas satu di SD yang pernah mengatakan bahwa ‘Malu bertanya Sesat di jalan’ ketika pada suatu hari ia tersesat di dalam toilet karena susah membuka grendel pintu toilet yang sudah uzur tersebut.
Adapun keuntungan dari ingatnya ia tersebut adalah dengan adanya motivasi bagi dirinya untuk bertanya kepada seorang pemuda penjual pulsa di salah satu kios di tepi jalan Ambarawa-Semarang tersebut. Dengan pura-pura membeli pulsa mentari (sebenarnya sudah tahu bahwa di kios itu tidak menyediakan pulsa mentari soalnya itu kios khusus Simpati, red.) ia bertanya jalan. Dan ia dapatkan info bahwa sang penjaga kios tak tahu juga rupanya di mana gerangan daerah itu berada. Untung saja ada sesosok bapak tua berjanggut yang sedang membeli beras di kios sebelah yang dengan sukacita memberikan jawaban yang diinginkannya. Sang bapak sukacita karena si pria itu akhirnya juga dimintai tolong sama sang bapak buat ngangkutin karung berasnya menuju motor si Bapak. Hubungan simbiosis komensalisme layaknya ikan remora dengan hiu agaknya.
Dan akhirnya ia temukan jalan menuju Bandungan atas titah sang bapak tadi. Jalannya mendaki curam, mengingatkannya akan alamat rumah bidadari yang ia kenal di Jogja sana. Persis sama, hanya saja di sini lebih banyak daerah pertaniannya saja. ( I wish you were there). Ada razia polisi rupanya ketika ia baru memasuki seperempat jalan menuju pasar Bandungan. Dengan menunjukkan surat-surat yang diperlukan kepada sang polisi akhirnya ia diperbolehkan melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya dicerca berbagai macam pertanyaan layaknya sesi tanya jawab Susno Duaji dengan DPR. Perjalanan yang menanjak tajam yang semakin membuat motor ngos-ngosan ini akhirnya mencapai garis finishnya. Pasar bandungan. Lengang. Sepi. 

“Wo alah, wes bubar e mas. Telat jenengan..” Ujar Ibu penjual gorwengan di tepi jalan yang mash setia mencari pelanggan buat menghabiskan dagangannya. Dibelinya pisang goreng tiga ribu perak dari sang Ibu buat makan siangnya hari itu. Sambil mengisi kekosongan waktu dan mencari kegiatan yang bermanfaat, maka diputarinya sekitar daerah tersebut, berbekal kamera olympus 7.1 Megapixel ynag juga dapat minjam dari teman dari teman tempat dia nginap tersebut di atas. Maka mulailah ia menjepret-jepret objek yang ia anggap layak untuk dijepret. Mulai dari si ibu penjual gorengan tadi tentunya.

Arus putaran sepeda motornya menghendakinya berjalan hingga sampai pula ke daerah paling puncak dari Bandungan ini, yang tentu saja untuk sampai ke sini adalah perjuangan yang teramat besar baginya terutama sepeda motornya. Bayangkan saja, untuk sampai ke atas saja ia harus menempuh jalan yang teramat curam hingga membentuk sudut kecuraman arcus cosinus 0,5 pada kuadran pertama. Sebenarnya besar harapnya untuk dapat menemukan ladang mawar sejauh mata memandang di atas sana. Dan tak ayal, memang itulah yang ditemukannya. Sejauh mata memandang di atas puncaknya adalah ladang mawar semua, hanya saja yang ia temukan adalah mawar khusus untuk upacara duka, bukan mawar hias. Beberapa gambar berhasil ia abadikan dari atas puncak sana. Di sana tenang, damai, jauh dari hiruk pikuk perkotaan dasn arus kehidupan yang semerawut. Begitu nikmatnya hidup ini, tanpa beban dan pikiran yang aneh-aneh. Ini kedua kalinya ia merasa bebannya seakan di angkat oleh Gusti Allah dari pundaknya. Ingin rasanya ia berlama-lama di sini, menghabiskan sisa hari dengan bercengkerama dengan alam, sendirian. ( I wish you were there).


Namun tak boleh begitu. Ia anggap ini hanyalah sebuah hiburan pencuci mata, Oase bagi kepenatan hidupnya selama ini. Kehidupan nyata ada di bawah sana. Harus dihadapi, bukan untuk dihindari.  Maka turun gununglah ia sembari menyapa penduduk yang begitu ramah dengannya. Bukan Yogyakarta. Belum saatnya ia kembali ke sana. Waktu masih enunjukkan pukul 10.00 WIB. Ia putar haluan menuju Semarang, tak tahu sebenarnya apa yang  akan dicari di sana. Namun belum sampai Semarang, kepenatan dan kantuk menghendakinya untuk beristirahat sejenak dan singgah di sebuah masjid mungil di pinggir jalan. Tidur menunggu azan zuhur tiba, dengan pisang goreng masih tersangkut di motor.

...Bersambung ....