Malam dini hari, di sebuah pergantian waktu berbilang hari. Tepatnya saat ini adalah hari senin tanggal 31 mei 2010 pukul 00.29 kembali saya didatangi de javu, sebuah kejadian yang beberapa bulan lalu saya rasakan, dalam kondisi yang sama, hanya objek dan pelakunya saja yang berbeda, hm, tempatnya juga ternyata. Seorang teman pulang beberapa saat yang lalu dengan wajah yang dengan mudah ditebak menyiratkan kesedihan, menyuratkan keputusasaan.
Apa gerangan yang terjadi sebenarnya adalah masalah umum yang tentu saja banyak dari kita-kita semua pernah mendengar, melihat, atau bahkan mengalaminya sendiri. Patah hati ditinggal nikah oleh pujaan hatinya. Hm, saya hanya bisa tersenyum getir mendengar dia berkisah panjang lebar. Seperti mendengar cerita dari seorang kawan di sumatera sana yang dulu juga sempat berbagi kisah yang nyaris sama.
Tenanglah, kawan. Itu sebenarnya yang ingin saya utarakan. Namun sekeras hati berusaha membendung luka, namun pedihnya akan tetap terasa, maka saran dari saya, nikmati saja apa yang ada itu. Nikmati, rasakan pedihnya dalam-dalam, sampai kamu muak dengan keberadaannya, dia akan enyah dengan sendirinya. Lebih dari ityu, ada tuhan yang selalu menyaksikan keadaan hidupmu, Dia yang merencanakan semuanya ini, yang memberimu ujian, cobaan, dan mungkin juga teguran. Pasrah, hanya itu yang bisa kita perbuat jika telah lengkap usaha yang bisa kamu perbuat. Relakan hati ini, serela-relanya walaupun tak mudah rasanya untuk menerima kenyataan yang ada. Langit terkadang kelihatan seperti lembaran hitam yang kelam, padahal sebenarnya tidak. Bintang gemintang masih tetap ada di atas sana, bumi hanya sedang berputar.
Begitu juga hidup. Kali ini kamu merasa seakan berada dalam kepedihan yang teramat dalam, seakan tak kuat lagi menanggungnya, tapi kamu harus sadar bahwa semua ini adalah proses kehidupan. Memang harus seperti ini adanya agar prose situ terus berjalan. Memang harus ada yang hilang untuk yang lainnya datang. Percayalah, di ujung sana ada bahagia yang menantimu, jangan terlalu terpukau akan masa lalu yang terkadang terasa teramat sempurna hingga sulit tuk dilupakan. Justru di saat-saat seperti ini kamu dituntut untuk menunjukkan kualitas dirimu yang sebenarnya, dari segala aspek, ya hatimu, ya perasaanmu, ya imanmu.
Hidup itu bagaikan sebuah perjalanan dalam suatu labirin yang teramat besar dan luas. Kamu tak tahu arah mana yang tepat untukmu. Tapi kamu harus terus bergerak, mencarinya, mencari tempat yang akan menerimamu dengan sepenuh hati. Jalan terus tanpa kenal lelah. Dan ingat, kamu juga tak kan tahu apa yang akan menantimu di sepanjang perjalanan nanti. Jangan kau harapkan angin sejuk selalu yang kan menemanimu, awan gemawan yang menaungimu dari panas, air sejuk yang selalu tersedia ketika dahaga mendatangimu. Tidak, seringkali pahit dan getir yang akan kamu temukan bahkan ketika ujian pahit getir itu terus menghujammu dan kamu merasa tak aka nada lagi cobaan terberat yang akan datang, ternyata malah ada lagi yang lebih berat. Dan ketika suatui saat kau temukan jalan buntu dalam labirin kehidupan ini, kamu tak boleh terlena di sana, balikkan langkah dan temukan jalan lainnya, jangan pernah diam. Pun jangan pula tertipu akan kebahagiaan orang lain. Semuanya hanya akan menghanyutkanmu dan melupakan tujuanmu semula. Tegarkan hati akan satu tujuan.
Apapun itu, kembalikan semuanya pada Tuhan, ada waktunya kita “diam diri” saat usaha dan doa berjalan tapi hati merasa gak mampu lagi, niatkan “gerak dan diam dalam Allah” , menunggulah dengan zikir. Apapun itu serahkan titik terangnya pada Allah. Entah kelapangan hati yang didapat, entah keikhlasan, entah semangat untuk kembali berusaha, entah benar-benar dia beri yang diminta, entah kemantapan untuk tetapkan pilihan..
NB. Nasihat ini selalu saya ingat. Nasihat terakhir darimu.