Friday, January 29, 2010

Fatwa Pujangga

Minggu ini tlah begitu banyak jemputan yang datang ke rumah. Ada lima jemputan yang harus dipenuhi buat dihadiri pada hari minggu besok, datangnya dari karib kerabat handai taulan sanak saudara semuanya. Hm, bagi kamu yang tidak mengenal apa itu jemputan, jemputan adalah istilah bagi orang melayu buat undangan pernikahan. Jadi sanak saudara yang lainnya itu adalah tamu kehormatan di balairung raja sehari si empunya acara yang mesti pula dijemput.
Saya bingung sendiri bagaimana caranya memilah waktu untuk menghadiri semuanya pada satu hari itu. Kalau tak datang tak enak pula rasanya. Takut dibilang tak menghargai dan memutus silaturahmi pula nantinya.

Adapun undangan yang datang, diantara yang lima itu ada yang berupa jemputan yang mewah sangat tampaknya. Saya rasa untuk membuat satu undangan tu saja cukuplah buat beli nasi ramas untuk satu keluarga besar. Saking mewahnya undangan itu dibuat sampai-sampai harumnya pun bisa memenuhi satu ruangan rumah selama berhari-hari. Tak perlu pula menyemprotkan air freshener buat berhari-hari agaknya. Kejadian undangannya pun ya pasti lah di tempat yang mewah pula, di salah satu hotel mewah di kota ini. Alamak, macam mana pula nanti tu saya nak pergi ke sana. Orang-orang habis pakai mobil mewah semua, awak ni cuma yang pakai motor bebek agaknya. Ntah macam mana pula dengan “kado” nya. Wallohu a'lam.

Ada satu macam perasaan yang saya ni rasa tiap kali pergi ke acara pernikahan macam tu. Ada rasa haru bercampur rindu dengan satu gadis pujaan yang tak terjangkau di ujung sana. Apalagi pas musiknya uda sampai ke lagu fatwa pujangga yang ntah kenapa jadi lagu kebangsaan cik dan puan yang datang ke acara tu selain lagu semalam di malaysia dan sri mersing. Nah kita, yang nasibnya lagi luntang lantung ni cuma bisa tersedu sedan dalam hati bayangkannya. Tak kan pula sedap rasanya hidangan yang disediakan oleh tuan rumah tu kerananya. Makanannya bukannya sederhana, banyak macamnya semua hidangannya dari yang biasa hingga yang cuma sekali setahun bisa dilihat oleh orang-orang melayu ni biasanya ada tersedia. Cuma ya itulah, kalau hati ni dah merana, apa saja tak enak rasanya. Apalagi waktu bersalaman dengan raja dan ratu seharinya, pilu rasanya. Masih juga terbayang andaikan awak ni bisa bersanding dengannya, ntah macam mana lah rasa di hati ni jadinya. Cuma bisa berdoa ke Yang Di Atas Sana, harap kali bisa dipertemukan lagi dengannya. Nah, penyakit macam ni lah yang sedang hinggap belakangan ni kalau lihat janur kuning.


T'lah kuterima suratmu nan lalu
Penuh sanjungan kata merayu
Syair dan pantun tersusun indah, sayang
Bagaikan madah fatwa pujangga

Kan kusimpan suratmu nan itu
Bak pusaka yang amat bermutu
Walau kita tak lagi bersua, sayang
Cukup sudah cintamu setia

Tapi sayang sayang sayang
Seribu kali sayang
Ke manakah risalahku
Nak kualamatkan

Terimalah jawabanku ini
Hanyalah doa restu Ilahi
Moga lah Dik kau tak putus asa, sayang
Pasti kelak kita kan bersua

Thursday, January 28, 2010

Toga Itu

Hari ini temanku wisuda. Ingin sekali rasanya memberikan ucapan selamat kepadanya. Tapi jarak kami sudah begitu jauh, tak mungkin rasanya aku memaksakan diri untuk menuju kotanya berada untuk menyampaikan ucapan itu walau sebenarnya ingin sekali hatiku untuk ke sana. Dia pastinya akan tampak cantik sekali dalam balutan busana wisudanya saat ini, pikirku. Wisuda magisternya, wisuda ke dua yang kulalui tanpa sempat memberikan ucapan langsung padanya. Dulu saat dirimu wisuda sarjana S1 pun aku tak sempat hadir, hanya seikat bunga saja yang dapat kupesan buatmu. Pagi itu, dua tahun silam tepatnya, kudapati sebuah MMS terkirim ke handphoneku. Dirimu yang akan berangkat wisuda di grha sabha pramana. Aku Cuma bisa terpana membayangkan kebahagiaanmu saat itu. Betapa cantik senyum mu saat itu, membuatku terlena seharian membayangkan andaikan dapat kutemani dirimu dalam selebrasi itu. Ingin rasanya kupecahkan celengan ayamku, kugadaikan telepon genggamku untuk berangkat ke tempatmu, sekedar melihatnya lebih dekat. Rindu. Tak apalah, sekedar melihat fotomu saja sudah bahagia juga rasanya.


Kini dirimu wisuda lagi. Wisuda terakhirnya agaknya, kalau kau tak melanjutkan S3 tentunya. Semenjak waktu 2 tahun silam itu telah banyak yang terjadi pada kita. Dan aku sebenarnya teramat malu walaupun hanya sekedar untuk mengakui diri sebagai teman. Ada cerita menarik sebenarnya beberapa hari yang lalu. Saat itu tepatnya tanggal 18 januari, ketika iseng pagi itu kubaca pada status facebookmu ada comment dari temanmu yang mengucapkan selamat wisuda. Pikiranku langsung mengambil kesimpulan,
“hm, ternyata hari ini dia wisuda.”
Ku coba hubungi salah seorang temanku yang juga melanjutkan S2 di teknik kimia UGM buat menanyakan kepastian wisuda hari itu.
“Hm, kalau nggak salah sih iya. Wisudanya tanggal 18 atu 19 gitu ya..”, temanku itu berkata melalui telepon.
Hmm, dasar saya si manusia lugu yang suka tergesa-gesa, langsung saja saya telepon teman dekatku di jogja buat dipesenin buket bunga yang dikirim ke alamatmu hari itu juga. Temanku itu pastinya weleh-weleh geleng kepala mendengarnya. Tapi ia belikan juga bunga itu, kubilang buat pinjam dulu duitnya, nanti saya bayar lewat transfer gantinya.

Maka, berangkatlah kawanku itu ke toko bunga di jogja sana, dekat SMA 3 jogja, nama jalannya tak hafal saya. Namun si bunga baru bisa ia kirimkan agak malam, berhubung jogja hujan sore itu hingga malam. Sampai dirumahmu kawanku itu sekitar pukul 11 waktu kaliurang km 12. Hujan lebat katanya, namun si bunga berhasil tersampaikan. Terkaget-kaget kamu pastinya menerimanya. Ya pastilah, gak ada salju gak ada longsor, tiba-tiba saja ada yang nganterin bunga malam-malam. Saya dengan jumawanya sedikit merasa sok keren bisa memberikan bunga padamu sebagai ucapan selamat wisuda. Ceritanya masih sok perhatian neh. Hehehe.
Lalu handphone ku berbunyi, ada sebuah sms darimu berbunyi begini :
“Ade, makash bgt y.tmn2mu bnr2 hjn2 td.tp ak wisuda tgl 27.tp gpp mksh bgt paketny.bungany bgs sprt hatimu.mksh bgt y ”
Sekejap saya langsung merasa seperti raja yang digulingkan dari tahtanya, bagaikan katak yang berkoar di musim panas, bak anak SD yang berpakaian merah putih pergi ke sekolah padahal tanggal merah, umpama ibu-ibu yang belanja di supermarket tapi pas di kasir baru sadar lupa bawa dompet. Ibarat seorang pemuda yang berpakaian jas mewah yang berangkat ke acara khitanan tetangga. Yup, malu.
Dan tak usahlah saya deskripsikan segala perasaan saya saat itu, ntar tambah malu lagi saya. Mana paginya kamu langsung nulis status yang berhubungan dengan kejadian ini lagi. Pastinya teman-teman yang lain tahu, pikirku. Aaaargh. Hehehe, nyantai ajalah.
Lalu hari ini, tanggal 27 januari kembali ku termangu di tawangmangu ( Cuma untuk menyesuaikan konotasinya saja, biar asyik di baca, red.) Dari kemarin kupikirkan bagaimana caranya memberikan ucapan selamat padamu. Mengirimkan bunga lagi jelas mustahil, secara duit bunga yang kemarin saja belum lunas ku ganti. Takut juga merepotkan si kawan lagi. Mau meneleponmu juga ragu, kamu kan orangnya populer diantara teman-temanmu, pastinya bakalan banyak yang meneleponmu buat memberikan selamat sepanjang hari ini. Lagian gak pantas lagi saya memposisikan diri seperti itu. Hmm, kalau mengirimkan sms kupikir terlalu biasa saja. Saya ingin hari ini menjadi salah satu hari spesial yang akan dikenang selalu bagimu. Jadi perlu pula melakukan hal yang spesial pikirku. Sempat terpikir buat menelepon ibumu yang baik hati. Ahaha, buat apa coba. Ntar dikira sok akrab lagi.
Hm, bagaimana kalau kubuatkan sebuah dongeng atau cerpen tentang dirimu, pikirku. Tempo hari kan dikau pernah minta dibuatkan cerita tentang dirimu. Hm, bagus juga. Biar cepat dan bagus, rencananya ku search saja di internet dongeng tentang princess yang dikau suka, lalu tokoh-tokohnya ku edit dengan menambahkan foto teman-teman kita sebagai tokohnya. Hmm, boleh deh. Tapi apalah daya, untung tak dapat di raih, malang adalah kota di jawa timur, Lama ku cari di internet, tak juga kutemukan cerita yang bagus dan mengena di hati.

Hm, teman, jika dirimu masih menganggapku teman. Sejatinya saya ingin membuatmu tertawa bahagia hari ini. Namun terlalu banyak rintangan, dan saya juga harus sadar diri saat ini. Aku pernah melihatmu tersenyum, tertawa lepas, dan itu yang kuinginkan ada di wajahmu hari ini. Setidaknya hari ini saja. Tak perlu lah aku sampai harus melihatnya, cukup teman-teman di sekitarmu saja yang menikmati senyum dan tawa bahagiamu itu. Tapi tak kutemukan sesuatu yang dapat kulakukan tuk menjadikannya nyata. Lagipula tanpaku pun dirimu pasti tak kan kekurangan bahagia di sana. Aku hanya mencoba untuk turut andil saja dalam bahagiamu. Jadi kutuliskan semua uneg-uneg ku ini. Mungkin bisa membuatmu sedikit tersenyum geli membacanya, tulisan pemuda konyol satu ini. Selamat wisuda ya. Sukseslah selalu dalam hidupmu kedepannya. Dan tak perlu dirimu tuliskan namaku dalam daftar pustaka kehidupanmu, karena membuatmu bahagia saja sudah berarti besar bagiku.

Monday, January 25, 2010

Yang merangkak menuju puncak



My Dear Longhorns :


Do not be ashamed about being defeated, to be defeated and not stand up is what should be ashamed of. I’m gonna tell you about the life of one great man who’s suffered many failure, but always had the courage to stand up over and over again.
1832 Unemployed
1832 Defeated in his bid as state legislator
1833 His Business failed
1834 Elected as state legislator
1835 His fiancee passed away
1836 Suffers a nervous breakdown
1838 Defeated in his bid as chair of the state legislator
1845 Defeated in house representative candidate nomination
1846 Elected as house representative
1848 Defeated in his bidding for a second term in the house
1849 Sought a job in the state office of estates, but was refused
1854 Lost his bid for a seat in the senate
1856 Defeated in vice president candidate nomination
1858 Once again defeated in senate election
In 1860, Abraham Lincoln was finally elected as the president of the united states. You all would’ve started this season as third rank players, and you might be degraded to sixth rank or you might have started first rank and was domoted to fourth rank. You should all ask yourself how do you feel when you are defeated. Are you blaming others, feeling depressed, or are you filled with passion, ready to take the challenge again. This fall, every single of you playing on the field will taste defeate. There’s no player in this world who has not lose before. However, the best player will give everything they’ve got to stand up again. Ordinary player take a while to get back on their feet. While losers will remain flat on the field.


University of Texas Longhorns Headcoach
Darrel Royal






You know, maybe you’ve ever read in many book stories about the journey of someone’s life the sentence like this :
“ His life is filled with much more sadness, very bad trouble, big mistakes that he had.....bla bla bla bla..and 10 years later he get happily ever after.”
People usually like to hear this, the happy ending stories. But what they’ll never get attented to, is what happened to that man, the figure in that story, in 10 years before he get successes. It must be the very heavy part that usually forgotten by the reader.
You know, in every single life that you have, you are absolutely will meet with the failure, no matter who you are, no matter how much you’ve done for it. What you have to do when you find it, is just stand up and stand up again. We(me offcourse) are not the special people, who when find problem and fall down into the deepest of trouble will certainly get the miracle or luckiness from destiny, nope. We have to struggle and struggle to release ourself from the trouble. Even I know that this is not an easy job to do, but yo have no other choise. Do you wanna be the loser ones who will always flat on the field while the other people or even your enemy continue to the future. No, don’t be like that. Lets fight till the end. Take your hopes as high as the sky, even you failed at least you are between the stars now.

Wednesday, January 20, 2010

A Whiter Shade Of Pale




We skipped a light fandango,
Turned cartwheels 'cross the floor.
I was feeling kind of seasick,
But the crowd called out for more.
The room was humming harder,
As the ceiling flew away.
When we called out for another drink,
The waiter brought a tray.


And so it was that later,
As the miller told his tale,
That her face at first just ghostly,
Turned a whiter shade of pale.


She said there is no reason,
And the truth is plain to see
That I wandered through my playing cards,
And would not let her be
One of sixteen vestal virgins
Who were leaving for the coast.
And although my eyes were open,
They might just as well have been closed.


And so it was later,
As the miller told his tale,
That her face at first just ghostly,
Turned a whiter shade of pale.

Sunday, January 17, 2010

What is Friendship ?






Perjalanan hidup manusia memang sulit untuk ditebak. Kebahagiaan dan kemalangan datang silih berganti. Tak ada satu pun yang dapat meramalkan apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, kamu yakin jarumnya ada di sana, namun tak tahu di bagian mana dari jerami ia tersembunyi. Sukar bagaikan menebak angka yang keluar dari lemparan dua buah dadu, kamu tahu bahwa yang keluar adalah pasangan angka antara satu hingga enam, namun kemungkinan keluarnya bisa sampai beberapa faktorial kemungkinan.
Lalu perihal bagaimana caranya kamu menjalani kehidupanmu ke depannya adalah masalah sendiri lagi. Konsekuensi dari menjalankannya akan muncul dari basis kemungkinan-kemungkinan yang saya sebutkan tadi. Ada orang yang optimis dengan hidupnya, tak terlalu susah baginya untuk menemukan jarum itu, setidaknya dalam pikirannya telah terpatri dengan jelas keyakinannya akan hal tersebut. Ada juga orang yang begitu pesimis dengan hidupnya, tak yakin bisa mendapatkan angka dadu kecil dari setiap lemparan. Yah, itu tergantung pada pribadi kita masing-masing. You sure about it ? Come on, go for it.
Saya bersyukur dengan hidup saya hingga saat ini, dibuktikan dengan masih bisanya saya bertahan hidup hingga saat ini. Walaupun saya akui saya bukan dari keluarga berada, tapi saya masih bisa sekolah hingga perguruan tinggi. Walaupun banyak cobaan yang saya hadapi belakangan ini namun saya masih bisa tertawa setidaknya tersenyum dengan menonton Overa Van Java di TV. Walaupun tak terlalu banyak teman yang saya miliki, namun mereka yang telah menganggap saya teman adalah the best people yang paling saya hargai. Walaupun saya tak tahu arah tulisan ini, namun tetap saya tulisi. Ahahaha.
Hmm, apa arti teman bagimu ?
Friends are the family we choose for ourselves.
Friendship isn’t how you forget, but how you forgive. Not how you listen, but how you understand. Not how you see, but how you feel. Not how you let go, but how you hold on.
Teman adalah seseorang yang menyukaimu, seseorang dengan siapa kamu dapat menjadi diri sendiri, seseorang yang menghargai kebaikan-kebaikanmu pun tidak keberatan dengan kekuranganmu.
Teman adalah orang yang telah kamu ulurkan tanganmu dan begitu pun dia sembari menyebutkan nama satu dengan yang lainnya.
Teman adalah seseorang yang sering memanggil namamu di depan rumahmu untuk mengajak main layangan di suatu sore yang cerah dengan suara lantangnya yang selalu dimarahi ibumu dengan ucapan “si dedek lagi tidur siang, ndak boleh main keluar, ntar kulitnya itam kaya kamu. grrrr!!”
Teman adalah seseorang yang mengajakmu untuk menjaring ikan cupang di parit saat hujan deras dan banjir menggenangi pekarangan rumah, yang tentu saja dimarahi lagi oleh ibumu.
Teman adalah orang yang berkelahi denganmu karena rebutan kartu bergambar namun esoknya ketawa ketiwi lagi sambil makan jambu di pohon jambu tetangga. Ibumu? Ibumu masih selalu memarahinya pastinya.
Teman adalah yang memberikanmu contekan rumus fisika dikala kesulitan dirimu menjawab soal ujian walaupun saat itu sedang ujian matematika. Ibumu sih, sering marahin dia, jadinya gak konsen dia membawa contekan yang benar.
Teman adalah yang bersedia jadi mak comblang ketika kamu naksir dengan anak tetangga yang baru pindah dengan menanyakan nama dan mengajaknya main masak-masakan dan bersedia untuk tidak mengejar layangan untuk satu hari itu.
Teman adalah orang yang duduk di sebelahmu di dalam kelas.
Teman adalah yang kamu oper bola kepadanya dalam permainan sepakbola.
Teman adalah seseorang yang entah kenapa selalu berada satu kelas denganmu sepanjang satu semester dan semester berikutnya.
Teman adalah seseorang yang bersedia kamu ajak nonton bola atau meminjam film di rental video saat malam minggu kamu belum punya pacar walau pun dia punya.
Teman adalah seseorang yang mendengarkan dengan cermat curahan hatimu saat kamu ditolak gadis yang kamu dekati sembari mengajakmu ke angkringan ngopi buat nenangin hati.
Teman adalah seseorang yang tidak marah saat kamu lupa padanya kala dirimu sudah punya pacar dan gak pernah lagi mampir buat ngajakin nonton bola atau minjam film di wahana karena dirimu asyik kencan.
Teman adalah seseorang yang bersedia menemanimu saat kamu butuh teman dengan mengenyampingkan kesibukannya sendiri, yang perhatian dengan keadaanmu saat orang terdekatmu bahkan tak perhatian sama sekali.
Teman adalah seseorang yang menyukai anjing peliharaanmu walaupun sebenarnya dia paling takut dengan anjing akibat trauma masa kecil.
Teman adalah seseorang yang bersedia bangun di malam hari mendengarkan keluhan hatimu di telepon ketika kamu baru putus dengan pacarmu.
Teman adalah orang yang sadar bahwa kamu sedang sakit walaupun kamu tak mengatakan bahwa kamu sedang sakit. Yang rela membelikan obat malam-malam di tengah hujan dan mengantarkannya kepadamu demi satu senyumanmu, demi keringanan rasa sakitmu.
Teman adalah seseorang yang selalu cerewet menanyakan kabarmu tiap harinya, lebih cerewet dari orangtuamu sendiri terkadang.
Teman adalah yang tanpa malu mengobrak abrik rumah sakit demi mengetahui kabar bahwa kamu kecelakaan, padahal cuma terserempet motor.
Teman adalah seseorang yang pura-pura sudah kenyang, banyak pulsa, dan lagi banyak duit ketika kamu datang buat meminjam duit padanya, padahal uangnya tinggal selembar duapuluhribuan yang dia pinjamkan padamu itu.
Teman adalah orang yang dengan semangat 45 datang ke kampusmu buat menyemangatimu dalam menjalani pendadaran meskipun akhirnya teman-teman kampusmu cuekin dan anggap rendah ia karena mungkin tak sederajat kasta pertemanannya.
Teman adalah seseorang yang selalu mengisikan absen buatmu saat kamu tak hadir, yang membuang onak dan duri di jalanan saat tahu kamu akan melangkah di sana, yang membelamu ketika dimarahin dosen atau atasan, yang bahkan tak kamu masukkan dia dalam kategori mutual friend di facebookmu karena wajahnya tak cukup menarik menurutmu.Dia bukan pangeran tampan yang menunggangi kuda putih, lebih sering teman adalah kuda putih yang ditunggangi pangeran tampan.
Teman adalah seseorang yang tahu bahwa kamu sedang bersedih walaupun kamu sedang tertawa.
Teman adalah seseorang yang hanya mau berbagi kebahagiaannya denganmu, namun kesedihannya rapat-rapat dia usahakan tuk dipendam, jangan sampai kamu turut bersedih pikirnya.
Teman adalah orang yang menghabiskan sisa uang bulanannya untuk membelikan bunga dan menuliskan nama orang kesayanganmu di kartu ucapannya, bukan namanya sendiri, sekedar membuatmu bahagia.
Teman adalah seseorang yang kebal terhadap ribuan peluru namun rubuh akibat satu tetes air matamu.
Teman adalah orang yang jatuh cinta kepadamu namun tak berani mengungkapkannya karena tahu bakalan ditolak dan takut dirimu akan menjauh karenanya.
Teman adalah seseorang yang menyatakan cinta padamu walaupun tahu akan kamu tolak, yang tahu konsekuensinya bagaikan menjemput ajal dengan kehilangan kamu. Namun tak rela juga pun untuk menjauh darimu dan tidak memerhatikanmu lagi.
Teman adalah seseorang yang jutaan kali kamu buat terluka namun selalu memaafkan dan ceria kembali dengan satu sms “selamat hari raya idul fitri” mu.
Teman adalah kamu ketika berbicara tentang aku, walaupun belum tentu aku ketika berbicara tentangmu.
Teman adalah satu kata jawaban yang akan kamu lontarkan untuk menjawab pertanyaan orang terdekatmu yang keheranan, lima atau sepuluh tahun mendatang ketika dirimu tiba-tiba tersenyum saat berselisih jalan dengan seseorang di keramaian yang juga tersenyum melihatmu. Saat itu tak perlu kata untuk tersambung, tak butuh jabatan tangan untuk menyapa, karena hanya kamu dan dia saja yang tahu.

"..dia adalah teman terbaikku."





Teman adalah ketulusan yang acapkali diabaikan dan terkadang disalahartikan.

Wednesday, January 13, 2010

It's not easy to be me



I can’t stand to fly
I’m not that naive
I’m just out to find
The better part of me
I’m more than a bird...I’m more than a plane
More than some pretty face beside a train
It’s not easy to be me

I Wish that I could cry
Fall upon my knees
Find a way to lie
About a home I’ll never see

It may sound absurd...but don’t be naive
Even Heroes have the right to bleed
I may be disturbed...but won’t you concede
Even Heroes have the right to dream
It’s not easy to be me

Up, up and away...away from me
It’s all right...You can all sleep sound tonight
I’m not crazy...or anything…

I can’t stand to fly
I’m not that naive
Men weren’t meant to ride
With clouds between their knees

I’m only a man in a silly red sheet
Digging for kryptonite on this one way street
Only a man in a funny red sheet
Looking for special things inside of me

It’s not easy to be me.

Da Capo


Saya sadar sepenuhnya bahwa kehidupan yang saya, kamu, dan kita semua jalani saat ini semuanya memiliki pola yang sama dengan kehidupan orang-orang terdahulu. Tidak ada hal yang baru dari yang kita temui dalam kehidupan ini melainkan kita hanya tak tahu saja bahwa jauh sebelum kita telah ada yang juga mengalami hal semacam yang ada pada diri kita. Jangankan perbandingannya terhadap orang-orang terdahulu, bahkan teman atau kerabat dekat sekeliling kita pun mungkin ada yang memiliki kesamaan jika kamu jeli memperhatikan.
Pernahkan, suatu kali kamu bercerita keluh kesah masalahmu terhadap orangtuamu lalu berkata dia, “Hmm, Bapak jadi ingat, Bapakmu ini dulu juga pernah mengalami hal yang serupa denganmu sekarang ini!”. Ini salah satu contoh pembuktian saja bahwa ternyata semuanya bukan hal yang baru lagi yang bisa membuat orang terkaget-kaget ketika menemuinya. Semuanya adalah old fashion, teman. Apapun itu bentuk permasalahanmu, baik suka maupun duka, pastinya orang-orang yang punya kredit hidup sebelum kita sudah pernah mengalaminya.
Saya tulis seperti ini agar menjadi pedoman bagimu bahwa kamu terutama saya bisa belajar dari pengalaman orang-orang tua bagaimana caranya menyelesaikan setiap permasalahan yang kita dapatkan saat ini. Memang banyak jalan menuju Roma, namun yang pergi menuju Roma juga tidak sedikit orangnya, sehingga semua jalan sudah pernah dilalui oleh orang-orang itu sebenarnya. Cuma kita tidak tahu saja siapa yang menempuh jalan A dan siapa yang menempuh jalan B, C, dan seterusnya. Pola ini kawan, ini yang harus bisa kita baca dan kita sadari, setidaknya kita bukan satu-satunya orang yang pernah bahagia karena hingga duapuluh empat tahun ini hidup lancar-lancar saja. Kita bukanlah sang penemu bagi kedukaan yang beruntun menghantam dalam hidup hingga usia saat ini. Yang ada saat ini kan seperti itu kawan, bahwa kebanyakan orang terlalu larut dengan apa yang dialaminya. Terlalu mendalami perannya, tak sadar bahwa satu film telah usai. Kamu tak bisa memakai peranmu kemarin untuk drama yang akan kamu perankan selanjutnya. Gak matching jadinya. Pasti gagal produksi dramanya.
Akan tiba saatnya, nanti suatu saat, empat puluh atau lima puluh tahun dari sekarang jika Tuhan kasih saya umur yang panjang, di suatu sore yang cerah saya duduk di sebuah kursi tua di teras rumah ditemani secangkir kopi. Lamunan saya akan beralih ke masa-masa saat saya muda dulu, saat-saat seperti sekarang ini pastinya. Sejenak akan terpikirkan penyesalan akan setiap hal yang telah saya lewati dengan sia-sia, atas setiap kesempatan yang tak saya ambil sama sekali, atas impian akan banyak hal yang kalah oleh sikap pasrah dan menyerah. Di sore itu akan banyak saya gunakan kata andaikan untuk mengungkapkan semua penyesalan itu. Hm, andaikan dulu saya berjuang lebih keras, andaikan dulu saya tidak sia-siakan kesempatan kerja di daerah terpencil itu, andaikan dulu saya tidak buru-buru menikah karena paksaan orangtua dan memilih untuk mengubur your trully feeling, andaikan dulu saya terima kesempatan beasiswa ke luar negeri, andaikan dulu saya teguhkan pendirian untuk tetap memperjuangkan apa yang ada di hati ini. Pastinya pikiran-pikiran seperti ini akan keluar dari lamunan saya di suatu sore ketika hari tua saya tiba nanti jauh di suatu masa dari sekarang, karena pola seperti ini sudah banyak terjadi.
Saya tahu bahwa kehidupan saya saat itu pun tidak buruk pula pastinya. Ada anak istri yang menyayangi serta dikelilingi cucu, ada rumah tempat mengistirahatkan tubuh tua ini. Namun pastinya saya akan merasakan ada yang kurang dari semua ini. Wujud dari kepasrahan itu akan terlihat dari keseharian yang akan saya lalui. Cuma karena dulu tak sempat mengembangkan bakat bermusik di waktu muda, ujung-ujungnya jadi pengoleksi gitar dari segala merk. Hanya karena dulu tak sempat mencoba bermain di liga premier inggris, di masa yang akan datang jadi sering ke inggris untuk nonton langsung sepakbola. Dan karena tak bisa memperjuangkan cinta perempuan pujaan hati, akhirnya memberikan nama anak pertama dengan nama yang sama dengan sang pujaan hati dulu di kala muda.Ini semua pastinya akan terjadi setidaknya bagi saya pribadi.
Saya bisa bayangkan betapa bahagianya saya jika bisa saya peroleh dan raih apa yang benar-benar di rasa di hati. Pada saat tua itu nanti saya akan benar-benar berharap akan adanya time machine untuk membawa saya ke puluhan tahun silam ketika semuanya masih dapat saya perjuangkan, setidaknya mengirimkan nasihat buat diri saya muda untuk memperjuangkan semua harapan dan impian itu. Untuk tidak menyerah dalam kepasrahan. Saya akan senang sekali untuk bisa menyemangati diri saya muda agar selalu bangkit setiap kali terjatuh, umtuk tidak pernah bosan dengan kegagalan, untuk menggenggam erat impian dan harapan itu walau panasnya bak bara api dalam genggaman .
Pemikiran seperti ini bermula dari pola yang tadi saya ceritakan itu kawan. Saya telah banyak mendengar dan menyaksikan sendiri orang-orang tua yang saya kenal bercerita tentang masa mudanya. Dan kebanyakan dari mereka selalu saja menyerah dalam kepasrahan untuk hal-hal tertentu, dan sayangnya hal-hal tertentu itu merupakan hal-hal yang crusial pula sebenarnya. Saya tak suka ekspresi mereka saat bercerita tentang kepasrahan. Wajah tuanya mengkerut lebih banyak dari keadaan normalnya. Matanya sayu, sesayu ketika ia mendengar rekan seangkatannya telah banyak menamatkan kehidupannya di dunia ini, bahkan lebih sayu lagi. Orang-orang yang menyerah di kaki takdir.”Yah, mau bagaimana lagi, Sudah takdir “. Saya benci sekali sebenarnya dengan ungkapan seperti ini. Bukankah semuanya bisa diwujudkan dengan perjuangan? Bukankah Adam harus mengelilingi dunia ratusan tahun terlebih dahulu untuk menemukan Hawa? Bukankah Alexander The Great harus bersabar cukup lama untuk menguasai hampir sebagian belahan dunia? Bahkan Muhammad pun harus bersabar dalam luka untuk memenangkan hati penduduk mekkah menuju islam selama tiga belas tahun. Kamu tidak bisa kan meninggalkan begitu saja pekerjaan yang sudah kamu mulai ? Atau memang harus saya berkumpul juga dalam kelompok orang-orang pasrah itu?
Tidak. Tidak, kawan. Saya tidak mau mengalami hal serupa itu pula. Mungkin terkabul doa saya di limapuluh tahun yang akan datang. Walau tanpa mesin waktu, akhirnya tersampaikan juga pemikiran ini. Saya tak mau jadi orang yang selalu menyerah dan pasrah begitu saja terhadap semuanya. Besar ingin saya untuk memperjuangkannya selalu, semua yang berarti bagi saya. Bara itu memang panas, melepuhkan kulit secepat ia menghanguskan kertas, namun tetap akan saya genggam erat-erat, takkan saya lepaskan atau renggangkan tangan ini barang sejenak pun. Bara itu adalah harapan dan impian. Tanpa itu semua saya hidup namun sekaligus mati dalam waktu bersamaan.
Dan ketika detik jarum jam telah berputar satu milyar limaratus tujuhpuluh enam juta delapan ratus ribu kali dari saat ini, di suatu sore yang cerah ketika saya duduk termenung di teras rumah ditemani secangkir kopi, lamunan saya akan terbang bersama harapan dan impian yang telah berhasil saya raih selama saya hidup di dunia ini. Dan saya akan berangkat dengan kerelaan dan wajah puas jika Tuhan panggil saya saat itu juga.



The falling leaves drift by the window
The autumn leaves of red and gold
I see your lips, the summer kisses
The sun-burned hands I used to hold


Since you went away the days grow long
And soon I'll hear old winter's song
But I miss you most of all my darling
When autumn leaves start to fall

P.S. Untuk beberapa hal, kini saya hanya bisa berjuang dalam doa. Hingga suatu saat
        terkabulkan kiranya doa ini oleh NYA.

Tuesday, January 12, 2010

She




She
May be the face I can't forget
The trace of pleasure or regret
May be my treasure or the price I have to pay
She
May be the song that summer sings
May be the chill that autumn brings
May be a hundred different things
Within the measure of a day


She
May be the beauty or the beast
May be the famine or the feast
May turn each day into a heaven or a hell
She may be the mirror of my dreams
The smile reflected in a stream
She may not be what she may seem
Inside her shell


She
Who always seems so happy in a crowd
Whose eyes can be so private and so proud
No one's allowed to see them when they cry
She
May be the love that cannot hope to last
May come to me from shadows of the past
That I'll remember till the day I die


She
May be the reason I survive
The why and wherefore I'm alive
The one I'll care for through the rough in ready years
Me
I'll take her laughter and her tears
And make them all my souvenirs
For where she goes I've got to be
The meaning of my life is


She
She, oh she

Thursday, January 7, 2010

Only Hope


There’s a song that’s inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold
But you sing to me over and over and over again

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
to be only yours I pray
to be only yours I know now you’re my only hope

Sing to me the song of the stars
of your galaxy dancing and laughing and laughing again
When it feels like my dreams are so far
Sing to me of the plans that you have for me over again

So I lay may head back down
And I lift my hands and pray
to be only yours I pray
to be only yours I know now you’re my only hope

I’ll give you my emphaty
I’m giving you all of me
I want your symphony
Singing all that I am
At the top of my lungs
I’m giving it back

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
to be only yours I pray
to be only yours I pray
to be only yours i pray
I know now you’re my only hope



.............................................................................................................................................


Teman, kalau pada saat ini kutanyakan kepadamu, hingga saat ini kamu hidup, kapan kiranya saat-saat emasmu? Saat kamu di sekolah dasarkah ketika kamu masih penuh kebebasan dan bisa bermain tanpa ada beban? Atau saat kamu berada di bangku SMU, saat adrenalinmu baru benar-benar munculkah? Hmm, tentunya berbeda-beda jawaban kalian semua. Saya? Hmm, saya sendiri jika ditanyakan seperti itu pastinya akan saya jawab pada masa-masa kuliyah dulu. Entah sejak kapan saya jadi lupa bagaimana sulitnya hidup itu. Saya kira semuanya akan berjalan sesuai dengan yang saya mau. Pemikiran ini mulai bersarang di kepala semenjak pertama kali saya menginjakkan kaki di jogja agaknya. Bagaimana tidak, di sini pertama kalinya saya bisa hidup bebas terlepas dari orangtua. Bayangkan saja ibarat anak macan yang pertama kali dilepas ke dunia luar. Pertamanya tentunya ketakutan dengan sendiri, namun lama-lama setelah terbiasa maka seluruh hutan akan menyesal dengan kelahiran sang macan. Rusa akan bersembunyi sejauh mungkin di belantara, burung-burung akan menjerit begitu ia menapakkan kaki, tupai-tupai akan meloncat ketakutan di atas rindang pohon untuk menghindar. Begitulah jika macan sudah menunjukkan taringnya. Ups, nanti dulu, pastinya saya bukan seperti sang macan lah.
Entah sejak kapan saya jadi lupa bagaimana sulitnya hidup itu. Mungkin karena pergaulan juga saya menjadi seperti ini. Melupakan hakikat sebenarnya dari hidup itu. Berlaku tidak profesional sama sekali dengan diri sendiri. Andaikan bisa dipertemukan diri saya saat ini dengan saya pada waktu sepuluh tahun silam, pastinya saya yang berada pada sepuluh tahun silam akan geleng-geleng kepala. Perbedaannya sudah jauh sekali, bung. Kayaknya saya sudah berubah sejauh ‘arcus cosinusnya -0,9659 pada kuadran ke dua’ agaknya. Selain fisik yang sedikit berotot dan sixpack (ahahahay..) dan wajah ditumbuhi kumis serta janggut yang menjadikan saya sedikit macho (ahahahahay lagi..) tentunya banyak sekali perbedaan karakter dan cara pandang saya dengan saya di waktu sepuluh tahun silam. Hm, sedikit deskrispsi saja bagimu mengenai saya dahulu, kamu tahu film kartun doraemon? Di sana ada tokoh yang bernama nobita yang selalu dijahilin teman-temannya?Hmm, Setidaknya sedikit banyak saya ada kemiripan dengan dekisuki. Ahahaha.
Entah sejak kapan saya jadi lupa bagaimana sulitnya hdup itu. Atau mungkin juga karena telah terbiasa dengan kesulitan hidup sehingga menjadikan pola pemikiran saya menganggap bahwa yang sulit itu malah menjadi suatu kelayakan hidup, bisa jadi juga. Orang yang terbiasa bepergian dengan berjalan kaki terus menerus setiap hari pastinya akan meraa bahagia dan mudah jika mendpatkan track perjalanannya setiap hari berubah menjadi suatu turunan, lebih gampang melewatinya dibandingkan tanjakan. Atau mungkin menemukan rute perjalanannya sudah menjadi jalan yang bagus tanpa ada lubang di jalan. Yang demikian saja sudah cukup membuatnya lega dan merasa bahagia. Bisa kamu bayangkan bagaimana jika suatu hari ia diperkenalkan dengan kendaraan yang bisa membawanya lebih cepat dan nyaman. Bisa bengong dan terkaget-kaget mungkin si orang ini. Pada akhirnya yang menentukan adalah pembiasaan atau adaptasi diri juga. Ada juga orng yang karena terbiasa berkendara dengan sepeda motor hingga suatu saat harus mengendarai mobil malah merasa gak nyaman dan mabok di jalan. Ada juga yang karena terbiasa tinggal di rumah petak kecil hingga suatu saat harus menginap di hotel berbintang malah jadi gak bisa tidur pulas. Ada juga orang yang terbiasa memperoleh penghasilan dengan bekerja keras dan banting tulang untuk mendapatkan beberapa lembar uang hingga suatu saat mendapat penghasilan besar malah menjadi stres dan hilang akal. Benar bukan?


Entah sejak kapan saya jadi lupa bagimana sulitnya hidup itu. Apakah salah seorang kuli bangunan mengharapkan suatu saat kerja di kantoran ber AC ? Apa salah seorang tukang jamu yang membawa bakul berat dengan berjalan seharian berharap bisa mengendarai sedan ? Terus apakah salah juga jika kita memperjuangkan apa yang ada dalam hati? Apakah semua ini hanya akan selalu berakhir dengan suatu pengrelaan? Tidak bisakah kita hidup tanpa harus terluka dan merana? Setidaknya jika memang harus kehilangan saya harap kepada MU, Tuhan, Jangan dia yang harus saya relakan, jangan dia yang harus hilang dari hidup saya. Engkau boleh ambil semua kekayaan yang saya punya, ambil sisa hidup yang saya miliki, pisahkan berjuta-juta mil dengannya layaknya Kau pisahkan Adam dan Hawa dahulu kala. Tapi tolong janjikan pertemuan kembali dengannya. Jangan dia yang harus saya relakan. Itu saja.

Friday, January 1, 2010

Somewhere Over The Rainbow

Jika saya berhasil membuat tulisan ini, kawan, berarti akhirnya saya bisa bertahan hidup hingga tahun 2010. Perihal apa yang akan terjadi dalam 364 hari ke depan masih merupakan suatu misteri yang tersimpan rahasianya di Arsy sana. Saya yakin sangat bahwa di depan sana pasti akan ada lagi hal-hal yang tidak akan pernah kamu bayangkan akan terjadi. Jika kamu pikir kawan bahwa ini adalah kali terakhir kamu menangis atau bahagia maka kuharap kamu cepat-cepat sadarkan diri bahwa anggapanmu itu pastinya salah. Begitu pula saya ingatkan kepada diri saya sendiri. Bisa saja dan tidak mustahil bahwa saya akan menulis di sini lagi entah tertanggal berapa di tahun ini tentang suka duka yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Maka untuk hal itu semua kawan kita harus mempersiapkan diri dan selalu memikirkan setiap langkah yang akan kita ambil dengan matang.


Kuajak kamu berbicara tentang harapan kawan. Tentunya kamu semua sudah akrab dengan satu kata ini dan turunan katanya seperti impian, angan-angan, dan cita-cita. Sedari kecil kita sudah dicekoki oleh orang-orang dewasa tentang hal yang satu ini. Ditunjukkannya kita semua tentang kemegahan dunia dan bagaimana cara agar bisa menuju ke sana, dikenalkannya kita dengan orang-orang hebat sehingga silau mata ini untuk berkehendak menjadi demikian pula. Banyak bukan, hal-hal indah yang membutakan matamu sedari kecil. Sedari kecil, kawan, masa-masa dimana kamu dengan bebas bisa berkehendak menjadi apa saja tanpa harus berpikir mengenai konsekuensi dari semua itu. Masa-masa dimana kamu mempunyai cita-cita yang begitu tinggi, apa pun yang kamu inginkan menjadi bisa kamu utarakan, kamu teriakkan dengan gamblang. Bahkan tidak sering kamu memiliki empat cita-cita dalam setahun berhubung cita-citamu selalu berubah-ubah setiap awal caturwulan ketika kamu tuliskan dalam karanganmu di pelajaran bahasa indonesia ketika duduk di sekolah dasar. Kamu bisa melakukan itu semua tanpa beban dan orang-orang dewasa di sekelilingmu tidak pernah menuntut realisasi dari itu semua bukan ?
Saya sendiri saat ini masih ingat dengan cita-cita yang saya miliki ketika kecil. Pernah di suatu saat ketika Taman Kanak-Kanak saya bercita-cita ingin menjadi Satria Baja Hitam. Saya paksa orangtua saya untuk belikan baju satria baja hitam plus dengan sepeda BMX kecil yang selalu saya mainkan di sekeliling pekarangan dan berteriak-teriak ndak tentu arah. Begitu bangganya saya dengan cita-cita saya ini sampai-sampai saya pernah menjadi jagoan diantara anak sepantaran saya.Ya, saya yang paling kuat berkelahi diantara yang lainnya. Ada-ada saja yang saya lakukan seolah-olah saya adalah jagoan tanpa memikirkan apa tindakan yang saya lakukan itu benar atau tidak. Saking overaktifnya saya, bahkan saya pernah harus diikat seharian oleh Ayah saya di dalam kamar dan tak dibiarkan keluar untuk bermain. Pun juga saya pernah diseret di jalanan sekitar rumah karena ketahuan mencuri rambutan di kebun orang. Hanya karena obsesi menjadi Satria Baja Hitam.


Beranjak sedikit dewasa, ketika saya tidak takut lagi ke toilet malam-malam. Cita-cita itu pun berubah. Saya masih ingat kawan, bahwa ketika itu, ketika saya berumur sepantaran anak SD, saya memiliki cita-cita menjadi Jendral. Tak tahulah saya setan apa yang menghinggapi anak bau kencur satu ini sampai bercita-cita begitu sadisnya. Yang saya ingat cuma betapa gagahnya seorang jendral dengan pakaiannya yang penuh dengan bintang kehormatan dan pangkat, punya tank baja dan senjata lengkap. Pikiran anak kecil saya larut dengan itu semua. Aplikasinya? Hmm, jangan salah, saya punya banyak pistol-pistolan dahulu. Mulai dari pistol air berbagai bentuk (ada bentuk ikan, gajah, pesawat, bahkan satria baja hitam, red.) hingga pistol berisi mesiu yang kalau dihidupkan mengeluarkan bunyi nyaring. Ada lagi koleksi granat yang terbuat dari busi bekas yang ujungnya diisi belerang korek api dan diapit dengan baut, ekornya dikasih jumbai-jumbai dari tali rafia. Kalau dilemparkan cukup membuat orang-orang di enam petak rumah besoknya mengeluh ke Ibu saya, dan besoknya saya kembali diikat dalam kamar oleh Ayah. Kalau marah ternyata ayah saya jauh lebih menakutkan dibandingkan film Friday the 13th. Ahahahaha. Dan jangan salah, anak-anak seumuran kami saat itu sudah mengenal bazooka dan bom jauh sebelum Nurdin M Top terkenal. Kami buat dari kaleng yang disusun yang disambung-sambungkan dan pemicunya terbuat dari minyak tanah. Dan saya belum tahu sama sekali benar tidaknya aplikasi dari cita-cita itu.


Beranjak sedikit dewasa lagi, ketika SMP, cita-cita itu pun berubah dengan sekonyong-konyongnya. Saya ingin menjadi pengusaha yang sukses, hal ini dilatarbelakangi dari kondisi finansial keluarga yang cukup mengenaskan saat itu. Pikirannya ingin bekerja saja, membantu orang tua. Saya rasa saya benar-benar orang yang paling rajin se dunia saat itu. Berangkat ke sekolah jam lima subuh (kelas dimulai pukul 7.15 dan saya di Pekanbaru bukan Jakarta, red.) , membersihkan kelas walaupun bukan giliran piket, uang jajan ditabung buat beli buku, pulang sekolah langsung ke rumah, mengerjakan tugas dari sekolah, dan kerja sambilan di rumah saudagar cabe buat di jual ke pasar. Saat-saat ini memang tidak ada waktu untuk bermain bagi saya, dikala teman-teman lainnya mengenal play station, komputer, tamiya, dan permainan lainnya. Hiburan saya saat itu hanyalah film kartun yang ditayangkan RCTI di hari minggu. Itu saja.


Masuk ke jenjang SMU. Cita-cita itu mulai sedikit menampakkan wujudnya. Besar keinginan saya saat itu untuk bisa menjadi dokter. Saya lihat kalau punya pekerjaan sebagai dokter tampaknya bisa menjadi orang yang kaya, punya penghidupan yang terjamin. Saya rangkul impian saya ini erat-erat. Lumayan dapat peringkat di kelas dengan nilai-nilai yang memuaskan. Saya sangat percaya dengan impian ini ketika saya disadarkan oleh takdir. Saya berasal dari keluarga yang tak mampu. Untuk menjadi dokter dengan memasuki fakultas kedokteran biayanya nauzubillah besar sekali jumlahnya. Di UGM saja saat itu untuk pertama masuk minimal biayanya kalau saya tak salah sejumlah lima puluh juta rupiah, jumlah uang yang sama sekali tidak pernah terpegang oleh ayah saya yang hanya seorang guru biasa. Saya katakan di sini terpegang kawan, alih-alih memiliki. Di Universitas lain pun tak jauh beda lah biaya yang harus dikeluarkan. Akhirnya impian, cita-cita itu kandas begitu saja, tak jadi saya tulis pilihan pertama saya jurusan kedokteran, melainkan teknik kimia. Bersyukur saya bisa kuliah juga di UGM di jurusan teknik kimia ini karena mendapat beasiswa dari pemerintah provinsi RIAU.
Dari uraian yang telah saya sebutkan tadi kawan, ada beberapa hal yang benar-benar saya sadari. Pertama, jarang sekali impian yag kita miliki saat kecil itu bisa teraih hingga benar-benar terwujud. Semua itu akan sirna menjadi angan-angan belaka ketika kamu dewasa, lebih-lebih jika kamu berasal dari keluarga tak mampu. Untuk orang-orang dari kalangan seperti saya, yang berhasil meraih impiannya hanya sekelumit saja, satu di antara sejuta. Yang lainnya akhirnya kalah oleh seleksi alam dan menyesuaikan diri dengan takdir yang diberikan. Akhirnya semuanya memang harus tergantung dari materi juga, tak peduli seberapa jenius pun dirimu. Saya katakan seperti ini bukan karena pesimis kawan, Cuma berusaha berpikir realistis. Memang sebenarnya bisa kamu berusaha dan meraihnya, hanya saja terlalu banyak yang kamu korbankan untuk mencapainya. Untuk saya, saya rasa saya tak tega harus melihat orangtua saya mengemis untuk menyekolahkan saya di jurusan yang saya inginkan. Tak usahlah berharap dari beasiswa segala. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai.


Hal kedua yang saya simpulkan akhirnya adalah memang ada hal-hal di duna ini yang betapa pun kamu berkeinginan akannya, tetap tidak akan pernah kamu dapatkan. Untuk hal-hal yang seperti ini sebaiknya kamu semua cepat sadar dan tak perlu yang namanya kerja keras dan banting tulang. Untuk hal-hal tertentu seperti ini kamu harus sadar diri. Saya sadari memang ada yang seperti ini kawan. Hanya saja karena kita sudah sedari awal dibutakan oleh nasehat orang dewasa bahwa semuanya bisa tercapai jika bekerja keras dan tak kenal menyerah maka akhirnya kita buta akan semua, tidak menyadari batas diri sendiri. Mungkin hal ini berguna juga buat dirimu, mengajarkanmu tentang yang namanya kegagalan dan mengetahui batas kemampuan diri. Tak perlulah saya ambilkan contoh buat memperjelas semuanya bukan?? Saya rasa kamu bisa memahaminya.


Dan yang terakhir yang dapat saya simpulkan, bahwa tuhan punya rencana bagi setiap hambaNYA. Jika diberikanNYA kamu musibah, itu semua agar kamu belajar dari musibah itu. Bisa jadi peringatan agar kamu tidak terjerumus atau bahkan hukuman agar kamu jera dan sadar bahwa jalan yang kamu lalui selama ini salah. Selalu berpikir positif atas semua yang terjadi pada dirimu kawan, itu intinya. Terkadang kita terlalu larut dengan kesedihan akibat kegagalan sampai-sampai tidak sadar adanya kesempatan terbaik yang datang pada kita. When God shut the dor, He Open the window. Percayalah kawan, memang benar demikian adanya. Sayang jika kamu menyerah sekarang jika keberhasilan itu ternyata esok datangnya. Bagi setiap manusia teman, meraih impian itu bagaikan mengutip pecahan bola kaca yang berserakan di lantai. Ada yang mendapatkan pecahan yang besar, besar pula bagian kebahagiaannya. Ada yang mendapatkan pecahan yang kecil, kecil pula bagian kebahagiaannya. Dan tak jarang kita terluka dalam meraihnya. Benar, bukan ?



Somewhere, over the rainbow way up high
There's a land that I dreamed of once in a lullaby
Somewhere, over the rainbow skies are blue
And the dreams that you dare to dream really do come true



Some day I'll wish upon a star and wake up where the clouds are far behind me
Where laughter falls like lemon drops away above the chimney tops
That's where you'll find me



Somewhere, over the rainbow Skies are blue
And the dreams that you dare to dream Really do come true
If happy little bluebirds fly Beyond the rainbow
Why, oh, why can't I?



When all the world is a hopeless jumble
And the raindrops tumble all around
Heaven opens a magic lane
When all the clouds darken up the skyway
There's a rainbow highway to be found
Leading from your windowpane
To a place behind the sun
Just a step beyond the rain