Untuk bangkit dari keterpurukan itu ternyata bukan hal yang mudah. Begitulah yang saya alami saat ini, yang ada dalam pikiran kalau pun bisa digambarkan dalam secarik kertas adalah umpama coretan carut marut yang tak punya bentuk. Kertasnya pun tak pula bersih dan halus, adalah ia lembaran usang yang lapuk dan lekang oleh masa.
“Kau tipe orang yang pendek umur ! “ , ungkap salah seorang kawan beberapa waktu yang lalu. Tertawa saya mendengarnya. Kalau mau jujur yang demikian itu bagaikan kata penghibur bagi saya, bukan penghancur.
Orang yang berani itu bukanlah orang yang tak takut mati, melainkan orang yang tak takut hidup. Begitu saya baca di salah satu buku tentang filosofi hidup yang telah usang. Apa benar begitu? Setidaknya sekarang saya mulai tahu jawabannya.
Adapun keadaan saya saat ini ibarat perantau yang berlayar mengarungi kapal. Di tengah laut kapal saya tenggelam, megap-megap saya buat bertahan hidup. Lama terhanyut dan terombang-ambing di atas kumpulan air asin ini. Puluhan bahkan ribuan fatamorgana telah pula turut saya lihat yang semestinya hanya dilihat kafilah di padang pasir. Haus dahaga terasa walau di sekitar banyak air.
Bukannya mau menyerah dengan keadaan. Saya berusaha untuk lepas dan bergerak mengikuti arus yang memudahkan saya kiranya terdampar di suatu pulau yang tah di mana. Saya gerakkan kaki untuk mengayuh di air hingga mati rasa dan tak bisa tergerakkan lagi. Pun begitu juga dengan tangan. Lalu dengan usaha terakhir saya coba turuti arus ini ntah ke mana dia kan menghanyutkan saya. Terserahlah, tak mau ambil peduli lagi.
Lalu untuk kesekian kalinya ketika saya telah terbiasa dengan ini semua, tampaklah pertolongan itu datang. Setidaknya dari sudut pandang saya saat ini saya anggap itu pertolongan. Ada kapal megah yang lewat di tengah-tengah keterhanyutan ini. Dia ulurkan tali tuk angkat tubuh yang mulai rapuh ini, senang rasanya. Sekejap terlintas di mata akan kehangatan di atas sana, rasa manis roti di perut, dan wangi kopi yang menentramkan pikiran. Sekejap lagi bisa saya rasakan, kataku. Terjawab doa ini rupanya.
Baru saja saya arahkan tangan ini untuk menjangkau tali dengan sisa kekuatan yang ada di hati, ketika saya lihat di samping saya ada ternyata sesosok tubuh yang berusaha untuk bertahan hidup pula. Walau selama ini tak pernah bercermin, namun saya rasa begitu juga kiranya wajah saya saat ini, persis dengan wajah sesosok tubuh di samping saya itu. Tak pula tega saya rasanya, maka saya jangkau tubuhnya dan ikatkan tali ke badannya. Tak kurasakan sedikitpun kehangatan tubuhnya saat saya menyentuhnya, namun ia belum mati, masih ada harapan tuk hidup. Impiannya mungkin lebih besar dari impianku, ingin dan citanya bahkan bisa jadi lebih megah dari yang bisa saya impi dan citakan. Pastinya banyak orang yang menantinya di daratan sana.
Terangkatlah tubuhnya dengan seutas tali tadi. Di atas sana bersiap menyambutnya, menyelimutunya agar hangat, memberikan perawatan sebaik-baiknya. Baiklah, sekarang giliran saya. Tuan, cepatlah kau ulurkan tali itu lagi kemari. Aku telah bersabar dalam keterhanyutan ini selama ratusan periode matahari, janganlah kiranya kau minta aku tuk bersabar lebih lama lagi, tuan.
“Maaf, kapal kami kiranya hanya bisa mengangkut satu orang lagi. Hanya satu ini yang bisa kami selamatkan. Lebih dari ini terpaksa kami harus mengorbankan penumpang lainnya dalam bahaya. Sudah melebihi ambang batas, tuan. Maafkanlah kami sebesar-besarnya. Harapkan tuan bisa bersabar di sana menunggu kapal lainnya yang kan berlalu di sekitar sini. Harapkan tuan bisa bertahan lebih lama lagi. Kami doakan keselamatan dan kekuatan bagi tuan selalu sampai penyelamat lainnya datang.”
Lalu berlalulah kapal itu. Ditinggalkannya saya sendirian terasing di gumpalan air maha luas ini. Baru sekejap tadi saya rasakan aroma kehidupan itu, baru sekejap tadi saya rasakan harapan tuk hidup itu, bahkan di tangan ini masih terlihat jejak bekas menggenggam tali tadi.
Sedihkah kata yang tepat untuk menggambarkan semua itu, kawan? Mau menangis, tapi saya tahu itu cuma akan semakin mengurangi air di badan saja. kehausan yang maha dahsyat sudah tidak tak terasa lagi rasanya. Apa lah lagi yang bisa saya perbuat. Tenaga tak ada, tangan dan kaki telah pula lemas terkulai. Badan sedikit demi sedikit rapuh digerogoti asinnya air . Tak ada paus seperti yang menyelamatkan Yunus. Tak ada kehangatan seperti yang membungkus Ibrahim dari sengatan api. Yang terakhir kulihat di malam itu adalah Perseuss di langit sana, berkelip dengan indahnya. Agaknya cepatlah kau bawa juga saya ke sana.
Dan kemudian yang ada hanyalah gelap.

No comments:
Post a Comment