Monday, February 1, 2010

Our Field Of Dream

Sore itu ada kepadatan yang tak wajar di sepanjang jalan menuju rumbai. Berhubung ini adalah hari minggu, maka memang tepat anda terheran-heran kok bisanya jembatan Leton penuh sesak oleh para pengguna jalan raya, kalau hari-hari kerja sih memang biasa secara Rumbai adalah kota satelitnya Pekanbaru jadi banyak para pekerja yang tinggal di daerah ini yang memiliki pekerjaan di Pekanbaru.
Apakah yang terjadi? Ada kecelakaan beruntunkah ? Atau ada kucing yag tertabrak di jalan sehingga membuat kemacetan puluhan kilometer ? Atau mungkin ada Ibu-ibu yang menghentikan arus kendaraan di depan sana karena sendal anaknya lepas saat naik motor? Mungkin ada tawuran yang menuntut agar Ade Kurniawan dipilih menjadi Gubernur Riau selanjutnya ? Hmm, bisa jadi. Namun yang terjadi sore itu bukan demikian adanya, meskipun sebagian besar dari kalian mungkin memperkirakan kemungkinan terakhir yang saya sebutkan tadi. Ahahaha.
Sore itu (minggu, 31/01/2010) ada pertandingan kandang terakhir bagi tim kesayangan kita ( baca : PSPS ) jadi seluruh supporter Asykar The King yang bercokol di bumi lancangkuning ini meninggalkan sejenak aktivitas sorenya untuk berdatangan ke stadion kita tercinta ini (baca lagi : Stadion Rumbai) yang konon katanya bisa menampung satu juta orang plus bantuan korban banjir, gunung meletus, longsor, dan gempa bumi. Hehehe, gak dink.
Saya ? Hm, sebenarnya saya tidak terlalu ekspektasi dalam menonton bola di negeri ini secara menurut pengalaman saya ketika masih bermain di primavera Italia saya sudah sering menyaksikan pertandingan level dunia ( boleh baca boleh teriak : sombooooong..!). Namun karena paksaan teman-teman dan sokongan materi dari orangtua serta doa dari alim lama setempat mka berangkat pula akhirnya awak ni ke sana. Yah, mau gimana lagi, kata mereka “gak ada lo gak rame..” jadi berangkatlah saya menuju tempat kejadian perkara buat memuaskan hati pemirsa dan teman-teman.
Lama saya tinggalkan, ternyata stadion ini tidak banyak berubah. Terakhir kali saya menginjakkkan kaki di sini tepatnya tujuh tahun silam saat penyelenggaraan UM UGM yang pertama yang menjatuhkan korban sebah pensil 2B dan penghapus Fabber Castel hilang di pihak saya saat itu ntah di sudut mana dari stadion ini. Saya katakan tidak banyak perubahan karena kondisinya tidak jauh beda dengan terakhir kali saya melihatnya. Semak masih banyak di kiri kanan jalan, rumah-rumah perabotan masih eksis di tepi jalan, lampu merahnya pun belum diganti, masih yang dipakai pas tujuh tahun yang lalu agaknya. Bahkan di tembok stadionnya masih ada tulisan-tulisan yang begitu akrab di mata seperti “METAL”, “Anak Rumbai Oke”, “andi love tina”, “mantan preman”, serta “ ngebut benjut”. Hm, buat yang terakhir itu becanda, adanya di ngayogyakarto hadiningrat sana, tepatnya di setiap tikungan perumahan penduduk daerah pogung dan tawangsari. Ahahaha, jadi kangen.
Baiklah, kembali ke pokok cerita. Maka berangkatlah saya dan teman-teman yang mengharapkan kehadiran saya tadi ke stadion rumbai. Dengan menggoes sepeda roda dua bermesin 4 tak kami meluncur dari rumah risky di jalan cempaka. O ya, kami terdiri dari saya sendiri, terus ada Prilnali Eka Putra yang baru mengurangi jatah oksigen orang pekanbaru, ada Risky atriyansyah, si cheese yang nama aslinya masih merupakan misteri bagi saya, serta Mira. Sepanjang perjalanan saya sudah merasa bahwa ada ban belakang motor saya yang saya tumpangi bareng Eka mengalami Low Pressure dan perlu injeksi fresh air denngan tekanan 10 N/m kayaknya. Namun karena tak mau menyinggung si Eka yang porsi tubuhnya agak besar sekarang, maka saya diamkan saja. Dan terjadilah kejadian naas itu. Ban bocor di beberapa ratus meter lagi menuju stadion. Terpaksalah kami isi buat tambah angin dulu, seharusnya di tambal Cuma karena tim kesayangan uda mau main terpaksa ditambah angin saja asal nyampe ke stadion. Lalu kami pacu lagi motor buat menghabiskan sisa jarak yang memisahkan kami dengan Herman Jumafo dkk. Sukses, Sampai diparkiran tepi jalan dengan ban kempes total.
“Dengan selembar duaribu perak kami percaykan motor ini padamu bang parkir, harapkan daku kan bersua lagi dengan ni motor pada 90 menit ke depan. Huhu, Oh Bang tukang parkir...” Ujarku melepas kepergian Jupiter MX hijauku buat sekejap.
“Ah, banyak gaya kau lagi dek, nonton ajalah sana . Kan Abang pertaruhkan jiwa dan raga Abang serta kehormatan profesi juru parkir yang telah abang pegang selama 12 tahun ini demi menjaga motormu, dek. Percayalah sama Abang..”. Jawab Bang parkir dengan sesenggukan di bawah langit biru bumi melayu sore itu.
Hmmm, silakan kalau ada yang mau muntah ke toilet sebentar, saya tunggu. T_T..





Kami mengikuti si cheese yang lebih mengenal medan sekitar stadion untuk memilih tempat masuk ke dalam. Ke utara haluan kami tuju, di sana bisa masuk dengan mudah kata doi. Oke lah kalau begitu. Di jalan menuju pintu masuk utara kami liat si Bastian yang sekarang jadi polisi sedang dikumpulkan oleh pimpinannya untuk rapat sebelum bertugas di stadion ini demi menjaga keamanan agar tidak ada dedi mulyadi –dedi mulyadi lainnya yang masuk ke lapangan atau bahkan Bonek versi melayu yang membuat rusuh suasana. Sampai di pintu utara, giliran si cheese menunjukkan keahlian debat yang telah dilatihnya pas sma pak kadir di SMU dulu. Dan, Gagal. Tak boleh masuk kami, padahal si Cheese uda melihatkan Co Card tanda Panpel yang memudahkan akses masuk, tapi kata si petugas tribun di sini uda penuh.
Kami sedikit kecewa dan gelisah, bagaimana jadinya permainan tim tanpa kehadiran kami.
“Coba masuk yang dari Selatan aja yok.!” Kata si cheese mencoba menghibur kami yang sudah mulai menangis.
Maka berjalanlah kami setengah keliling setengah stadion lagi untuk menuju pintu masuk selatan. Hujan badai sudah mulai menunjukkan maksud kedatangannya sore itu kala kami menuju selatan (baca: gerimis). Saya sudah hampir putus asa, pokoknya kalau tak boleh juga masuk maka kami berniat manjat tiang lampu penerangan di pojok stadion seperti orang-orang itu pikirku.


Kali ini sukses nyata. Kami boleh masuk dan langsung memilih tempat duduk di tribun terbuka bagian selatan yang memang masih cukup sepi saat itu. Kami hempaskan pantat kami di semen yang hangat itu dan duduk menyaksikan jalannya pertandingan yag sebentar lagi akan dimulai. Sempat berfoto sejenak.


Pertandingan dimulai, PSPS vs Pelita Jaya dengan skor akhir 2-1. Tak perlu rasanya saya ulas jalannya pertandingan, nanti mengambil porsi jatah koran Bola dan sejenisnya pula jadinya. Karena saya tahu kalian pasti akan lebih memilih membaca ulasan saya. Ahahaha. Jumawa berlebihan.

Yang ingin saya gambarkan adalah kejadian-kejadian unik selama pertandingan berlangsung dari sudut pandang saya sebagai orang ke tiga tunggal. Untuk selanjutnya saya akan menggunakan istilah berikut :
Tribun Utara : Gryfindor
Tribun Timur : Slytherin
Tribun Selatan : Hufflepuff
Tribun Barat : Ravenclaw
Baru kick off babak pertama berbunyi, genderang perang sudah mulai di tabur oleh slytherin sana. Di sana adalah pusatnya Asykar The King menyoraki semangat buat tim kesayangannya sementara hardikan, umpatan, dan sumpah serapah sejenis avada kedavra dan cruciatus buat tim tamu. Dumbledore beserta para tamu duduk di tribunnya Hufflepuff yang adem karena terlindung dari teriknya matahari yang suka bergantian datangnya dengan gerimis mengundang. Terlebih lagi ketika kau tahu siapa mencetak gol pertama bagi PSPS di babak pertama ntah di menit berapa karena saya tak bawa jam. Seluruh stadion langsung membiru, setidaknya anggap saja begitu, karena rupanya orang pekanbaru ni walau datang membela PSPS tercinta yang bawa dan makai atribut PSPS hanya sebagian kecil saja. Mereka lebih memilih menggunakan fashion style terbaru keluaran Gucci, Armani, dan DKNY.

Tribun slytherin sebentar-sebentar disirami dengan semprotan air dari slang petugas pemadam kebakaran yang sengaja didatangkan untuk memeriahkan suasana. Tapi Tuhan itu Maha Adil, dikirimnya hujan lebat seketika untuk Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw, serta sebagian Hufflepuff. Rata dan berbasah-basahan lah kami semua sore itu. Hm, menyesal juga sih tak bisa mengambil gambar jadinya, takut kamera rusak. Mana baju kaos serta Jeans baru di setrika lagi tadi siang.

Satu hal yang ingin saya tekankan sekeras-kerasnya kepada kamu sekalian. Jika kamu suatu saat menonton pertandingan bola di Stadion ini, maka jangan sekali-kali membawa teman, pacar, adik, tante, atau sodara perempuan yang lumayan cantik. Ni orang pekanbaru kalau melihat cewek cakep ekspektasinya jauh berbeda dengan kota-kota lainnya. Kalau di kotamu mungkin cewek cakep bakalan digodain, dikasih bunga, atau diajak traktir, namu di sini malah dilempari dengan botol aqua dan kulit kacang plus sorakan yang akan membuat tuh perempuan trauma seumur hidup. Saya geleng-geleng kepala melihatnya. Ada dua cewek yang lewat di menit ke 59 di tribun Hufflepuff, lumayan manis emang. Dan tak perlu menunggu lama bagi penonton di tribun untuk mengambil apa saja yang bisa dilemparnya ke si cewek yang lagi jalan di depan tribun penonton. Si Cewek langsung malu menutup muka sambil lari cepat-cepat menghindari lemparan penonton menuju tempat duduknya yang ternyata kelewatan saking kencangnya dia berlari. Merah padam mukanya. Sayangnya saya tidak sempat mengambil gambarnya, soalnya saya juga ikut melempar saat itu. Ahahahaha.

 


 

Dan satu lagi yang harus diperhatikan, ni atas saran dari cheese dan risky, kalau nonton bola di pekanbaru selalu lah membawa helm ke stadion. Jangan pernah ditinggalkan di motor.

Bukan takut ilang, cuma ni orang pekanbaru hobi melempar kayaknya. Ndak peduli kawan atau pun lawan semuanya dilempar. Apa saja yang nganggur dan tak berguna ada di sekelilingnya terus digunakan buat melempar. Mulai dari botol Aqua, Mizone, kulit kacang, bungkus plastik, koin 100 rupiah, tutup botol, batu kerikil, lemak di badan, pacar yang mau diputusin, kerjaan yang menyiksa di kantor, lempar semua. Tak peduli dia yang kena lemparannya tu bapak orang. Sadis, lebih sadis dari sadisnya afgan. Beginilah wajah persepakbolaan di negeri ini, beda ketika saya merumput dua musim di Premiership Inggris sana. Tak apalah, kita mah enjoy aja, selama gak kena benjut.

Dan Penonton pun mulai keluar dalam barisan yang tak teratur sama sekali, menuju kendaraan yang diparkir bertebaran di sekeliling stadion. Sementara saya dan Eka diingatkan kembali akan beban erat kami, musti siap-siap berjuang mencari tambal ban terdekat . Bang tukang parkir, makasih telah menjaga motorku. Jasamu tiada tara.
 

 


Stadion itu kembali hening ditinggalkan penciptanya. Hening. Hanya rumput yang masih basah saja yang menjadi saksi bahwa sekejap tadi masih bermain di atasnya 22 orang pecinta bola yang mempertaruhkan harga diri tim dan pribadi. Masih berbekas jejak gambir dari sepatu bola yang berlaga beberapa saat yang lalu. Awan kian bersahabat dengan malam, menggelapkan kota seolah bermusuhan dengan mentari dan mereka berhasil mengusirnya untuk dua belas jam ke depan, semoga. Esok, ntah siapa lagi yang akan berlaga dan meriuhkan suasana di stadion ini. Melepaskan keringat perjuangan sepakbola kita. Akan dirindukannya duapuluh dua pasang kaki dan satu kulit bundar itu. Di sini, di Our Field Of Dream.

(Ade Kurniawan, melaporkan).

No comments:

Post a Comment