Sunday, June 20, 2010

Pilihan untuk jalan hidup, terima apa adanya atau berhak kah memilih ? (Bag.1)

Seringkali hidup membawa kita ke jalan yang tidak sesuai dengan semestinya. Entah sejak kapan akhirnya kita semua akan terus berputar-putar dalam labirin yang terbentuk dari buah karya pemikiran yang terkendali atau kadang sering berjalan sendiri. Berbeda yang tertulis di kertas dengan yang terjadi di kenyataan sebenarnya. Lalu mau bagaimana ? selalu ada pilihan untuk semuanya bukan?
Saya berdiri di atas jalan yang tak mulus sama kali, alih-alih lurus dan rata ia adalah terjal dan berliku. Pun belum berakhir dengan itu semua, di sana di hadapan saya kabut menghampiri, menutup pandangan akan ketiadaan atau tepatnya ketakpastian. Di mana? Di ujung sana, arah jam duabelas saya. Takut untuk melangkah, karena fitrah manusia jualah yang berperan ketika menemui sesuatu yang tak pernah dikenalnya sama sekali, demikian naluri membawa diri.
Tuntutan hidup atau tepatnya bisa dikatakan hidup menuntut untuk terus bergerak, ntah ke depan, belakang, samping, kiri atau pun kanan. Pokoknya bergerak. Namun karena ke belakang telah pula dilewati dan yang ada hanyalah perih getir dan luka yang tak jua kunjung tersembuhkan, yang dengan megap-megap akhirnya bisa juga terlewati maka terpilih jalan ke depan yang berkabut tadi, tak jelas apa yang ada di sana.
Orang yang optimis dan kuat hati akan dengan mudah melangkah, ya, tipikal orang-orang yang memegang teguh cita-cita dan angan atau impian sedari awal. Atau bisa juga orang-orang yang memiliki impian lantas gagal meraihnya dabn menemukan impian baru dengan cepat secepat kepompong berubah jadi kupu-kuypu. Dengan kata lain orang yang punya impian lah garis besarnya. tapi bagi orang seperti saya yang cuma punya satu impian yang dianggap paling maha sehingga terlalu mengagungkan sampai-sampai tak pula bisa merasa bahwa impian itu telah pula hilang atau mati di tengah jalan maka urusannya jadi lain. Berjalan sih berjalan, ke depan sih ke depan, cuma resikonya besar, lubang yang dalam dan ntah apalagi istilah yang biasa digunakan pujangga buat menggantikan frasa kesulitan hidup.
Kemana kaki melangkah, ke sana lah haluan kan saya arahkan. Rejeki ada di tangan tuhan, tak kan sia-sia semua daya dan upaya yang kita lakukan jika bersungguh-sungguh. Berusaha semaksimal mungkin dan kemudian berdoa, berserah diri pada NYA, niscaya tercapai apa yang diinginkan karena yang demikian ini adalah sunatullah sejak dahulu kala.

No comments:

Post a Comment