Siang hari di penghujung ramadhan. Matahari bersinar dengan terik, terlalu semangat untuk menghangatkan bumi ini sedari pagi. Andaikan dia tahu sudah sehangat apa bumi ini dibuatnya sedari pertengahan tahun kemarin. Hujan yang turun sebentar di petang hari kemarin ini ternyata tak sanggup untuk meredam panas yang telah terakumulasi begitu lama, sampai kepada makhluk-makhluk yang bersemayam di permukaannya. Hmm, Saya pikir saya bisa ikut ketularan juga, pada semangat matahari, ternyata tidak. Seharian ini atau mungkin setengah harian ini terus berkutat dengan pikiran sendiri. Tentang semua hal, begitu banyak hal yang sampai-sampai saya tak tahu apakah harus dibuat daftar isi appendix terlebih dahulu agar pikiran ini lebih mudah membukanya nanti di suatu hari kalau ingin membukanya lagi.
Siang hari di penghujung ramadhan. Kota ini sudah mulai sepi dengan aktivitas manusiawi. Akan ditinggalkan oleh mereka tempat ini untuk sejenak, beranjak pergi menuju tempat yang mereka nanti di hati. Bertemu sanak famili, keluarga, orang yang dikasihi. Pulang.
Ternyata memang butuh momen khusus terlebih dahulu untuk bisa mengapresiasikan konsep semacam ini. Kalau tak ada hal khusus, maka takkan pula mau untuk pulang. Kalau tak ada lebaran artinya tak ada alasan untuk bertemu keluarga. Iya kah demikian ? Saya rasa tidak juga, namun berbagai kesibukan menuntut kita semua untuk mengurutkan perihal berbagai hal menurut prioritas yang terbaik, yang terpenting, terlebih dahulu. Sebagaimana halnya kebutuhan akan makanan lebih penting daripada kebutuhan akan pakaian, yah, pemikiran semacam inilah. Terkadang rasanya kasihan juga orang-orang atau perihal yang mendapatkan beban prioritas itu. Andai saja kita bisa membuat prioritas yang sama satu dengan yang lainnya mungkin tak masalah. tapi lihat kenyataannya, tak sama sama sekali. Banyak contohnya. Di tengah kesulitan ekonomi yang carut marut ini, para petinggi kita di DPR pusat sana masih bisa memprioritaskan untuk membuat bilik kerja yang mahal bagi mereka. Milyaran dana yang harus dikeluarkan, tak tanggung besarnya. Sejumlah uang yang kalau diprioritaskan untuk mereka-mereka yang mengais rejeki di jalanan sepanjang hari ini rasanya akan lebih bermanfaat lagi. tapi tidak begitu mungkin bagi mereka, alangkah lebih baiknya mungkin jika tempat kerja mereka nan megah laksana istana itu tercapai ketimbang jutaan orang tak kelaparan hari ini dan seterusnya.
Contoh lainnya banyak sekali kita dapatkan. Cukup dibayangkan sekejap saja ternyata kita telah banyak menciptakan sekat-sekat prioritas yang sebagian menguntungkan bagi kita, sebagian lagi memang merugikan bagi yang lain. Masalahnya kita tak bisa hidup sendiri tanpa bersinggungan dengan orang lain, jadi apa yang kita perbuat sedikit banyak kan berpengaruh juga dengan orang lain. Lalu harus bagaimana ?
Mungkin cuma keikhlasan dan ketulusan yang bisa menjadi jalan keluarnya. Terima saja apa yang diberikan kepada kita. Jika memang itu yang terbaik, tak masalah kan jika konsep ingin kita berbeda dengan yang mereka apresiasikan.
Siang hari di penghujung ramadhan ketika angin sedikit malu tuk berlari di teriknya mentari. Malu untuk mengetahui apakah memang itu yang terbaik. Kita tak kan pernah tahu yang terbaik bagi diri sendiri kecuali setelah semuanya telah terjadi dan masa lalu menjadi pembahasan yang tak begitu berarti lagi. Merasa malu untuk mengetahui yang telah terjadi ini adalah yang paling diingini oleh hati yang tersembunyi di balik hati. Ada pilihan. Memang selalu ada pilihan untuk semuanya, bahkan ketika merasa tak ada pilihan lagi. Mungkin karena terbiasa mengatasi ujian hidup essay sehingga ketika bertemu dengan sesuatu yang butuh jawaban multiple option kita semakin sulit untuk mengambil langkah. Ada benarnya juga, karena terkadang yang kita harapkan tak ada dalam sekian banyak pilihan jawaban itu. Dan sayangnya kita tak diberi kemampuan untuk menambah jawaban dalam option yang telah diberikan. Aaaah, saya rindu hidup damai. Saya rindu hidup ketika jawaban hanya ada satu.
Siang hari di penghujung ramadhan, ketika saya tak tahu harus mendapatkan jawaban dari mana, karena tak ada yang dapat ditanya.Hanya ketulusan dan keikhlasan lagi yang bisa dicoba. Yang terjadi esok dan seterusnya, terjadilah.
Siang hari di penghujung ramadhan, ketika awan berusa tuk teduhkan bumi tuk sekejap. Sekejap saja, sebentar lagi kan kalah juga oleh panas sang surya, tepat ketika tulisan ini berhenti di satu titik.
No comments:
Post a Comment