Monday, September 27, 2010

Teruntuk Bidadari

Kepada Bidadari,
Hari ketika diriku menemukanmu di pandalawangi adalah hari terindah dalam hidupku, pun juga awal dari malapetaka yang menghantuiku seumur hidup, setidaknya hingga saat ini. Kau kini terlelap di sisiku, malam ini. Ketika bulan yang mana adalah tempatmu berpulang di kahyangan bersinar begitu cerahnya malam ini hingga tak perlu ku menyalakan suluh tuk melihat dan memandangi teduh wajahmu. Kau begitu mempesona walau pun dalam lelapmu. Kau mungkin tak pernah tahu, bidadari, betapa tiap malam ku terjaga hingga larut hanya untuk menatapmu, memperhatikan setiap lekuk wajahmu. Halus rambutmu yang jatuh di sela-sela pipimu. Ku habiskan berjam-jam untuk mengabadikan itu semua dalam memori ingatanku yang tak seberapa.
Bidadari, kau mungkin telah melupakan semuanya. Awal semua ini bermula. Dalam setiap mimpimu ingatan itu sedikit demi sedikit terhapus. Aku yang sadar. Menyadarinya. Kau tahu, kini aku menyesal, sungguh menyesal telah mencuri selendangmu yang seharusnya membawamu terbang kembali ke kahyangan. Sayap Bidadarimu. Karena itu juga kini kau bergantung padaku. Ku pikir dulu aku dapat menaungimu dengan bahagia dan menggantikan kahyanganmu dengan istana di hatiku. Namun kini baru ku sadari bahwa itu hanyalah ingin yang terlalu absurd bagiku. 
Bidadariku yang kini tertidur lelap dalam mimpimu. Mungkin sudah tiba saatnya tuk ku kembalikan selendang ini. serpihan terakhir dirimu yang terlalu muluk untuk kumiliki. Dengan ini dirimu bisa bebas terbang kembali pulang. Dengan ini kau kan ingat kembali kehidupanmu, meskipun dengan ini kau pun pastinya akan lupa padaku. Tapi tampaknya itulah yang terbaik, bagiku, terlebih bagimu.
Bidadariku yang dengan senyummu telah kau taklukkan rembulan, malam ini terakhir kalinya ku tatap wajahmu. Jamuan makan malam yang kita habiskan sambil bercanda bersama buah hati kita beberapa saat yang lalu adalah jamuan perpisahan yang tak kau sadari kusiapkan untukmu. Sengaja hari ini ku pulang lekas dari biasanya dan menggantikanmu memasak di dapur. Kau tampak heran, namun senyummu tersungging ketika melihat perih mataku mengupas rempah. Tawamu pun pecah ketika ku salah memilih garam dengan gula. Kau cubit pinggangku sambil terus tertawa, menertawakan kebodohanku yang kesekian kalinya. Ku harap yang terakhir adanya.
Bidadariku yang tertidur pulas, malam ini hatiku hancur, pecah berkeping-keping, seakan menyadari akan kehilangan tonggak penopangnya. Tapi sepertinya aku akan kuat, ku akan baik-baik saja. Dan kuharap senyum yang terus kau pelihara selama ini kan terus kumiliki dalam kenangan hati ini. Ini saat ini adalah jarak dan waktu terdekat yang dapat kurengkuh. Mataku tak juga belum hendak lepas dari wajahmu. Halus hembusan nafasmu terdengar bagaikan irama di kamar ini. Tolong waktu, untuk kali ini berjalanlah sedikit lebih lambat.
Bidadariku tersayang, Linangan airmata yang kucoba tahan sedari petang tadi akhirnya tercurahkan juga malam ini, di sampingmu. Dalam sepi malam ku tangis menangis tanpa suara. Angin malam yang sedari tadi berhembus menggelayut  kini seolah senyap turut merasakan duka hatiku. Lelaki tangguh ini, malam ini telah kalah. Kalah oleh dirinya sendiri.
Selamat jalan, bidadari tersayang. Lekas ketika sinar mentari pagi  membangunkanmu kan kau temukan selendangmu kembali. Dengannya kau akan menyadari semua dan dengannya kau kan temukan bahagiamu. Maafkan aku yang telah menyesatkanmu selama ini, mengikatmu dengan kebahagiaanku yang nisbi. Selamat jalan bidadariku tersayang. Semoga hembusan angin malam kan mengingatkanmu padaku selalu.

No comments:

Post a Comment