Friday, January 29, 2010

Fatwa Pujangga

Minggu ini tlah begitu banyak jemputan yang datang ke rumah. Ada lima jemputan yang harus dipenuhi buat dihadiri pada hari minggu besok, datangnya dari karib kerabat handai taulan sanak saudara semuanya. Hm, bagi kamu yang tidak mengenal apa itu jemputan, jemputan adalah istilah bagi orang melayu buat undangan pernikahan. Jadi sanak saudara yang lainnya itu adalah tamu kehormatan di balairung raja sehari si empunya acara yang mesti pula dijemput.
Saya bingung sendiri bagaimana caranya memilah waktu untuk menghadiri semuanya pada satu hari itu. Kalau tak datang tak enak pula rasanya. Takut dibilang tak menghargai dan memutus silaturahmi pula nantinya.

Adapun undangan yang datang, diantara yang lima itu ada yang berupa jemputan yang mewah sangat tampaknya. Saya rasa untuk membuat satu undangan tu saja cukuplah buat beli nasi ramas untuk satu keluarga besar. Saking mewahnya undangan itu dibuat sampai-sampai harumnya pun bisa memenuhi satu ruangan rumah selama berhari-hari. Tak perlu pula menyemprotkan air freshener buat berhari-hari agaknya. Kejadian undangannya pun ya pasti lah di tempat yang mewah pula, di salah satu hotel mewah di kota ini. Alamak, macam mana pula nanti tu saya nak pergi ke sana. Orang-orang habis pakai mobil mewah semua, awak ni cuma yang pakai motor bebek agaknya. Ntah macam mana pula dengan “kado” nya. Wallohu a'lam.

Ada satu macam perasaan yang saya ni rasa tiap kali pergi ke acara pernikahan macam tu. Ada rasa haru bercampur rindu dengan satu gadis pujaan yang tak terjangkau di ujung sana. Apalagi pas musiknya uda sampai ke lagu fatwa pujangga yang ntah kenapa jadi lagu kebangsaan cik dan puan yang datang ke acara tu selain lagu semalam di malaysia dan sri mersing. Nah kita, yang nasibnya lagi luntang lantung ni cuma bisa tersedu sedan dalam hati bayangkannya. Tak kan pula sedap rasanya hidangan yang disediakan oleh tuan rumah tu kerananya. Makanannya bukannya sederhana, banyak macamnya semua hidangannya dari yang biasa hingga yang cuma sekali setahun bisa dilihat oleh orang-orang melayu ni biasanya ada tersedia. Cuma ya itulah, kalau hati ni dah merana, apa saja tak enak rasanya. Apalagi waktu bersalaman dengan raja dan ratu seharinya, pilu rasanya. Masih juga terbayang andaikan awak ni bisa bersanding dengannya, ntah macam mana lah rasa di hati ni jadinya. Cuma bisa berdoa ke Yang Di Atas Sana, harap kali bisa dipertemukan lagi dengannya. Nah, penyakit macam ni lah yang sedang hinggap belakangan ni kalau lihat janur kuning.


T'lah kuterima suratmu nan lalu
Penuh sanjungan kata merayu
Syair dan pantun tersusun indah, sayang
Bagaikan madah fatwa pujangga

Kan kusimpan suratmu nan itu
Bak pusaka yang amat bermutu
Walau kita tak lagi bersua, sayang
Cukup sudah cintamu setia

Tapi sayang sayang sayang
Seribu kali sayang
Ke manakah risalahku
Nak kualamatkan

Terimalah jawabanku ini
Hanyalah doa restu Ilahi
Moga lah Dik kau tak putus asa, sayang
Pasti kelak kita kan bersua

No comments:

Post a Comment