
Dari mikrofon di setiap ruangan di bandara ini sedari tadi dikabarkan pemberitahuan mengenai jadwal keberangkatan. Mulai dari pesawat yang baru saja mendarat, pesawat yang akan lepas landas, hingga nama-nama orang yang belum juga naik ke pesawatnya. Yah, kebiasaan seperti ini sudah terlalu akrab bagi saya belakangan ini. Bukan karena saya adalah petugas bandara, bukan, pun bukan karena saya seorang pilot atau pramugara, melainkan hanya seorang pengguna jasa sama seperti orang-orang lainnya yang sedari tadi menunggu jadwalnya di ruangan ini.
Jujur saya katakan bahwa menunggu adalah pekerjaan yang membosankan namun saya rasa tidak akan ada pagi hari kalau kau tak sabar menunggu berlalunya malam. Jadi saya nikmati saja semua yang ada ini. Sedari tadi televisi yang di pasang di tengah ruang tunggu ini menyiarkan sebuah film dokumenter semacam national geographic yang ntah kenapa ternyata tidak berhasil mengambil perhatian orang-orang yang menunggu. Sesekali disiarkan juga iklan-iklan tentang daerah wisata yang ada di daerah-daerah. Hm, Cuma saya yang agaknya memperhatikan.
Saya sudah berada dalam ruangan ini sejak satu jam yang lalu. Sekedar kau tahu saja, demi mendapatkan tiket yang murah maka saya terpaksa memilih keberangkatan yang waktu transitnya terlalu lama. Setidaknya lima jam lagi saya harus bersedekap di sini. Jadi sayalah penghuni pertama ruangan ini untuk hari ini.

Beberapa orang tiba-tiba masuk melalui pintu ruang tunggu memecah sejenak lamunan saya yang sedari tadi ikut terbang bersama Garuda di ujung landasan pacu sana. Sepasang suami istri dengan anaknya yang digendong oleh suaminya melangkah di barisan depan, diikuti oleh seorang pria tua separuh baya yang jika saya perhatikan penampilannya seperti pegawai kantoran. Di belakangnya menyusul pria muda berperawakan seperti eksekutif muda dengan menjinjing tas laptop di tangan kanannya. Mereka lalu saya lihat melapor sejenak ke petugas di lobi ruang tunggu lalu memilih bangku untuk mengistirahatkan diri sejenak menunggu penerbangannya.
Kulihat pasangan suami istri itu langsung menuju tangga bawah ruang tunggu untuk menuju ke kamar kecil dan musola, sedangkan sang eksekutif muda langsung sibuk dengan laptopnya. Namun pria tua tadi ternyata tidak langsung mengambil tempat duduk di ruang tunggu ini. Sejenak ia melihat dari pintu kaca mengarah ke landasan pacu melihat beberapa pesawat yang sedang parkir, lalu berjalan kembali ke arah pintu keluar, berdiri termenung sesaat, lalu masuk kembali dan sedikit ragu untuk menyandarkan tubuh tuanya di bangku yang berada dua barisan di depanku. Sesekali ia melirik kiri kanan seakan-akan ada mata yang mengawasinya. Dia membawa sebuah tas koper merk pollo kecil yang sedari tadi tak pernah lepas dari genggamannya. Di genggamannya yang satu lagi erat betul dipegangnya sebuah amplop berwarna putih yang sudah begitu lusuh, kalau saya tak salah mengira berisi tiket penerbangannya.

Pasangan suami istri tadi masih belum kembali ke ruang tunggu dan sang eksekutif muda masih asyik dengan laptopnya ketika pria tua itu menoleh ke arahku yang tepat dua baris di belakangnya. Spontan saya pun menatapnya dan sedikit tersenyum sekedar berbasa-basi. Lama saya perhatikan ia melihatku seakan-akan ada hal yang ingin ia tanyakan sebelum akhirnya kudekati ia sekedar mencari teman ngobrol secara pesawatku pun masih terlalu lama datangnya.
“Permisi, Pak. Ada yang bisa saya bantu ? saya lihat sedari tadi bapak kelihatan gelisah. “. Kuajukan pertanyaan kepada pria tua itu yang entah mengapa mengingatkanku kepada sosok ayahku sendiri.
Dan tak perlu waktu terlalu lama buat saya untuk akhirnya membuat pria tua itu bercerita dan mengeluarkan uneg-unegnya. Hmm, memang benar kata salah seorang sahabat saya di jogja sana, Eka namanya, bahwa untuk didengarkan adalah psikologis dasar dari setiap manusia. Cerita punya cerita akhirnya tahulah saya mengapa sikapnya begitu gelisah sedari tadi. Bercerita ia tentang dirinya yang ternyata adalah seorang pengusaha yang cukup sukses di suatu kota besar, berceritalah ia tentang keluarganya yang terdiri dari seorang istri, dua orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki, berceritalah ia bagaimana ia bisa mencapai tangga kesuksesan dalam karirnya, berceritalah ia bagaimana ia mendapatkan cinta istrinya ketika muda dulu, berceritalah ia tentang bagaimana bahagianya ia ketika pertama kali mendengar tangisan malaikat mungilnya yang lahir dari rahim istrinya, berceritalah ia bagaimana ia begitu harunya membesarkan anak-anaknya hingga dewasa, berceritalah ia bagaimana kehidupannya sudah serasa sempurna dengan segala yang ada, berceritalah ia tentang semua yang ia anggap perlu dan harus ia ceritakan kepada dunia seakan-akan selama ini ia terasing seorang diri di sebuah pulau terpencil tanpa pernah berbicara dengan satu orang pun. Dan ceritanya sampai kepada bagian dimana ia kehilangan semua yang dimilikinya, perusahaannya, keluarga harmonisnya, ketika serombongan orang lagi memasuki ruang tunggu ini dan pasangan suami istri tadi masih belum juga kembali dari lantai bawah sedangkan sang eksekutif muda masih sibuk dengan laptopnya.

Saya hanya bisa mendengar ceritanya dan sesekali mengangguk-anggukkan atau menggeleng-gelengkan kepala ketika tiba pada bagian yang begitu haru. Dan ketika pria tua ini selesai bercerita sedikit tampak dari raut wajahnya kelegaan seakan-akan baru saja diangkat dari pundaknya beban yang teramat sangat berat. Sementara saya yang mendengarkan menjadi termenung sendiri secara beberapa saat yang lalu saya masih larut dengan permasalahan pribadi saya yang saya pikir adalah permasalahan paling berat di dunia ini yang tak kan mungkin ada lagi masalah yang lebih berat dari punya saya. Well, you know, I’m absolutely wrong.
Si Bapak kemudian menghela nafas panjang dengan pandangannya jauh dilemparkan ke depan sana mengikuti satu lagi Batavia Air yang melenggang ke udara. Dia kemudian berujar bahwa mungkin ini adalah kali terakhirnya melihat kota ini dan akan memulai kembali dari awal di suatu daerah tujuannya sana, semuanya. Saya tidak perlu menunggu pasangan suami istri beserta anaknya yang belum juga naik ke lantai atas atau sang eksekutif muda menutup laptopnya untuk menyadari bahwa saat ini saya begitu malu dengan pemikiran saya selama ini. Bagaimana bisa sang Bapak yang sudah mau udzur yang didera cobaan dengan kehilangan semua yang berarti dalam hidupnya masih bisa berkata untuk memulai hidupnya kembali dengan membuka lembaran baru. Ini menjadi sesuatu yang tidak masuk akal bagi saya. Saya tersandung batu saja sudah menangis meraung-raung dan meronta sejadi-jadinya sedangkan pria tua ini terjatuh dari lantai tujuh masih tetap bertahan hidup dan tegar walaupun kakinya patah, kepalanya pecah, dan darah bersimbah.

Saya kembali teringat pada sebuah buku berjudul setengah isi setengah kosong yang dulu pernah dianjurkan baca oleh novi bahwa memang ternyata untuk sadar dari kesalahannya manusia itu perlu diperingatkan dengan keras. Di sini dalam buku tersebut diceritakan bahwa seorang pria itu harus dilempar kepalanya dengan kerikil agar ia tidak keterusan menginjak kabel listrik bertegangan tinggi ( saya agak lupa detailnya, intinya seperti itulah,red.). Hmm, untuk saya sepertinya harus dilempar dengan tembok beton dulu baru bisa sadar. Hahaha. Oke, itu benar, saya bisa terima.
Lamunan saya kemudian terhenti ketika pasangan suami istri beserta anaknya muncul ke ruang tunggu dan sang eksekutif muda menutup laptopnya, begitu juga dengan beberapa orang rombongan yang tadi masuk karena tampaknya pesawat mereka sebentar lagi akan diberangkatkan. Si bapak yang sedari tadi duduk di samping saya kemudian menyalami saya dan berujar terima kasih karena telah mendengarkan ceritanya. Saya doakan kemudian ia semoga selamat di perjalanan dan sukses di tempat tujuan.
Berangsur-angsur mereka keluar menuju pesawatnya dalam barisan yang teratur, dan ketika orang terakhir melewati pintu keluar saya sadari bahwa saya sendirian lagi di ruangan ini. Petugas yang tadi menjaga lobby tersenyum simpul kepada saya ketika keluar ruang tunggu bersama salah seorang petugas lainnya setelah sebelumnya mengumumkan bahwa pesawat saya tertunda tiba di bandara ini kurang lebih dua jam lagi.

Namun bukan itu yang menjadi pikiran saya saat itu. Saya kembali berpikir, dari cerita sang bapak tadi plus pengalaman saya selama ini, benarkah sudah tujuan hidup yang telah saya jalani selama ini. Apa benar jalan hidup yang sudah saya mantapkan ini. Saya sedikit ragu jikalau ternyata pesawat yang saya tunggu tidak juga datang. Bagaimana jika ternyata saya seharusnya berada di stasiun atau terminal karena yang akan menjemput saya bukan pesawat melainkan kereta api atau bus. Bagaimana jika serendipity yang saya percayai selama ini hanyalah fatamorgana dari keinginan yang tak punya wujud. Bagaimana saya bisa tahu bahwa semua ini akan berujung dengan happily ever after seperti penutup cerita-cerita barbie yang disukai novi, bagaimana jika bagian saya hanyalah just to pursue tanpa ada sedikitpun happiness di ujungnya seperti filmnya will smith, bagaimana saya bisa tahu Tuhan, bahwa saya masih kuat menghadapi semuanya secara jiwa dan raga ini sudah berontak untuk menyerah. Akankah saya akan terus menunggu di ruang tunggu ini dan melihat orang-orang terus berseliweran datang dan pergi sementara hanya kegagalan yang tampaknya jatuh cinta dengan saya akhir-akhir ini.

Belasan tahun silam ketika saya masih akrab dengan layangan, tongkak dingin, dan kelereng, saya sering melihat burung besi di udara yang dari ekornya mengeluarkan asap panjang yang membelah langit . Seringkali saya dan teman-teman sebaya berlari-lari dan berteriak seolah-olah orang yang berada di atas burung besi itu melihat ke bawah. Sekarang baru saya sadari, sudah lama saya tidak melihat asap panjang yang membelah langit itu....
No comments:
Post a Comment