Friday, January 1, 2010

Somewhere Over The Rainbow

Jika saya berhasil membuat tulisan ini, kawan, berarti akhirnya saya bisa bertahan hidup hingga tahun 2010. Perihal apa yang akan terjadi dalam 364 hari ke depan masih merupakan suatu misteri yang tersimpan rahasianya di Arsy sana. Saya yakin sangat bahwa di depan sana pasti akan ada lagi hal-hal yang tidak akan pernah kamu bayangkan akan terjadi. Jika kamu pikir kawan bahwa ini adalah kali terakhir kamu menangis atau bahagia maka kuharap kamu cepat-cepat sadarkan diri bahwa anggapanmu itu pastinya salah. Begitu pula saya ingatkan kepada diri saya sendiri. Bisa saja dan tidak mustahil bahwa saya akan menulis di sini lagi entah tertanggal berapa di tahun ini tentang suka duka yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Maka untuk hal itu semua kawan kita harus mempersiapkan diri dan selalu memikirkan setiap langkah yang akan kita ambil dengan matang.


Kuajak kamu berbicara tentang harapan kawan. Tentunya kamu semua sudah akrab dengan satu kata ini dan turunan katanya seperti impian, angan-angan, dan cita-cita. Sedari kecil kita sudah dicekoki oleh orang-orang dewasa tentang hal yang satu ini. Ditunjukkannya kita semua tentang kemegahan dunia dan bagaimana cara agar bisa menuju ke sana, dikenalkannya kita dengan orang-orang hebat sehingga silau mata ini untuk berkehendak menjadi demikian pula. Banyak bukan, hal-hal indah yang membutakan matamu sedari kecil. Sedari kecil, kawan, masa-masa dimana kamu dengan bebas bisa berkehendak menjadi apa saja tanpa harus berpikir mengenai konsekuensi dari semua itu. Masa-masa dimana kamu mempunyai cita-cita yang begitu tinggi, apa pun yang kamu inginkan menjadi bisa kamu utarakan, kamu teriakkan dengan gamblang. Bahkan tidak sering kamu memiliki empat cita-cita dalam setahun berhubung cita-citamu selalu berubah-ubah setiap awal caturwulan ketika kamu tuliskan dalam karanganmu di pelajaran bahasa indonesia ketika duduk di sekolah dasar. Kamu bisa melakukan itu semua tanpa beban dan orang-orang dewasa di sekelilingmu tidak pernah menuntut realisasi dari itu semua bukan ?
Saya sendiri saat ini masih ingat dengan cita-cita yang saya miliki ketika kecil. Pernah di suatu saat ketika Taman Kanak-Kanak saya bercita-cita ingin menjadi Satria Baja Hitam. Saya paksa orangtua saya untuk belikan baju satria baja hitam plus dengan sepeda BMX kecil yang selalu saya mainkan di sekeliling pekarangan dan berteriak-teriak ndak tentu arah. Begitu bangganya saya dengan cita-cita saya ini sampai-sampai saya pernah menjadi jagoan diantara anak sepantaran saya.Ya, saya yang paling kuat berkelahi diantara yang lainnya. Ada-ada saja yang saya lakukan seolah-olah saya adalah jagoan tanpa memikirkan apa tindakan yang saya lakukan itu benar atau tidak. Saking overaktifnya saya, bahkan saya pernah harus diikat seharian oleh Ayah saya di dalam kamar dan tak dibiarkan keluar untuk bermain. Pun juga saya pernah diseret di jalanan sekitar rumah karena ketahuan mencuri rambutan di kebun orang. Hanya karena obsesi menjadi Satria Baja Hitam.


Beranjak sedikit dewasa, ketika saya tidak takut lagi ke toilet malam-malam. Cita-cita itu pun berubah. Saya masih ingat kawan, bahwa ketika itu, ketika saya berumur sepantaran anak SD, saya memiliki cita-cita menjadi Jendral. Tak tahulah saya setan apa yang menghinggapi anak bau kencur satu ini sampai bercita-cita begitu sadisnya. Yang saya ingat cuma betapa gagahnya seorang jendral dengan pakaiannya yang penuh dengan bintang kehormatan dan pangkat, punya tank baja dan senjata lengkap. Pikiran anak kecil saya larut dengan itu semua. Aplikasinya? Hmm, jangan salah, saya punya banyak pistol-pistolan dahulu. Mulai dari pistol air berbagai bentuk (ada bentuk ikan, gajah, pesawat, bahkan satria baja hitam, red.) hingga pistol berisi mesiu yang kalau dihidupkan mengeluarkan bunyi nyaring. Ada lagi koleksi granat yang terbuat dari busi bekas yang ujungnya diisi belerang korek api dan diapit dengan baut, ekornya dikasih jumbai-jumbai dari tali rafia. Kalau dilemparkan cukup membuat orang-orang di enam petak rumah besoknya mengeluh ke Ibu saya, dan besoknya saya kembali diikat dalam kamar oleh Ayah. Kalau marah ternyata ayah saya jauh lebih menakutkan dibandingkan film Friday the 13th. Ahahahaha. Dan jangan salah, anak-anak seumuran kami saat itu sudah mengenal bazooka dan bom jauh sebelum Nurdin M Top terkenal. Kami buat dari kaleng yang disusun yang disambung-sambungkan dan pemicunya terbuat dari minyak tanah. Dan saya belum tahu sama sekali benar tidaknya aplikasi dari cita-cita itu.


Beranjak sedikit dewasa lagi, ketika SMP, cita-cita itu pun berubah dengan sekonyong-konyongnya. Saya ingin menjadi pengusaha yang sukses, hal ini dilatarbelakangi dari kondisi finansial keluarga yang cukup mengenaskan saat itu. Pikirannya ingin bekerja saja, membantu orang tua. Saya rasa saya benar-benar orang yang paling rajin se dunia saat itu. Berangkat ke sekolah jam lima subuh (kelas dimulai pukul 7.15 dan saya di Pekanbaru bukan Jakarta, red.) , membersihkan kelas walaupun bukan giliran piket, uang jajan ditabung buat beli buku, pulang sekolah langsung ke rumah, mengerjakan tugas dari sekolah, dan kerja sambilan di rumah saudagar cabe buat di jual ke pasar. Saat-saat ini memang tidak ada waktu untuk bermain bagi saya, dikala teman-teman lainnya mengenal play station, komputer, tamiya, dan permainan lainnya. Hiburan saya saat itu hanyalah film kartun yang ditayangkan RCTI di hari minggu. Itu saja.


Masuk ke jenjang SMU. Cita-cita itu mulai sedikit menampakkan wujudnya. Besar keinginan saya saat itu untuk bisa menjadi dokter. Saya lihat kalau punya pekerjaan sebagai dokter tampaknya bisa menjadi orang yang kaya, punya penghidupan yang terjamin. Saya rangkul impian saya ini erat-erat. Lumayan dapat peringkat di kelas dengan nilai-nilai yang memuaskan. Saya sangat percaya dengan impian ini ketika saya disadarkan oleh takdir. Saya berasal dari keluarga yang tak mampu. Untuk menjadi dokter dengan memasuki fakultas kedokteran biayanya nauzubillah besar sekali jumlahnya. Di UGM saja saat itu untuk pertama masuk minimal biayanya kalau saya tak salah sejumlah lima puluh juta rupiah, jumlah uang yang sama sekali tidak pernah terpegang oleh ayah saya yang hanya seorang guru biasa. Saya katakan di sini terpegang kawan, alih-alih memiliki. Di Universitas lain pun tak jauh beda lah biaya yang harus dikeluarkan. Akhirnya impian, cita-cita itu kandas begitu saja, tak jadi saya tulis pilihan pertama saya jurusan kedokteran, melainkan teknik kimia. Bersyukur saya bisa kuliah juga di UGM di jurusan teknik kimia ini karena mendapat beasiswa dari pemerintah provinsi RIAU.
Dari uraian yang telah saya sebutkan tadi kawan, ada beberapa hal yang benar-benar saya sadari. Pertama, jarang sekali impian yag kita miliki saat kecil itu bisa teraih hingga benar-benar terwujud. Semua itu akan sirna menjadi angan-angan belaka ketika kamu dewasa, lebih-lebih jika kamu berasal dari keluarga tak mampu. Untuk orang-orang dari kalangan seperti saya, yang berhasil meraih impiannya hanya sekelumit saja, satu di antara sejuta. Yang lainnya akhirnya kalah oleh seleksi alam dan menyesuaikan diri dengan takdir yang diberikan. Akhirnya semuanya memang harus tergantung dari materi juga, tak peduli seberapa jenius pun dirimu. Saya katakan seperti ini bukan karena pesimis kawan, Cuma berusaha berpikir realistis. Memang sebenarnya bisa kamu berusaha dan meraihnya, hanya saja terlalu banyak yang kamu korbankan untuk mencapainya. Untuk saya, saya rasa saya tak tega harus melihat orangtua saya mengemis untuk menyekolahkan saya di jurusan yang saya inginkan. Tak usahlah berharap dari beasiswa segala. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai.


Hal kedua yang saya simpulkan akhirnya adalah memang ada hal-hal di duna ini yang betapa pun kamu berkeinginan akannya, tetap tidak akan pernah kamu dapatkan. Untuk hal-hal yang seperti ini sebaiknya kamu semua cepat sadar dan tak perlu yang namanya kerja keras dan banting tulang. Untuk hal-hal tertentu seperti ini kamu harus sadar diri. Saya sadari memang ada yang seperti ini kawan. Hanya saja karena kita sudah sedari awal dibutakan oleh nasehat orang dewasa bahwa semuanya bisa tercapai jika bekerja keras dan tak kenal menyerah maka akhirnya kita buta akan semua, tidak menyadari batas diri sendiri. Mungkin hal ini berguna juga buat dirimu, mengajarkanmu tentang yang namanya kegagalan dan mengetahui batas kemampuan diri. Tak perlulah saya ambilkan contoh buat memperjelas semuanya bukan?? Saya rasa kamu bisa memahaminya.


Dan yang terakhir yang dapat saya simpulkan, bahwa tuhan punya rencana bagi setiap hambaNYA. Jika diberikanNYA kamu musibah, itu semua agar kamu belajar dari musibah itu. Bisa jadi peringatan agar kamu tidak terjerumus atau bahkan hukuman agar kamu jera dan sadar bahwa jalan yang kamu lalui selama ini salah. Selalu berpikir positif atas semua yang terjadi pada dirimu kawan, itu intinya. Terkadang kita terlalu larut dengan kesedihan akibat kegagalan sampai-sampai tidak sadar adanya kesempatan terbaik yang datang pada kita. When God shut the dor, He Open the window. Percayalah kawan, memang benar demikian adanya. Sayang jika kamu menyerah sekarang jika keberhasilan itu ternyata esok datangnya. Bagi setiap manusia teman, meraih impian itu bagaikan mengutip pecahan bola kaca yang berserakan di lantai. Ada yang mendapatkan pecahan yang besar, besar pula bagian kebahagiaannya. Ada yang mendapatkan pecahan yang kecil, kecil pula bagian kebahagiaannya. Dan tak jarang kita terluka dalam meraihnya. Benar, bukan ?



Somewhere, over the rainbow way up high
There's a land that I dreamed of once in a lullaby
Somewhere, over the rainbow skies are blue
And the dreams that you dare to dream really do come true



Some day I'll wish upon a star and wake up where the clouds are far behind me
Where laughter falls like lemon drops away above the chimney tops
That's where you'll find me



Somewhere, over the rainbow Skies are blue
And the dreams that you dare to dream Really do come true
If happy little bluebirds fly Beyond the rainbow
Why, oh, why can't I?



When all the world is a hopeless jumble
And the raindrops tumble all around
Heaven opens a magic lane
When all the clouds darken up the skyway
There's a rainbow highway to be found
Leading from your windowpane
To a place behind the sun
Just a step beyond the rain

No comments:

Post a Comment