Pernahkan, suatu kali kamu bercerita keluh kesah masalahmu terhadap orangtuamu lalu berkata dia, “Hmm, Bapak jadi ingat, Bapakmu ini dulu juga pernah mengalami hal yang serupa denganmu sekarang ini!”. Ini salah satu contoh pembuktian saja bahwa ternyata semuanya bukan hal yang baru lagi yang bisa membuat orang terkaget-kaget ketika menemuinya. Semuanya adalah old fashion, teman. Apapun itu bentuk permasalahanmu, baik suka maupun duka, pastinya orang-orang yang punya kredit hidup sebelum kita sudah pernah mengalaminya.
Saya tulis seperti ini agar menjadi pedoman bagimu bahwa kamu terutama saya bisa belajar dari pengalaman orang-orang tua bagaimana caranya menyelesaikan setiap permasalahan yang kita dapatkan saat ini. Memang banyak jalan menuju Roma, namun yang pergi menuju Roma juga tidak sedikit orangnya, sehingga semua jalan sudah pernah dilalui oleh orang-orang itu sebenarnya. Cuma kita tidak tahu saja siapa yang menempuh jalan A dan siapa yang menempuh jalan B, C, dan seterusnya. Pola ini kawan, ini yang harus bisa kita baca dan kita sadari, setidaknya kita bukan satu-satunya orang yang pernah bahagia karena hingga duapuluh empat tahun ini hidup lancar-lancar saja. Kita bukanlah sang penemu bagi kedukaan yang beruntun menghantam dalam hidup hingga usia saat ini. Yang ada saat ini kan seperti itu kawan, bahwa kebanyakan orang terlalu larut dengan apa yang dialaminya. Terlalu mendalami perannya, tak sadar bahwa satu film telah usai. Kamu tak bisa memakai peranmu kemarin untuk drama yang akan kamu perankan selanjutnya. Gak matching jadinya. Pasti gagal produksi dramanya.
Akan tiba saatnya, nanti suatu saat, empat puluh atau lima puluh tahun dari sekarang jika Tuhan kasih saya umur yang panjang, di suatu sore yang cerah saya duduk di sebuah kursi tua di teras rumah ditemani secangkir kopi. Lamunan saya akan beralih ke masa-masa saat saya muda dulu, saat-saat seperti sekarang ini pastinya. Sejenak akan terpikirkan penyesalan akan setiap hal yang telah saya lewati dengan sia-sia, atas setiap kesempatan yang tak saya ambil sama sekali, atas impian akan banyak hal yang kalah oleh sikap pasrah dan menyerah. Di sore itu akan banyak saya gunakan kata andaikan untuk mengungkapkan semua penyesalan itu. Hm, andaikan dulu saya berjuang lebih keras, andaikan dulu saya tidak sia-siakan kesempatan kerja di daerah terpencil itu, andaikan dulu saya tidak buru-buru menikah karena paksaan orangtua dan memilih untuk mengubur your trully feeling, andaikan dulu saya terima kesempatan beasiswa ke luar negeri, andaikan dulu saya teguhkan pendirian untuk tetap memperjuangkan apa yang ada di hati ini. Pastinya pikiran-pikiran seperti ini akan keluar dari lamunan saya di suatu sore ketika hari tua saya tiba nanti jauh di suatu masa dari sekarang, karena pola seperti ini sudah banyak terjadi.
Saya tahu bahwa kehidupan saya saat itu pun tidak buruk pula pastinya. Ada anak istri yang menyayangi serta dikelilingi cucu, ada rumah tempat mengistirahatkan tubuh tua ini. Namun pastinya saya akan merasakan ada yang kurang dari semua ini. Wujud dari kepasrahan itu akan terlihat dari keseharian yang akan saya lalui. Cuma karena dulu tak sempat mengembangkan bakat bermusik di waktu muda, ujung-ujungnya jadi pengoleksi gitar dari segala merk. Hanya karena dulu tak sempat mencoba bermain di liga premier inggris, di masa yang akan datang jadi sering ke inggris untuk nonton langsung sepakbola. Dan karena tak bisa memperjuangkan cinta perempuan pujaan hati, akhirnya memberikan nama anak pertama dengan nama yang sama dengan sang pujaan hati dulu di kala muda.Ini semua pastinya akan terjadi setidaknya bagi saya pribadi.
Saya bisa bayangkan betapa bahagianya saya jika bisa saya peroleh dan raih apa yang benar-benar di rasa di hati. Pada saat tua itu nanti saya akan benar-benar berharap akan adanya time machine untuk membawa saya ke puluhan tahun silam ketika semuanya masih dapat saya perjuangkan, setidaknya mengirimkan nasihat buat diri saya muda untuk memperjuangkan semua harapan dan impian itu. Untuk tidak menyerah dalam kepasrahan. Saya akan senang sekali untuk bisa menyemangati diri saya muda agar selalu bangkit setiap kali terjatuh, umtuk tidak pernah bosan dengan kegagalan, untuk menggenggam erat impian dan harapan itu walau panasnya bak bara api dalam genggaman .
Pemikiran seperti ini bermula dari pola yang tadi saya ceritakan itu kawan. Saya telah banyak mendengar dan menyaksikan sendiri orang-orang tua yang saya kenal bercerita tentang masa mudanya. Dan kebanyakan dari mereka selalu saja menyerah dalam kepasrahan untuk hal-hal tertentu, dan sayangnya hal-hal tertentu itu merupakan hal-hal yang crusial pula sebenarnya. Saya tak suka ekspresi mereka saat bercerita tentang kepasrahan. Wajah tuanya mengkerut lebih banyak dari keadaan normalnya. Matanya sayu, sesayu ketika ia mendengar rekan seangkatannya telah banyak menamatkan kehidupannya di dunia ini, bahkan lebih sayu lagi. Orang-orang yang menyerah di kaki takdir.”Yah, mau bagaimana lagi, Sudah takdir “. Saya benci sekali sebenarnya dengan ungkapan seperti ini. Bukankah semuanya bisa diwujudkan dengan perjuangan? Bukankah Adam harus mengelilingi dunia ratusan tahun terlebih dahulu untuk menemukan Hawa? Bukankah Alexander The Great harus bersabar cukup lama untuk menguasai hampir sebagian belahan dunia? Bahkan Muhammad pun harus bersabar dalam luka untuk memenangkan hati penduduk mekkah menuju islam selama tiga belas tahun. Kamu tidak bisa kan meninggalkan begitu saja pekerjaan yang sudah kamu mulai ? Atau memang harus saya berkumpul juga dalam kelompok orang-orang pasrah itu?
Tidak. Tidak, kawan. Saya tidak mau mengalami hal serupa itu pula. Mungkin terkabul doa saya di limapuluh tahun yang akan datang. Walau tanpa mesin waktu, akhirnya tersampaikan juga pemikiran ini. Saya tak mau jadi orang yang selalu menyerah dan pasrah begitu saja terhadap semuanya. Besar ingin saya untuk memperjuangkannya selalu, semua yang berarti bagi saya. Bara itu memang panas, melepuhkan kulit secepat ia menghanguskan kertas, namun tetap akan saya genggam erat-erat, takkan saya lepaskan atau renggangkan tangan ini barang sejenak pun. Bara itu adalah harapan dan impian. Tanpa itu semua saya hidup namun sekaligus mati dalam waktu bersamaan.
Dan ketika detik jarum jam telah berputar satu milyar limaratus tujuhpuluh enam juta delapan ratus ribu kali dari saat ini, di suatu sore yang cerah ketika saya duduk termenung di teras rumah ditemani secangkir kopi, lamunan saya akan terbang bersama harapan dan impian yang telah berhasil saya raih selama saya hidup di dunia ini. Dan saya akan berangkat dengan kerelaan dan wajah puas jika Tuhan panggil saya saat itu juga.
The falling leaves drift by the window
The autumn leaves of red and gold
I see your lips, the summer kisses
The sun-burned hands I used to hold
Since you went away the days grow long
And soon I'll hear old winter's song
But I miss you most of all my darling
When autumn leaves start to fall
P.S. Untuk beberapa hal, kini saya hanya bisa berjuang dalam doa. Hingga suatu saat
terkabulkan kiranya doa ini oleh NYA.
No comments:
Post a Comment