Thursday, January 7, 2010

Only Hope


There’s a song that’s inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold
But you sing to me over and over and over again

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
to be only yours I pray
to be only yours I know now you’re my only hope

Sing to me the song of the stars
of your galaxy dancing and laughing and laughing again
When it feels like my dreams are so far
Sing to me of the plans that you have for me over again

So I lay may head back down
And I lift my hands and pray
to be only yours I pray
to be only yours I know now you’re my only hope

I’ll give you my emphaty
I’m giving you all of me
I want your symphony
Singing all that I am
At the top of my lungs
I’m giving it back

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
to be only yours I pray
to be only yours I pray
to be only yours i pray
I know now you’re my only hope



.............................................................................................................................................


Teman, kalau pada saat ini kutanyakan kepadamu, hingga saat ini kamu hidup, kapan kiranya saat-saat emasmu? Saat kamu di sekolah dasarkah ketika kamu masih penuh kebebasan dan bisa bermain tanpa ada beban? Atau saat kamu berada di bangku SMU, saat adrenalinmu baru benar-benar munculkah? Hmm, tentunya berbeda-beda jawaban kalian semua. Saya? Hmm, saya sendiri jika ditanyakan seperti itu pastinya akan saya jawab pada masa-masa kuliyah dulu. Entah sejak kapan saya jadi lupa bagaimana sulitnya hidup itu. Saya kira semuanya akan berjalan sesuai dengan yang saya mau. Pemikiran ini mulai bersarang di kepala semenjak pertama kali saya menginjakkan kaki di jogja agaknya. Bagaimana tidak, di sini pertama kalinya saya bisa hidup bebas terlepas dari orangtua. Bayangkan saja ibarat anak macan yang pertama kali dilepas ke dunia luar. Pertamanya tentunya ketakutan dengan sendiri, namun lama-lama setelah terbiasa maka seluruh hutan akan menyesal dengan kelahiran sang macan. Rusa akan bersembunyi sejauh mungkin di belantara, burung-burung akan menjerit begitu ia menapakkan kaki, tupai-tupai akan meloncat ketakutan di atas rindang pohon untuk menghindar. Begitulah jika macan sudah menunjukkan taringnya. Ups, nanti dulu, pastinya saya bukan seperti sang macan lah.
Entah sejak kapan saya jadi lupa bagaimana sulitnya hidup itu. Mungkin karena pergaulan juga saya menjadi seperti ini. Melupakan hakikat sebenarnya dari hidup itu. Berlaku tidak profesional sama sekali dengan diri sendiri. Andaikan bisa dipertemukan diri saya saat ini dengan saya pada waktu sepuluh tahun silam, pastinya saya yang berada pada sepuluh tahun silam akan geleng-geleng kepala. Perbedaannya sudah jauh sekali, bung. Kayaknya saya sudah berubah sejauh ‘arcus cosinusnya -0,9659 pada kuadran ke dua’ agaknya. Selain fisik yang sedikit berotot dan sixpack (ahahahay..) dan wajah ditumbuhi kumis serta janggut yang menjadikan saya sedikit macho (ahahahahay lagi..) tentunya banyak sekali perbedaan karakter dan cara pandang saya dengan saya di waktu sepuluh tahun silam. Hm, sedikit deskrispsi saja bagimu mengenai saya dahulu, kamu tahu film kartun doraemon? Di sana ada tokoh yang bernama nobita yang selalu dijahilin teman-temannya?Hmm, Setidaknya sedikit banyak saya ada kemiripan dengan dekisuki. Ahahaha.
Entah sejak kapan saya jadi lupa bagaimana sulitnya hdup itu. Atau mungkin juga karena telah terbiasa dengan kesulitan hidup sehingga menjadikan pola pemikiran saya menganggap bahwa yang sulit itu malah menjadi suatu kelayakan hidup, bisa jadi juga. Orang yang terbiasa bepergian dengan berjalan kaki terus menerus setiap hari pastinya akan meraa bahagia dan mudah jika mendpatkan track perjalanannya setiap hari berubah menjadi suatu turunan, lebih gampang melewatinya dibandingkan tanjakan. Atau mungkin menemukan rute perjalanannya sudah menjadi jalan yang bagus tanpa ada lubang di jalan. Yang demikian saja sudah cukup membuatnya lega dan merasa bahagia. Bisa kamu bayangkan bagaimana jika suatu hari ia diperkenalkan dengan kendaraan yang bisa membawanya lebih cepat dan nyaman. Bisa bengong dan terkaget-kaget mungkin si orang ini. Pada akhirnya yang menentukan adalah pembiasaan atau adaptasi diri juga. Ada juga orng yang karena terbiasa berkendara dengan sepeda motor hingga suatu saat harus mengendarai mobil malah merasa gak nyaman dan mabok di jalan. Ada juga yang karena terbiasa tinggal di rumah petak kecil hingga suatu saat harus menginap di hotel berbintang malah jadi gak bisa tidur pulas. Ada juga orang yang terbiasa memperoleh penghasilan dengan bekerja keras dan banting tulang untuk mendapatkan beberapa lembar uang hingga suatu saat mendapat penghasilan besar malah menjadi stres dan hilang akal. Benar bukan?


Entah sejak kapan saya jadi lupa bagimana sulitnya hidup itu. Apakah salah seorang kuli bangunan mengharapkan suatu saat kerja di kantoran ber AC ? Apa salah seorang tukang jamu yang membawa bakul berat dengan berjalan seharian berharap bisa mengendarai sedan ? Terus apakah salah juga jika kita memperjuangkan apa yang ada dalam hati? Apakah semua ini hanya akan selalu berakhir dengan suatu pengrelaan? Tidak bisakah kita hidup tanpa harus terluka dan merana? Setidaknya jika memang harus kehilangan saya harap kepada MU, Tuhan, Jangan dia yang harus saya relakan, jangan dia yang harus hilang dari hidup saya. Engkau boleh ambil semua kekayaan yang saya punya, ambil sisa hidup yang saya miliki, pisahkan berjuta-juta mil dengannya layaknya Kau pisahkan Adam dan Hawa dahulu kala. Tapi tolong janjikan pertemuan kembali dengannya. Jangan dia yang harus saya relakan. Itu saja.

No comments:

Post a Comment