Setahun yang lalu...
"Hei, Kita berpisah di sini. Sekarang saya harus pergi lagi. Kau akan baik-baik saja,kan?," dia berujar kepadaku dengan pandangan lurus menusuk sanubari. Entah kenapa setiap bertemu dengannya serasa diri ini mampu ia telanjangi. Sehingga mudah bagi hati untuk menumpahkan semua problema yang ada.
"Yeah, Saya akan baik-baik saja. Pergilah. Rasanya saya sekarang sudah cukup kuat untuk bertahan."
Demikian aku meyakinkannya. Sejujurnya berlawanan sekali dengan apa yang ada di hati. Kuat? Satu kata ini ternyata belum bisa didefinisikan oleh jiwa ragaku. Aku cuma mencoba untuk meyakinkannya bahwa semua bantuan yang telah kuperoleh darinya selama ini telah banyak menempa diriku menjadi pribadi yang lain, pribadi yang kuat pikirku. Oke, saya sedikit berbohong. Dan Aku sadari bahwa dia menyadarinya.
Dia tersenyum, aku ingat kali senyumnya saat itu. Bahkan jumlah awan yang berarak sore itu pun aku masih mengingatnya. Senyum seseorang yang tak ingin pergi namun harus pergi. Ia mencoba menguatkanku dengan tatapannya, mencoba menghiburku, mengeluarkan potensi yang selama ini ia katakan tertimbun jauh di dasar jiwaku. Dia bilang telah kulupakan semua potensi itu. Like I have.
"Baiklah, di sini kita berpisah. Aku yakin kau akan baik-baik saja. Hm, tahun depan jika berjodoh kita akan bertemu lagi.." Ujarnya kemudian di ujung senyum sendunya.
"Yeah,tahun depan..mungkin." Jawabku.
"Boleh ku tahu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini? "
Lama ku terdiam.
"Hm, sama seperti malam-malam sebelumnya. Mencoba untuk menguasai dunia..", ku coba berkelakar seperti cuplikan dialog film kartun pinky and brain.
Dia tetap tersenyum. Tak berubah, seolah menunggu kata-kata berikutnya keluar dari mulutku.
"Hm, tenang saja. aku pasti akan menjadi lebih kuat lagi,kok. Bantuanmu telah banyak artinya bagiku. Jadi serahkan sisanya padaku. Aku pasti bertahan, dan kalau bukan karena ajal aku pasti akan menemuimu lagi segera entah di belahan bumi mana lagi kita bertemu. Setidaknya tidak akan berakhir di acara TV tentang kriminalitas,deh." Lanjutku
"Kau kuat. Kau harus tahu itu. Tuhan pasti punya alasan mengapa memberi ujian seperti ini. Dulu, dulu sekali, telah banyak pula orang-orang yang kutemui yang mengalami ujian hidup seperti ini, bahkan lebih. Dan mereka berhasil keluar dengan kemenangan di hatinya..."
"...kau pun pasti bisa. Aku yakin itu. "
Dirangkulnya tubuhku, erat. Begitu eratnya sampai getaran tubuhku menahan tangis ini terasa olehnya. Dan angin seolah tahu isi hatiku saat itu menari gemulai diantara pepohonan, menyejukkan suasana. Mentari telah pula akan terbenam di barat ketika semua itu terjadi.
"Aku pergi, yah. Sampai jumpa lagi. Jaga diri selalu."
Kata-kata terakhir darinya dan ia pun berlalu. Sekejap terbersit di hatiku, kami tak kan pernah bertemu lagi.
Hari ini..
Dia datang lagi. Dengan senyuman yang sama. Bahkan kupikir sepertinya aku ditarik ke masa setahun yang lalu. Teman lamaku. Bertemu lagi kami akhirnya. Semua tentangnya mengalir deras dalam ingatanku. Sebulan ke depan lagi aku kan bersama dengannya.
Dia Ramadhan.
No comments:
Post a Comment