Sewajarnya mimpi itu hadir ketika seseorang tertidur. Maka Berceritalah saya tentang mimpi, kepunyaan saya pastinya. Namun ini semua terlahir bukan dari buah lelap bergelung selimut beralaskan bantal di kepala. Bukan. Ini mimpi yang terlahir dari mata yang terang terbuka. Dari kesadaran yang seutuhnya hadir. Hanya saja untuk mengingatnya akan terasa bermakna jika saya pejamkan mata. Hm..
Alkisah, terdapatlah malam yang dengan angkuhnya merangkuh dunia dalam gelapnya. Bulan adalah pembantu setianya, yang sengaja ia bebaskan dari perbudakannnya untuk memperjelas keberadaannya di singgasana. Dan bintang sebanyak apapun mereka bergemintang tak lain dan tak bukan hanyalah kaum terisolir yang tak berani mengambil kuasa darinya, dari malam. Maka memilih mereka untuk menjauh sejauh-jauhnya hingga butuh cahaya untuk menjadi satuan ukur keberadaan mereka. Mereka banyak, cuma tak berani mendekat. Hanya sesumbar kata-kata ego saja yang dikenal oleh semua, bahwa mereka terang, bahwa mereka raksasa penguasa cahaya, bahwa keberadaan mereka akan membakar semua. Tapi itu hanyalah sesumbar, setidaknya bagi kami. Kalian tak pernah ada di sini. Kalian jauh di sana, hanya menunjukkan letak pengharapan yang membuat kami berharap dan menggantungkan cita kami pada kalian. Bahkan cahaya kalian pun tak pernah ada bagi kami. Itu pula yang ingin kalian banggakan. Itu pula yang kami jadikan tempat bergantung. Tidak. Pada akhirnya sebagaimana awalnya kami pun harus pula mengalah. Pada malam, pada kelam yang ia bawa.
Lalu sang penguasa sebagaimana waktu-waktu sebelumnya menunjukkan kedikdayaannya di mata kami semua. Ia telan sang surya yang menjadi pahlawan kami satu-satunya, yang begitu kami banggakan dan harukan ketika pertama bersua. Sekarang telah pula kami terbiasa, karena sekejap ia berjaya sekejap pula ia menderita. Kalah yang terus berulang-ulang. Sama dengan kami, harapan kami tepatnya. Hilang timbul. Sampai-sampai itu semua menjadi tontonan saja bagi kami, tiada yang spesial lagi. Sial.
Namun kali ini ada yang berbeda. Malam terasa tak terasa. Bisakah dirimu membayangkannya? merasakan sesuatu yang tak terasa. Menyadari sesuatu yang tiada. Kenisbian yang berwujud. Apalah kalimatnya bagimu. Ada yang hilang, sirna. Bukan derita dan luka yang dibawanya, bukan. Pun bukan pula bahagia dan jumawa yang membahana, bukan juga. Tapi ia mengalir seakan menghanyutkan materi paling penting yang membangun ini semua. Bagaikan tenggelam di udara. Penyebabnya?
Tak tahu lah saya. Mungkin kerana bintang yang telah terlalu jauh mengambil jarak, mungkin karena bulan yang ragu tuk terus terbelenggu dan memilih menjauh bersatu dengan kumpulan gemintang. Mungkin kerana sang surya yang menyerah kalah dan tenggelam buat terakhir kalinya di ufuk barat senja ini. Mungkin malam yang telah pula kehilangan tempat ia berkuasa, tempat ia menunjukkan kemahaannya. Tempat ia mengungkung semua dalam kelam.
Mimpi apa sebenarnya yang seperti ini? Aneh pula kedengarannya, apalagi kelihatannya. Begitulah, sekaing anehnya sampai ketika terjaga kelu rasanya lidah tuk berkata, bahkan tuk mengingatnya saja serasa gila.
Kenyataan. Itu lah pula yang membuyarkan semuanya. Menjadikannya lenyap menyatu dengan semesta dan menujukkan keadaan nyata. Nyata sudah semuanya. Apa ? masih jugakah tak sadar dan tak mau menerima? Nanti kudatangi lagi kamu dengan mimpi tentang kekalahan malam sekaligus kegagalan terang. Tentang menjauhnya bintang-bintang dan lenyapnya bulan. kamu pasti takut, berlari sekencang-kencangnya ke peraduan, menutup sekujur tubuh yang berkeringat dingin namun tetap menjaga mata agar terbuka.
Semoga ada yang mengerti ini semua.
No comments:
Post a Comment